Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
[Gambar/slide penjelasan lengkap untuk tulisan ini bisa dilihat di instagram @sugilanus]
Ilmu gaib atau kebatinan di Bali dibagi menjadi 2 pokok: KAWISESAN dan KADYATMIKAN.
KAWISESAN
Ilmu gaib atau batin yang berhubungan dengan hidup keduniawian; dengan tujuan memupuk kekuatan diri demi menunjang tujuan-tujuan duniawi.
KADYATMIKAN
Ilmu tuntunan untuk melakukan renungan suci dan teknik meditasi untuk menyatukan badan, jiwa, dengan Atma, tidak bertujuan untuk keduniawian, tetapi kemanunggalan atau kesunyataan.
Kawisesan dibagi menjadi 2 pokok, yaitu:
KAWISESAN KIWA
Ilmu batin yang tujuannya semata-mata untuk menguatkan diri, mengubah diri, dan menambah kewibawaan duniawi. Kadang bertujuan untuk mempertahankan diri, sebagian untuk menyerang pihak lain, demi kejayaan atau keunggulan diri di depan orang lain atau masyrakat luas. Lebih pada tujuan penguasaan dan penaklukan.
KAWISESAN TENGEN
Ilmu batin yang tujuannya untuk membantu orang sakit, membantu orang agar tidak terserang Kawisesan Kiwa, memproteksi diri dan orang lain, yang menjadi korban. Lebih untuk tujuan defensif, namun juga kadang memperkerjakan roh atau mahkluk halus yang punya persyaratan dan sesaji untuk terus bisa melindungi. Kawisesan Tengen bertujuan untuk melepaskan diri dari penguasaan dan penaklukan oleh pihak penguasa Kawisesan Kiwa. AJI WEGIG (ILMU JAHIL) masuk dalam kelompok Kawisesan Kiwa.
Kawisesan Tengan dan Kiwa tidak disebut sebagai ILMU PUTIH dan ILMU HITAM – tetapi orang sering menyamakan dengan pembagian hitam-putih itu. Ilmu gaib di Bali tidak dibagi atas hitam-putih, tapi oleh motivasi dan prana atau energi yang dipergunakannya.
DARI MANA SUMBER ENERGI KIWA & TENGEN?
Pikiran dan ego yang menjadi pemain utamanya. Jika bekerjasama atau menggunakan PRANA LUAR (bhuta-prana) maka akumulasi energi yang muncul menjadi Kawisesan Kiwa.
Jika bekerjasama atau menggunakan PRANA DALAM (dewa-prana) maka akumulasi energi yang muncul menjadi Kawisesan Tengen.
Ego memainkan peran sangat signifikan.
Tanpa ego, baik prana luar dan prana dalam tidak akan bekerja.
Kawisesan Kiwa dan Tengen menjadi "permainan duniawi" tanpa kesudahan semasih manusia berulat dengan ahamkara-nya. Keakuan dan kegemaran mencari pengakuan orang lain, atau pengakuan dari luar diri, mendorong orang mempelajari kawisesan.
Jika manusia telah selesai dengan dirinya, tidak butuh pengakuan luar dirinya, tidak lagi peduli pengakuan orang lain, ia akan merindukan sesuatu yang bersumber "di dalam tengah diri sendiri" — SANGKAN PARANING DUMADI.
Manusia yang rindu dirinya, rindu kesejatiannya, rindu akan jagat dan kesemestaan diri yang ada di dalam dirinya, akan dengan sendirinya terhantar masuk ke AJI ADYATMIKA — Kadiatmikan.
Ādhyātmika mengacu pada "kesedihan batin", "rindu batin", "text batin", "perih batin" — adalah jalan mengobati diri yang rindu akan jiwātama atau esensi dirinya.
Dari lontar-lontar Bali kita melihat warga dunia terbelah menjadi dua jenis manusia:
— Manusia Kawisesan: Manusia yang mengejar pengakuan dan kemenangan di depan orang lain atau duniawi.
— Manusia Ādhyātmika: Manusia yang telah selesai dengan urusan mencari kemenangan di depan manusia lain, tapi menenggok ke dalam dirinya, mengobati rindu perihnya diri pada esensi kehidupan yang paling hakiki — Tidak pamer menjalani hidup rohaninya, hidup diisi dengan upaya pencarian rohaniah ke dalam yang tidak perlu pengakuan dari luar.
Kitab-kitab utama di Bali mengajak pembacanya untuk tidak berhenti pada KIWA-TENGAN, tidak berhenti pada kalah dan menang urusan keduniawian. Jika masih terjebak kalah menang dan masih sebatas ingin membuktikan diri lebih hebat atau unggul dibandingkan manusia lain, manusia seperti ini DIKUTUK tidak akan pernah menemukan kedamaian hati. Ia dihantui kekalahan sekalipun telah menang. Kepuasannya sementara. Karena kepuasan diri dari pengakuan orang lain adalah nista dan sementara.
Kitab-kitab utama di Bali mengajak pembacanya mencari esensi diri, berhenti berebut pepesan kosong — BALUNG TANPA ISI. Kitab-kitab utama di Bali mengajak pembacanya tidak mengejar JAGAT-BHUTA, tapi JAGAT-HITA. Terus-menerus meningkatkan welas-asih ke semua makhluk dan mengupayakan diri untuk masuk kedalam diri sendiri, berjumpa JIWĀTMA dan manunggal dengan Hyang Tunggal — MOKSARTAM.
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...