Cakepung, seni khas dari Kabupaten Karangasem, adalah seni olah vocal yang kemudian dikombinasikan dengan tari. Seni ini mirip dengan genjek yang dipercaya berasal dari Buleleng.
Cakepung dipentaskan oleh Sanggar Seni Citta Wistara, Banjar Dinas Tri Wangsa, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem, dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (6/7/2022) sore.
Nah, pada pentas pada ajang PKB itu, Cakepung tak hanya menonjolkan olah vokal dan seni tari. Cakepung juga diiringi dengan lantunan musik rebab dan suling, serta gamelan khas Karangasem bernama penting.
Penampilan mulanya diawali dengan membaca cakepan lontar dan diartikan oleh seorang pengartos. Lambat laun, suasana kemudian ramai oleh puluhan orang yang beradu vocal atau biasa disebut megenjekan untuk mengiringi jalan cerita sendratari yang akan diambil.
Antara megenjekan, alunan musik, penari dan dalang sebagai pengantar cerita menyatu dalam penampilan tersebut dan mendapat apresiasi dari penonton.
Foto: Cakepung dipentaskan oleh Sanggar Seni Citta Wistara, Banjar Dinas Tri Wangsa, Desa Budakeling,
Cerita yang dibawakan pada pentas cakepung itu juga menarik. Ada tiga orang raja bersaudara, masing-masing menjadi raja di Indrapandita, di Layangsari, dan di Indrasekar.
Raja di Indrapandita mempunyai sembilan putri dan paling bungsu putri paling cantik bernama Diah Winangsia. Putri ini sering difitnah oleh kakaknya sehingga raja marah dan mengasingkannya di taman dengan ditemani inang pengasuhnya yang bernama Inaq Rangda.
Sementara itu raja di Indrasekar mempunyai dua orang putra, yang sulung bernama Raden Kitap Muncar, yang bungsu bernama Raden Witarasari (Raden Una). Mendengar kesengsaraan yang diderita oleh Diah Winangsia, maka Raden Una menuju ke Indrapandita dengan menyamar sebagai seekor kera/monyet. Kemudian sang kera menghambakan diri kepada Diah Winangsia serta berusaha menolong keluar dari berbagai kesulitan dan kesenangan yang dialami.
Kehidupan seekor monyet dengan seorang gadis remaja cantik, tidur bersama, pergi mandi bersama, bermain bercanda, menjadikan kisah cerita dibagian ini menarik. Setelah beberapa lama berlangsung kedok penyamaran Raden Una diketahui oleh Diah Winangsia, akhirnya Raden Una menjelaskan bahwa dia mencintai Diah Winangsia dan hidup berbahagia di kerajaan tersebut untuk menggantikan ayahnya.
Sejarah
Koordinator Pementasan Cakepung, Ida Made Basmadi menyampaikan, Tradisi Cakepung memiliki sejarah yang sangat erat dengan keberadaan Suku Sasak di Lombok, yaitu saat keberhasilan Kerajaan Karangasem memberikan pengaruhnya ke Lombok.
“Sekilas sejarahnya berasal dari sejarah pada saat kerajaan Karangasem berhasil pengaruhnya sampai ke Sasak, Lombok. Kemudian dengan keberhasilannya Suku Sasak tersebut, budayanya pun dipelajari di sana. Ada budaya Sasak disebut dengan cepung,” kata Ida Made Basmadi.
Budaya yang didapatkan di Lombok itu tidak serta-merta dibawa langsung ke Karangasem. Namun dari leluhurnya terdahulu mengubah tradisi cepung tersebut dengan memasukan seni suara. Salah satunya adalah macepat, seperti pupuh sinom, semarandana dan lain sebagainya.
“Leluhur kami almarhum Ida Wayan Tangi mengubah cepung itu dengan memasukan dengan macepat. Sehingga cakepung merupakan dari cakep lontar, kemudian diisi dengan tempo pong. Itu versi saya, namun banyak yang menafsirkan cakepung dari peperangan. Yaitu pacek dan kepung yang berarti diserang,” imbuh Basmadi.
Foto: Cakepung dipentaskan oleh Sanggar Seni Citta Wistara, Karangasem
Musik yang dipakai pun saat ini sudah dikembangkan. Dulunya hanya mengandalkan suara dan suling. Bahkan sulingnya pun memiliki ciri khas tersendiri, dimana lubangnya hanya lima. Termasuk para penarinya juga sekarang masih memerlukan generasi yang baru. Bahkan yang ingin menekuni setidaknya gemar untuk menari dan mempertahankan tradisi Cakepung itu sendiri.
“Saat ini ada yang ditampilkan sebanyak 36 orang. Cakepung itu sendiri seni suara mulut dan alat musik. Sisanya para penari, secara umum penggaliannya ini menjadi kendala karena beberapa dari pada anggota Cakepung terdahulu sudah menjadi sulinggih. Ini generasi ke sekian,” katanya.
Ida Basmadi menambahkan dalam pementasan ini hampir full olah vokal. “Sehingga saat pentas maupun latihan yang penting ada air. Kami pentas selama 1,5 jam lebih terus mengeluarkan vocal. Maka itu bisa dikatakan tantangan pemain cakepung,” kata Basmadi.
Menurut Ida Made Basmadi, pelestarian seni Cakepung saat ini tetap bertahan di Desa Budakeling. Secara turun -temurun pelestariannya dan dipentaskan di Budakeling ketika ada hajatan atau ada upacara hajatan seperti naur sesangi.
"Ada juga digunakan naur sesang Seperti upacara bayi yang kepus puser atau yang berumur 12 hari. Kemudian pada saat upacara manusa yadnya, termasuk pada pitra yadnya di tempat orang meninggal. Ada orang begadang atau yang disebut dengan magebangan saat orang meninggal itu juga bisanya dipentaskan cekepung ini,” terangnya.
Kalau pentas di pura juga sempat. Saat itu ada orang yang membayar kaul dengan mementaskan Cakepung di salah satu pura di wilayah Ababi.
Dia juga mengatakan secara umum klasifikasi Cakepung ini dalam balih-balihan. Namun menurutnya saat ini masih abu-abu, sebab di dalam pementasannya masih masuk unsur lontarnya.
“Lebih ke sosial masyarakat interaksi bergaul ketika salah satu keluarga punya hajatan. Di sana tempat sanak keluarga berkumpul, otomatis mementaskan tradisi Cakepung itu sendiri,” kata Basmadi. [T][Ado/*]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...