Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
Akademisi Institut Seni Indonesia Denpasar Drs. I Wayan Gulendra, M.Sn., mengatakan para perupa Bali telah sejak zaman dahulu mewariskan karya-karya yang memberikan penghargaan dan penghormatan secara emosional terhadap air.
"Toya Stilistika Rupa merupakan gaya bahasa rupa yang mengeksplorasi makna air sebagai sumber gagasan untuk mengekspresikan tentang keagungan dan keunikan karakter air sebagai sumber-sumber kehidupan," kata Gulendra di Denpasar, Jumat 1 Juli 2022.
Gulendra menyampaikan hal tersebut dalam Widyatula (sarasehan) Seni Rupa Toya Stilistika Rupa serangkaian Pesta Kesenian Bali ke-44 yang digelar secara daring dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali itu.
Ia menyebut lukisan dari para penglingsir (tetua) Bali yang menekankan penghormatan terhadap air, dapat ditemukan dalam lukisan klasik Wayang Kamasan dari Kabupaten Klungkung, Bali.
"Dalam gaya lukis Wayang Kamasan memberikan suatu pencerahan dan penghormatan terhadap air yang disebut hulu. Bagaimana air demikian disucikan dalam sebuah lukisan," ucap Gulendra yang juga telah berpameran ke sejumlah negara itu.
Wayang Kamasan yang menceritakan Pemutaran Mandara Giri, menjadi salah contoh lukisan Wayang Kamasan yang memberikan gambaran kepada masyarakat bagaimana menghormati air.
Dalam Wayang Kamasan bahkan sudah memiliki pakem tertentu, karena pesan nilai dari air itu sebagai suatu konvensi yang disepakati masyarakat secara kolektif.
Selain itu, dalam lukisan tradisional Gaya Ubud dengan judul Nawa Segara karya I Dewa Nyoman Leper, juga menjadi contoh lukisan yang mengangkat penghormatan terhadap air.
"Jadi, para pendahulu kita sesungguhnya sudah memberikan pesan agar kita tidak semena-mena menggunakan air apalagi mengeksploitasi. Bagaimana kita mengendalikan diri dalam proses pemanfaaatan air dengan baik," ujarnya.
Kemudian dalam seni rupa modern, penelusuran terhadap makna-makna air, secara individual sesuai dengan bahasa ungkap masing-masing.
"Di sana ada gaya pribadi atau gaya individu, mereka bebas berekspresi sesuai dengan fenomena yang dihadirkan oleh air," katanya.
Contoh seni rupa modern yang mengangkat perihal air dapat dijumpai dalam lukisan gaya kontemporer berjudul The Ultimate Sail karya I Wayan Kun Adnyana, lukisan berjudul Cosmic Energy Flow karya I Wayan Karja dan masih banyak lainnya.
Terkait efektif tidaknya karya seni rupa dalam menyampaikan pesan pemuliaan air, menurut Gulendra, tergantung bagaimana masyarakat mengapresiasi terhadap bahasa simbol yang ditampilkan dalam karya seni rupa.
Sebuah gambar, lanjut dia, tidak semata-mata mereka itu mentransfer apa yang dilihat oleh mata, tetapi apa yang dirasakan tentang objek, memindahkan suatu perasaan dalam suatu media.
"Jadi, mari kita apresiasi bersama sumber-sumber simbol yang telah diwariskan para penglingsir kita, termasuk para perupa modern," katanya.
Sementara itu, Drs. I Gusti Nengah Nurata, M.Sn., selaku narasumber berikutnya, banyak membahas tentang karya seni lukis modern Indonesia yang membahasarupakan perihal air.
Pendiri Nurata Fine Art Studio, Surakarta, ini memaparkan contoh-contoh karya lukis modern yang terinspirasi atau seputar keberadaan air, meliputi suasana air, karakter air, irama air, dinamika air dan energi air. Selain itu ada pula lukisan yang terinspirasi peristiwa terkait air.
Nurata menjelaskan sampel karya seni lukis modern, seperti ciptaan Lucia Hartini, Made Sumadiyasa, Endro Banyu dan Yudo Prasetyo, yang olah cipta unsur visual airnya berciri khas personal sebagai cerminan gaya bahasa/stilistika rupa personal. [T][Ado/*]
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak perempuannya yang masih mengenakan busana Tari Puspanja...
LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi salah satu upaya konkret dalam menjaga keb...
DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan Indonesia, melalui release beritanya, Kemen...
SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan. Belakangan, sorotan terhadap anggaran bes...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi sangat menyedikan, semua ga...
DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan hampaD...
BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini sedang berhadapan dengan mas...
KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin merasakan keindahan alam Bali yang...
SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi 1998 seiring...