Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
Akademisi Institut Seni Indonesia Denpasar Drs. I Wayan Gulendra, M.Sn., mengatakan para perupa Bali telah sejak zaman dahulu mewariskan karya-karya yang memberikan penghargaan dan penghormatan secara emosional terhadap air.
"Toya Stilistika Rupa merupakan gaya bahasa rupa yang mengeksplorasi makna air sebagai sumber gagasan untuk mengekspresikan tentang keagungan dan keunikan karakter air sebagai sumber-sumber kehidupan," kata Gulendra di Denpasar, Jumat 1 Juli 2022.
Gulendra menyampaikan hal tersebut dalam Widyatula (sarasehan) Seni Rupa Toya Stilistika Rupa serangkaian Pesta Kesenian Bali ke-44 yang digelar secara daring dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali itu.
Ia menyebut lukisan dari para penglingsir (tetua) Bali yang menekankan penghormatan terhadap air, dapat ditemukan dalam lukisan klasik Wayang Kamasan dari Kabupaten Klungkung, Bali.
"Dalam gaya lukis Wayang Kamasan memberikan suatu pencerahan dan penghormatan terhadap air yang disebut hulu. Bagaimana air demikian disucikan dalam sebuah lukisan," ucap Gulendra yang juga telah berpameran ke sejumlah negara itu.
Wayang Kamasan yang menceritakan Pemutaran Mandara Giri, menjadi salah contoh lukisan Wayang Kamasan yang memberikan gambaran kepada masyarakat bagaimana menghormati air.
Dalam Wayang Kamasan bahkan sudah memiliki pakem tertentu, karena pesan nilai dari air itu sebagai suatu konvensi yang disepakati masyarakat secara kolektif.
Selain itu, dalam lukisan tradisional Gaya Ubud dengan judul Nawa Segara karya I Dewa Nyoman Leper, juga menjadi contoh lukisan yang mengangkat penghormatan terhadap air.
"Jadi, para pendahulu kita sesungguhnya sudah memberikan pesan agar kita tidak semena-mena menggunakan air apalagi mengeksploitasi. Bagaimana kita mengendalikan diri dalam proses pemanfaaatan air dengan baik," ujarnya.
Kemudian dalam seni rupa modern, penelusuran terhadap makna-makna air, secara individual sesuai dengan bahasa ungkap masing-masing.
"Di sana ada gaya pribadi atau gaya individu, mereka bebas berekspresi sesuai dengan fenomena yang dihadirkan oleh air," katanya.
Contoh seni rupa modern yang mengangkat perihal air dapat dijumpai dalam lukisan gaya kontemporer berjudul The Ultimate Sail karya I Wayan Kun Adnyana, lukisan berjudul Cosmic Energy Flow karya I Wayan Karja dan masih banyak lainnya.
Terkait efektif tidaknya karya seni rupa dalam menyampaikan pesan pemuliaan air, menurut Gulendra, tergantung bagaimana masyarakat mengapresiasi terhadap bahasa simbol yang ditampilkan dalam karya seni rupa.
Sebuah gambar, lanjut dia, tidak semata-mata mereka itu mentransfer apa yang dilihat oleh mata, tetapi apa yang dirasakan tentang objek, memindahkan suatu perasaan dalam suatu media.
"Jadi, mari kita apresiasi bersama sumber-sumber simbol yang telah diwariskan para penglingsir kita, termasuk para perupa modern," katanya.
Sementara itu, Drs. I Gusti Nengah Nurata, M.Sn., selaku narasumber berikutnya, banyak membahas tentang karya seni lukis modern Indonesia yang membahasarupakan perihal air.
Pendiri Nurata Fine Art Studio, Surakarta, ini memaparkan contoh-contoh karya lukis modern yang terinspirasi atau seputar keberadaan air, meliputi suasana air, karakter air, irama air, dinamika air dan energi air. Selain itu ada pula lukisan yang terinspirasi peristiwa terkait air.
Nurata menjelaskan sampel karya seni lukis modern, seperti ciptaan Lucia Hartini, Made Sumadiyasa, Endro Banyu dan Yudo Prasetyo, yang olah cipta unsur visual airnya berciri khas personal sebagai cerminan gaya bahasa/stilistika rupa personal. [T][Ado/*]
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...