‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba yang memilih kisah Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben, sebagai tema garapan. Padahal, sejak awal lomba itu digagas dengan tujuan cukup strategis, yakni untuk memperkenalkan kisah Ibunda Bung Karno itu melalui seni pertunjukan.
Lomba fragmentari itu digelar Senin-Selasa malam, 27-28 Juni 2022. Peserta yang diundang dan diharapkan ikut adalah SMA/SMK di Buleleng. Namun lacur, dari sekian banyak SMA/SMK di Buleleng, hanya lima yang mendaftar jadi peserta. Kelima SMA/SMK itu adalah SMA N 2 Banjar, SMAN 1 Sukasada, SMAN 3 Singaraja, SMAN 1 Singaraja, dan SMAN 4 Singaraja.
Panitia memberi sejumlah pilihan tema untuk digarap sebagai materi fargmentari. Tema pilihan itu adalah Nyoman Rai Srimben (Ibunda Bung Karno), Puputan Jagaraga, Perang Banjar, dan Jaya Prana dan Layon Sari.
Yang membuat agak miris, tidak ada satu pun peserta memilih tema Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben, sebagai bahan garapan fargmentari. Mereka lebih banyak memilih tema lain.
SMA N 2 Banjar menggarap karya Keris Ki Lebah Pangkung, SMAN 1 Sukasada menggarap Jayaprana Layonsari, SMAN 3 Singaraja mengagrap Jayaprana Layonsari, SMAN 1 Singaraja menggarap karya berjudul Sura Magada, sekuel dari Perang Banjar, dan SMAN 4 Singaraja juga menggarap Jayaprana Layonsari.
Pertanyaan sekarang, kenapa tak ada satu pun peserta yang memilih tema Nyoman Rai Srimben? Seorang sumber mengatakan, peserta konon takut menggarap tema Nyoman Rai Srimben karena takut salah.
Jika benar peserta takut menggarap kisah Nyoman Rai Srimben karena alasan takut salah, maka hal itu bisa disebut sebagai kemunduran kreativitas. Seniman Buleleng sejak dulu menunjukkan keberanian dalam mencipta hal-hal baru di dunia kesenian. Tengok bagaimana seniman ukir Buleleng berani membuat ukiran orang naik sepeda di Pura Meduwe Karang, atau menciptakan ukiran-ukiran mobil di Pura lain di Buleleng.
Gde Manik dikenal sebagai maestro seni karena keberaniannya menciptakan tabuh dan tari-tarian kekebyaran yang berbeda dengan jenis-jenis tarian lain di Bali. Banyak seniman Buleleng punya keberanian besar untuk menciptakan karya-karya baru yang unik. Dalam hal drma gong misalnya, Buleleng cukup berani mengambil kisah yang berbeda dari drama gong yang ada sekitar tahun 1980-an.
Saat itu banyak drama gong mengambil kisah-kisah Panji, namun Drama Gong Puspa Anom Banyuning justru mengambil kisah yang bersala dari Tionghoa, Sam Pek Ing Tay, untuk diramu menjadi kisah drama gong. Dan pada masa itu drama gong Puspa Anom dikenal bukan saja di Bali, namun juga hingga ke Lombok.
Memperkenalkan Rai Srimben, Ibunda Bung Karno
Jika tak salah ingat, ide untuk membuat lomba diawali ketika Pemkab Buleleng ingin memperkenalkan Nyoman Rai Srimben yang dikenal sebagai Ibunda Bung Karno, melalui kesenian tradisional maupun kesenian modern.
Apalagi, rumah Nyoman Rai Srimben di Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Singaraja, ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah. Selain itu, Buleleng juga sudah membangun Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno di wilayah Sukasada.
Nah, pada saat launching RTH Taman Bung Karno diisilah berbagai acara untuk memperkenalkan taman itu sekaligus memperkenalkan sejarah bangsa kepada generasi muda, bahwa Bapak Proklamator RI Ir. Soekarno punya ibu bernama Nyoman Rai Srimben, dan ibunya itu berasal dari Buleleng, tepatnya di Bale Agung.
Saat lanching itu, digagaslah dua lomba. Pertama lomba teater modern untuk siswa SMP dan lomba fragmentari untuk siswa SMA. Lomba teater dan fragmentari itu diwajibkan menampilkan kisah Nyoman Rai Srimben yang menikah dengan Raden Soekemi dan melahirnya anak bernama Soekarno.
Namun entah kenapa, hanya teater modern yang bisa dilangsungkan saat itu. Lomba teater modern berlangsung sukses dengan 14 peserta dan selalu dipenuhi penonton di stage terbuka Taman Bung Karno. Lomba fragmentari ditunda, salah satu penyebabnya mungkin karena tak ada yang mendaftar sebagai peserta.
Lomba fragmentari itu kemudian dilangsungkan pada Bulan Bung Karno dengan hanya lima peserta. Panitia, dengan pertimbangan tertentu, tak mewajibkan peserta untuk mengangkat kisah Nyoman Rai Srimben. Panitia memberikan tema lain juga untuk bisa dipilih. Dan, sebagaimana dikatakan pada awal tulisan ini, tak ada satu pun peserta memilih tema Nyoman Rai Srimben. Padahal, sejak awal lomba itu dimaksudkan untuk memperkenalkan kisah cinta Nyoman Rai Srimben sampai akhirnya melahirkan Sang Proklamator.
Penampilan yang Menarik
Sesungguhnya, untuk ukuran anak SMA/SMK, lima peserta dalam lomba fragmentari di Taman Bung Karno semuanya tampail menarik. Baik sekaa gong sebagai pengiring, maupun penari di atas pentas, semua menunjukkan kualitas garapan yang bagus.
SMAN 1 Singaraja dan SMAN 4 Singaraja, misalnya, yang tampil pada Selasa malam, mampu membuat penonton terpukau. SMAN 1 yang membawakan kisah Sura Magada berhasil mendedahkan kisah dengan amat apik melalui dramatari di atas panggung. SMAN 4 Singaraja yang membawa kisah Jayaprana Layonsari juga tak kalah menarik. Sejumlah penonton bahkan menonton dengan sangat antusias, tegang dan sedih, setiap adegan ketika Jayaprana diajak ke hutan oleh Patih Saunggaling untuk dibunuh.
Dengan kemampuan anak-anak seperti itu, rasanya tak ada alasan untuk takut untuk mengggarp lakon baru, yakni Kisah Cinta Rai Srimben, Ibunda Bung Karno. Dengan kemampuan penabuh dan penari yang mumpuni seperti itu, sepertinya kisah Nyoman Rai Srimben akan hidup dalam sebuah seni pertunjukan, dan Buleleng akan memiliki satu lagi kisah baru untuk diolah dalam berbagai seni pertunjukan, bahkan suatu saat bisa diperkenalkan dalam ajang yang lebih besar semacam Pesta Kesenian Bali.
Sayangnya, tak ada yang memilih kisah Rai Srimben. Jika benar alasannya karena takut, sesungguhnya siapakah yang takut? Anak-anak yang akan menari dan menabuh, atau penggarap atau pelatihnya, atau gurunya, atau mungkin panitianya? [T]
Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...