Sekaa Seni Gambuh Desa Adat Padangaji, Kedesaan Peringsari, Kecamatan Selat, Karangasem, tampil memukau di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB), Senin (20/6/2022) sore. Sekaa Gambuh ini sudah beberapa kali tampail di PKB dan selalu eksis turun temurun.
Pada PKB kali ini sekaa itu menampilkan cerita ‘Prabu Teratai Bang’ yang sarat akan pesan kehati-hatian dalam bertindak dan selalu berlandaskan kebaikan dan kebenaran. Ala pidabdabe ala kepanggih, yang bermakna jika meraih sesuatu dengan cara yang buruk, maka keburukan juga yang akan ditemui.
Bendesa Adat Padangaji I Gusti Bagus Dwi Arta menjelaskan, lakon ‘Prabu Teratai Bang’ menceritakan tentang seorang prabu yang berkuasa di Kerajaan Kediri. Prabu Teratai Bang namanya begitu tersohor dan rakyat sangat hormat.
Namun di balik semua itu, Prabu Teratai Bang merasa sedih lantaran tak kunjung dikaruniai keturunan. Tapi dari petunjuk/wahyu yang didapatkannya, diungkapkan bahwa jika Prabu Teratai Bang bisa membunuh Ida Raden Panji Mala Trasmi, maka beliau bisa mendapatkan keturunan.
Foto: Sekaa Seni Gambuh Desa Adat Padangaji, Kedesaan Peringsari, Kecamatan Selat, Karangasem, tampil memukau di PKB 2022
Prabu Teratai Bang lantas mencari cara untuk mengikuti petunjuk tersebut. Didapatkanlah informasi bahwa Ida Raden Panji Mala Trasmi sedang berada di dekat Hutan Dedeket. Saat itu, Ida Raden Panji Mala Trasmi hendak bertemu dengan kekasihnya, Diah Langke Sari.
Tanpa berpikir panjang, Prabu Teratai Bang mencari keberadaan Ida Raden Panji Mala Trasmi dengan cara membakar Hutan Dedeket. Ida Raden Panji Mala Trasmi marah dan terjadi peperangan. Di akhir cerita, Prabu Teratai Bang tewas dikalahkan oleh Ida Raden Panji Mala Trasmi.
“Cerita ini sarat akan pesan, bahwa jika ingin menginginkan sesuatu tapi diraih dengan jalan yang tidak baik alias menyimpang dari Dharma, maka hanya bencana dan kesengsaraan yang akan didapat. Seperti misalnya Prabu Teratai Bang, jika tidak punya keturunan kenapa harus membunuh orang? Sementara jalan lain bisa ditempuh,” ungkap Dwi Arta di sela pementasan.
Adapun seniman yang dilibatkan kemarin mencapai 70 orang. Tak hanya diisi oleh para tetua Desa Adat Padangaji, seniman yang tampil juga kebanyakan generasi muda desa setempat. Hal ini, kata Dwi Arta, merupakan regenerasi secara alami di Desa Adat Padangaji.
Foto: Sekaa Seni Gambuh Desa Adat Padangaji, Kedesaan Peringsari, Kecamatan Selat, Karangasem, tampil memukau di PKB 2022
Dijelaskan, Gambuh Desa Adat Padangaji sudah ada sejak turun temurun dan lestari hingga saat ini. Hal tersebut tak terlepas dari fungsi Gambuh ini sebagai pelengkap upacara. Dalam setahun, setidaknya Gambuh ini dipentaskan sebanyak tiga kali khususnya saat pelaksanaan aci keagamaan.
“Gambuh ini di desa adat kami difungsikan sebagai ilen-ilen Ida Bhatara, pelengkap upacara di setiap ada piodalan. Bisa dikategorikan termasuk kesenian bebali. Biasanya akan dipentaskan pada Aci Purnama Sasih Kelima, Purnama Sasih Kesanga, dan Purnama Sasih Jiyestha,” jelasnya.
Mengenai regenerasi, Dwi Arta mengaku bersyukur karena tidak ada generasi muda di desanya yang sampai meninggalkan kesenian tetamian leluhur ini. Dwi Arta mengungkapkan, hingga saat ini para generasi muda di Desa Adat Padangaji yang memiliki bakat dan potensi, secara sadar ikut serta menjadi bagian pertunjukan Gambuh dan dibina oleh para tetua. Bahkan diakui, pementasan di PKB tahun ini merupakan hasil belajar pertama kali bagi anak-anak muda di sana.
“Khusus untuk persiapan kali ini kami hampir 2,5 bulan. Anak-anak belajar di sini (untuk pentas PKB) padahal sebelumnya belum pernah menari. Mereka mampu, ada bakat dan potensi. Dan kami yang senior tidak terlalu sulit untuk mengajarkan apa yang menjadi warisan-warisan leluhur. Responnya sangat cepat,” pungkasnya sembari berharap pemerintah bisa meningkatkan dana pembinaan untuk kelestarian seni yang ada di desa-desa.[T][Ado/*]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...