Manik Sukadana senyam-senyum di kursi kayu itu. Wajahnya memancarkan kegembiraan¾walaupun sedikit tampak gusar dan berdebar. Ia memegang sebuah bulpoin dan buku catatan. Meyakinkan diri sendiri, bahwa malam itu ia tidak sedang bermimpi.
Ya, malam itu, tepatnya hari Sabtu, 21 Mei 2022, pada acara Tatkala May May May yang digelar tatkala.co di Rumah Belajar Mahima, adalah malam yang menggembirakan, khususnya bagi Manik. Apa pasal? Novel pertamanya yang berjudul Kota Kabut Walli Jing-Kang, dibedah. Memang, salah satu kegembiraan seorang penulis adalah saat karyanya dibicarakan, diapresiasi, dan dianggap penting. Penluis pikir, Makik pun demikian.
Pada kesempatan kali ini, tatkala.co menghadirkan dua pembicara untuk membedah Walli Jing-Kang dan teka-teki di dalamnya. Pembedah pertama, Komang Adnyana, seorang sastrawan; dan kedua, IK Eriadi Ariana atau Jero Penyarikan Duuran Batur, seorang jurnalis. Sementara itu, Anak Agung Ayu Rahatri Ningrat bertugas sebagai moderator.
Foto: Moderator Rahatri dan dua pembedah, Komang Adnyana dan IK Eriadi (Jero Penyarikan Duuran Batur)
Menurut Komang Adnyana, tema yang diangkat Manik ini sangat jarang di dunia sastra Bali¾novel Kota Kabu Walli Jing-Kang memang bertemakan kolosal. “Bagi saya, topik ini menarik untuk digali. Dan berungtung ada Manik yang menuliskan,” kata sastrawan muda ini membuka diskusi.
“Sebagai sebuah novel debut, Manik melampaui ekspektasi awal saya. Penulisannya cukup rapi. Secara ringkas, isu utama yang saya soroti adalah strategi bertutur filosofis yang dipakai sama Manik Sukadana. Di novel ini, isu-isu yang dibahas (berkaitan) dengan isu-isu kemanusiaan, ekologisme, religiusitas. Dan ini disampaikan dengan gaya bertutur filosofis,” tambahnya.
Dalam acara yang bertajuk “Bedah Bedih di Warung Kopi Gajah Mada”, Guna Yasa, seorang pemerhati lontar, juga mengatakan bahwa novel debutnya Manki ini mengandung tiga topik utama, yaitu: Makna Filosofis, Humanis dan Magis Ekologis.
Lebih lanjut, Adnyana menjelaskan tentang bahwa gaya bertutur filosofis ini agak riskan karena begitu banyak dialog; banyak petuah filosofis yang di sampaikan antar beberapa tokoh. Dan dialog itu beberapa kali berulang. Sebenarnya, menurut Adnyana, strategi ini sangat berisiko kebosanan pembaca, tetapi dalam novel ini, Manik cukup berhasil mengakalinya. “Meskipun sebenarnya bisa diperkuat lagi.”
Manik (paling kanan) bersama para pembedah
Kemudian untuk ceritanya sendiri, menurut Adnyana, novel ini memiliki alur cerita yang sederhana. Ada seorang raja yang diserang, lalu mengusi, bertahan, dan merencanakan penyerangan kembali untuk merebut kota Walli Jing-Kang. “Tapi di balik itu, ada yang menarik karena ada kandungan sejarah yang mencoba digali di situ¾walaupun saya agak menjaga jarak dari kaitannya dengan tempat yang mungkin bisa dirujuk (dalam sejarah),” jelas Adnyana.
“Saya menanggapi novel ini sebagai sebuah cerita yang utuh. Sebuah cerita baru yang mengandung nilai-nilai yang penting untuk dicermati.”
Sementara itu, Jero Penyarikan menyampaikan hal yang agak berbeda dengan Adnyana dalam membaca novel yang hampir 300 halaman ini. Menurut Jero, saat membaca novel kolosal ini, ia agak susah menghilangkan perspektifnya terhadap sejarah dalam novel tersebut.
“Karena banyak sekali anasir-anasir yang terkait dengan (sejarah) Kintamani,” Kata penulis buku Ekologisme Batur itu.
Pendapat ini juga pernah disampaikan Guna Yasa. Kata Guna Yasa, sebagaimana dikutip dalam tulisan Jong Santiasa Putra, Manik dan Kabut yang Dicarinya, pengarang berusaha untuk mengacu pada sejarah di Kintamani, terhadap satu cerita Jaya Pangus dan Kang Cing Wi, konfrontasi ini dihadirkan dalam satu penyusunan nama daerah, kisah yang hampir menyerupai, serta deskripsi wilayah yang sangat dekat dengan Kawasan Kintamani.
Bagi Jero Penyarikan, daftar istilah Bali yang ditulis Manik dalam novelnya juga sangat membantu pembaca di luar Bali. Walupun, menurutnya, di sisi lain itu juga bisa menyulitkan pembaca di luar Bali karena harus membolak-balik halaman. “Banyak sekali istilah-istilah Bali yang digunakan. Dalam novel ini, anasir Balinya sangat kuat. Padahal, sebenarnya bisa mencari padanan kata dalam Bahasa Indonesia. Misalnya, damuh, bisa diterjemahkan dengan embun. Pakuleman, tempat tidur. Kemudian tiying, bambu.”
Walupun Jero Penyarikan menganggap bahwa istilah Bali dalam novel ini di satu sisi menyulitkan pembaca, tetapi di sisi lain hal ini jurtu dianggap sebagai kekuatan novel karena banyak merekam istilah Bali. Artinya, secara tidak langsung, Manik mencoba mengabadikan istilah-istilah Bali dalam novelnya.
Selanjutnya, yang membuat Jero tidak dapat mengelak dari sejarah saat membaca novel Kota Kabut Walli Jing-Kang ini, adalah banyaknya kosa kata yang merujuk pada daerah yang bersejarah¾dan kebetulan memang, Jero Penyarikan dan Manik Sukadana berasal dari derah yang sama, Bangli. “Misalnya, Wali Dwipa, dalam pemikiran saya pasti Bali Dwipa. Atau Cintamani Mal. Alas Metaum.”
Selain banyak merujuk pada tempat-tempat di Bangli, Jero juga mengungkapkan bahwa dalam novel ini juga banyak merujuk pada kosakata-kosakata yang terkait dengan irisan sejarah Bali Kuna. Misalnya kata masaka, yang menurut Jero bisa disepadankan dengan kata uang. “Jadi pajak itu dalam prasasti Bali Kuna dibayar dengan masaka.”
Secara umum, Jero Penyarikan sangat menikmati saat membaca novel ini.
Kedek Sonia Piscayanti urun pendapat terkait novel yang sedang didiskusikan. “Pertama, kesan saya membaca novel Manik itu adalah Manik itu sabar, bahasanya mengalir, dia memberikan perspektif lain dari novel-novel yang pernah saya baca.”
Menurut Sonia, novel ini menarik karena menggunakan medium-medium pengobatan menjadi bagian dari konflik. Hal ini, kata Sonia, seperti relevan dengan kondisi pandemi saat ini. “Siapa yang memegang obat dialah yang menang.” Dalam novel ini, menurut Sonia, obat-obatan itu menjadi sangat sentral.
Para peserta bedah novel Kota Kabut Walli Jing Kang
Tidak hanya memuji, Sonia juga mengutarakan kritiknya terhadap pendalaman karakter. Sonia beranggapan bahwa karakter dalam novel tidak bisa lepas dari karakter Manik sebagai pengarang. “Suara semua tokoh, rasanya, bagi saya itu suara Manik,” ujar tuan rumah Mahima ini.
Terlepas dari apa yang disampaikan oleh Komang Adnyana dan Jero Penyarikan, Manik Sukadana sebagai penulis menegaskan bahwa novel ini bukan novel sejarah. “Karena saya tidak ingin mengatakan bahwa novel ini sebagai novel sejarah,” kata Manik saat memberikan sekapur sirih di akhir diskusi.
Di akhir diskusi, Manik menyampaikan bahwa masih ada delapan novel lagi yang sedang dipersiapkannya. Luar biasa. Sambil menunggu Manik menyelesaikan satu per satu tulisannya, silakan Anda nikmati dulu novel pertamanya, Kota Kabut Walli Jing-Kang. Pahami, bicarakan, dan pecahkan teka-teki di dalamnya. Selamat, Manik.[T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...