Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
Pada masa sekarang ini, dengan informasi yang memenuhi setiap ruang media kita, kemampuan untuk membedakan⸺atau perbedaan⸺antara fakta dan fiksi menjadi persoalan tersendiri. Tak banyak orang mampu membedakan kedua hal tersebut. Justru banyak yang kadang salah menafsirkan atau salah menganggap bahwa fiksi dianggap fakta, sedangkan fakta dianggap fiksi.
Barangkali atas latar belakang tersebut, Tatkala May May May 2022, pada Sabtu, 14 Mei 2022 di Rumah Belajar Komunitas Mahima Jl. Pantai Indah, menghadirkan dua pembicara yang expert di bidangnya untuk mengungkap, menjelaskan apa itu fakta dan fiksi⸻dan bagaimana caranya kita dapat membedakan keduanya. Sebenarnya ini lanjutan dari diskusi “Belajar Menulis Berita Kisah”.
Pembicara pertama, seorang jurnalis senior, penulis cerpen, dan penulis novel, Yahya Umar. Dan kedua, seorang akademisi (doktor), jurnalis, dan pengamat sastra, Made Sujaya. Kedua narasumber memiliki latar belakang yang lengkap dan tentu memenuhi syarat dalam pembahasan fakta dan fiksi pada diskusi kali ini. Ditambah lagi yang menjadi moderator tuan rumah Tatkala sendiri, Made Adnyana Ole⸻yang memiliki latar belakang tak kalah lengkap dari kedua narasumber kita.
Dalam membuka diskusi, Yahya Umar menyampaikan fakta dan fiksi dalam novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata dan cerpen Made Adnyana Ole, Terumbu Tulang Istri. Menurut pembacaan Yahya, ada fakta dalam novel dan cerpen-cerpen tersebut. Artinya, Yahya handak menyampaikan bahwa fakta itu bisa difiksikan, tetapi fiksi tidak dapat difaktakan.
“Fakta itu kejadian atau peristiwa yang benar-benar ada. Sedangkan fiksi, bagi saya, serangkaian fakta yang oleh pengaranganya dimodifikasi sedemikian rupa, diberi perasaan, ditambah karakter-karakter tertentu di dalamnya, jadilah dia karya fiksi,” kata wartawan senior yang kerap dipanggil “Yum” ini.
Memang ada perbedaan besar antara fakta dan fiksi dalam hal pemaknaannya, seseorang harus dapat mengetahui masing-masing makna secara terpisah. Fakta adalah kejadian nyata sedangkan fiksi adalah kejadian imajinatif. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa apa pun yang benar⸻dan terjadi atau benar-benar aja⸻adalah fakta. Di sisi lain, apa pun yang fiktif dan imajinatif bisa disebut fiksi. Inilah alasan mengapa novel dan cerita pendek (cerpen) disebut fiksi⸻walaupun banyak cerita fiksi yang diangkat dari kejadian atau kisah nyata (fakta).

Foto: sebagian peserta diskusi fakta dan fiksi di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja
Secara teoritis, Made Sujaya menjelaskan bahwa secara etimologi fakta itu berasal dari bahasa Latin. “Sekarang ini kita sulit untuk membedakan antara fakta dan fiksi. Makna fakta itu kurang lebih adalah tindakan yang sudah benar-benar terjadi. Baru bisa dia disebut sebagai fakta. Dalam bahasa Inggris tidak ada kata yang representatif untuk menggambarkan kata fakta dalam bahasa Latin. Sedangkan fiski juga berasal dari bahasa Latin. Makna asilnya adalah lebih kepada apa yang sekarang disebut sebagai kontruksi. Jadi sesuatu yang dikontruksi. Di situ ada unsur kreasi. Maka fiksi itu tidak bisa disamakan dengan khayalan,” jelasnya.
Makna dikontruksi maksudnya fiksi (baca; karya sastra) tidak lagi murni ke-fiksi-an-nya, fiksi tersebut telah dirangkai, dibungkus dan mengandung fakta. Fakta di dalam karya sastra bukanlah fakta yang telanjang, ia hadir dengan pakaian majasi (metafora, satir, ironi, dll.), dalam rangkaian fiksi, tepatnya ia hadir dalam ke-sastra-an. Bukankah adalah tidak pada alamatnya bila fakta dalam pakaian imajasi di dalam karya sastra dilihat dan diperlakukan bahwa ia adalah fakta yang murni. Akan tetapi, mungkin inilah kesalahan fatal yang sering terjadi, bahwa fakta di dalam karya sastra diperlakukan sebagaimana fakta murni, sebagaimana yang dilakukan para penggemar Pram terhadap karya Pram. Seandainya memang ia merupakan fakta yang murni fakta, maka karya tersebut mustahil, jika dikatakan karya tulis sejarah.
“Pernyataan Rocky Gerung, misalnya, yang mengatakan ‘kitab suci itu fiksi’. Kenapa hal itu dipersoalkan, karena masyarakat kita masih menganggap bahwa kata ‘fiksi’ itu sama dengan khayalan, padahal tidak sesederhana itu.”
Fiksi berhubungan dengan pikiran itu iya. Fiksi lahir dari kreativitas penulis itu iya. Dan kreativitas adalah kekuatan di dalam pikiran yang membuat penulis memilih kata yang paling cocok dan rasa yang diperlukan untuk membangun puisi, novel, atau cerpen.
Sedangkan fakta tidak ada hubungannya dengan pikiran. Ini adalah peristiwa atau fenomena yang sudah ada. Misalnya, terbitnya matahari di timur adalah peristiwa yang dirasakan dan dialami dan tidak ada hubungannya dengan pikiran. Apalagi ada beberapa frasa yang menggunakan kata fakta. Misalnya, fakta dan angka, fakta kehidupan, dll.
Untuk memahami lebih dalam persoalan antara fakta dan fiksi ini, Made Sujaya menyebut satu tulisan berjudul Fakta dan Fiksi Tentang Fakta dan Fiksi karya Ignas Kleden⸺budayawan yang dikenal kedalaman ilmunya di bidang filsafat, sosiologi, dan politik.
Analisis Kleden paling jernih memang muncul ketika tegangan antara fakta dan fiksi dalam berbagai teks, puisi, cerpen, novel yang diuraikannya dengan konsep yang lebih sederhana: membandingkan “makna referensial” (hubungan teks dengan dunia luar) dan “makna tekstual” (hubungan teks ke dalam)”. Semakin tinggi makna referensialnya, semakin kuat sifat teks sebagai komentar sosial yang menekankan pada peristiwa (fakta). Semakin tinggi makna tekstualnya, semakin kental sifat teks sebagai karya simbolik (fiksi). Fakta mengarah pada generalisasi, makna denotatif dan informasi. Fiksi menekankan keunikan, ambivalensi makna dan penghayatan.
“Hari ini, sebenarnya kita tidak perlu lagi mempertentangkan antara fakta dan fiksi, tapi mengambil nilai atau pesan-pesan yang terkandung di dalamnya,” ucap jurnalis sekaligus akademisi ini. “Kalau tingkat literasi masyarakat masih tertinggal, maka fakta dan fiksi ini masih akan terus dipertentangkan.”
Perbedaan utama antara fakta dan fiksi adalah fakta adalah kejadian yang sebenarnya sedangkan fiksi adalah ciptaan (realitas) yang imajinatif. Fiksi didasarkan pada realitas dan imajinasi sedangkan fakta hanya didasarkan pada kebenaran.
Dengan demikian ada satu lagi persoalan pokok yang perlu didudukan sebagai gambaran dasar dalam paradigma baru ilmu pengetahuan dan kebudayaan dalam konteks sejarah dan sastra. Persoalan pokok itu adalah kata “imajinasi” keseluruhannya dimaknai dengan artinya yang salah oleh kebudayaan otoriter dan feodal. Bahkan kata itu dikukuhkan menjadi “hina” dalam masyarakat tersebut. Kata itu tidak mengandung gengsi, apalagi akan memberi guna. Pada dunia pendidikan sejak dari dini sudah ditanamkan tentang apa yang disebut dengan dunia imajinasi, dunia fiksi; sebagai suatu dunia yang tidak mulia dan tidak mengandung ilmu pengetahuan.
“Sebuah karya⸺walau bagaimana pun imajinasinya⸺pasti mengandung fakta. Ada fakta yang mengawali. Pembaca pun dapat memahami itu karena memiliki refrensi fakta. Tanpa fakta tak bisa orang memahami karya itu,” kata Sujaya. “Seperti novel George Orwell, 1984. Novel ini ditulis tahun ’60-an, tapi menggambarkan tahun ’80-an. Tetapi bukan berarti novel ini sepenuhnya fiksi, ia tetap mengandung residu fakta⸺yang lahir dari pengalaman. Jadi, nyaris tak ada karya yang tak mengandung fakta. Dalam pengertian fakta itu tidak hanya kita maknai sekadar sebagai suatu tindakan yang terjadi.”
Nah, dalam hal ini, karena diskusi ini masih ada kaitannya dengan diskusi berita kisah, Made Adnyana Ole, selalu moderator, mencoba menyinggung sedikit tentang fakta dan fiksi dari sudut pandang jurnalistik. “Fakta dalam berita itu kadang tidak memiliki logika. Misalnya ada batu yang memiliki kuatan bisa mengobati penyakit⸺dan ini diberitakan sebagai fakta. Tetapi kadang pembaca malah mempertanyakan hal itu, ‘masa, si?’. Fakta dalam berita itu tidak berurusan dengan logika. Sedangkan cerita itu selalu berkutat pada logika,” jelas pendiri Tatkala.co ini.
Yahya Umar menyampaikan pengalamannya sebagai seorang jurnalis kriminal yang merasa kesusahan dalam menulis cerita. “Karena wartawan kriminal, misalnya, masih terkungkung soal-soal penulisan berita yang baku dan kaku. Tak memiliki banyak diksi dalam menulis cerita. Makanya cerpen-cerpen saya setelah saya baca kembali rasanya malah seperti berita, bukan cerpen.”
Pendapat lain datang dari seorang akademisi, penyair, sastrawan perempuan pendiri Mahima, Kadek Sonia Piscayanti. Pendapat ini makin meramaikan suasana diskusi. Menurut Sonia, “ada yang lebih penting dari persoalan pertentangan antara fakta dan fiksi, yaitu kesadaran kenapa kita harus menulisnya. Dan kesadaran menulis fakta atau fiksi itu berawal dari why?. Why factor ini yang harus besar dulu sebelum menulis fakta atau fiksi.”
Pada akhirnya, kebenaran yang ada di dalam fiksi tidaklah harus sama dan memang tidak selalu perlu disamakan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata. Karena di dalam dunia fiksi yang penuh dengan imajinatif dan dunia nyata memiliki sistem hukumnya tersendiri yang bisa saja dapat berbeda-beda.
Ada perbedaan antara kebenaran yang ada di dalam dunia fiksi dengan kebenaran yang ada di dunia nyata. Kebenaran yang ada di dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan sudut pandang sang penulis, dan kebenaran yang telah diyakinin benar sesuai dengan pandangannya terhadap masalah-masalah dalam tulisannya. [T]
Simak video selengkapnya:
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...