Ashgar Farhadi kembali dengan segala dramanya yang dibalut oleh dialog-dialog yang cerdik dan akting dari para pemeran yang begitu alami. A Hero menjadi sebuah nuansa ketegangan yang tak memiliki satu pun adegan berbau-bau ketegangan, bahkan scoring pun tak ada mengiringi sepenuhnya film ini.
Memang, itulah kehebatan yang dimiliki oleh sutradara Iran yang satu ini, Ashgar Farhadi. Setelah berhasil dengan A Separation, About Elly dan The Salesman. Farhadi kembali dengan filmnya, A Hero. Satu film dengan pemantik sedemikian kecil, tapi betapa membakar emosi para penontonnya.
A Hero ditulis dan diarahkan sendiri oleh Farhadi, dibintangi oleh Amir Jadidi, Mohsen Tanabandeh, Alireza Jahandideh dan masih banyak lagi. Filmnya berhasil menyabet Grand Prix pada perhelatan Festival Film Cannes kemarin. Tapi sayangnya tak berhasil membawa pulang Palme D’or yang banyak orang harapkan untuknya.
Film ini berfokus kepada Rahim Soltani, seorang narapidana yang memiliki kesempatan bebas selama 2 hari. Rahim sendiri berakhir di penjara akibat memiliki hutang kepada Bahram sebesar 150,000,000 tomans. Dan di Iran sistem semacam ini masuk ke hukum diyyeh. Kesempatan yang singkat itu digunakan Rahim untuk mengunjungi kakaknya dan iparnya, Malileh & Hossein, serta anaknya, Siavash, yang mengalami keterbatasan berbicara.
Tidak dengan tujuan itu saja, Rahim memiliki kekasih yang bernama Farkhondeh. Farkhondeh mempunyai keberuntungan yang bisa digunakannya untuk membantu Rahim. Farkhondeh menemukan tas yang berisi 17 koin emas. Dan dengan itu mereka mencairkannya menjadi uang, yang nantinya guna melunasi hutang yang dimiliki Rahim. Namun ternyata, 17 koin emas itu harganya menurun, dan tak cukup untuk melunasi hutang yang ditanggung oleh Rahim.
Di sini, Ashgar Farhadi menyuguhkan sebuah dilema dari karater Rahim ketika kesusahan bertemu dengan keberuntungan. Rahim diuji dengan tawaran apakah ia harus mengembalikan 17 koin emas tersebut, yang tanpa ia tahu itu akan menjadi akar dari permasalahan, atau menggunakan 17 koin emas untuk membersihkan kesusahannya, kemudian menemukan kebebasan dan tak lagi mendekam di dalam penjara.
Rahim lantas membawa tas itu ke rumah Malileh. Dan Malileh mengetahui tas itu berisikan barang berharga. Malileh meminta Rahim untuk mengembalikan tas tersebut. Rahim memang berkeinganan demikian, dan keesokannya ia membuat iklan pengumuman. Ketika masa bebas sudah berakhir dan Rahim sedang berada di penjara. Pemilik tas menemui kakaknya, Malileh, menagih tas yang Rahim umumkan di iklan.
Tak berselang lama, pihak penjara mengetahui kebaikan Rahim, dan menfaatkan kebaikannya tersebut. Sontak, Rahim diliput banyak media dan menjadi panutan yang dipuji oleh banyak orang atas kebaikannya. Di samping hidupnya yang begitu sengsara dan tak memiliki apa-apa. Bagaimana tidak? Alih-alih menggunakan 17 koin emas di dalam tas itu untuk meringankan hutangnya, Rahim malah memilih untuk mengembalikan dengan ikhlas tanpa imbalan apapun.
Kebaikan Rahim memang awalnya berbuah manis. Rahim mendapatkan imbalan kebebasan lagi untuk berusaha melunasi hutangnya, juga badan amal menjanjikan sebuah pekerjaan untuknya. Ketika Rahim datang dan mengkonfimasikan itu ke perusahaan yang disebutkan, Rahim malah mendapat sambutan yang tak mengenakkan.
Kedatangan itu yang berbuah pahit untuknya. Perusahaan tersebut malah memampang wajah pesimis atas kebaikan yang telah diperbuat Rahim. Mereka menyuruh Rahim mendatangkan si pemilik tas, namun Rahim sama sekali tak pernah melihat pemilik tas tersebut, juga tak mempunyai kontaknya sama sekali.
Di sini agaknya bisa kita bayangkan akan seperti apa selanjutnya. Latar masalah mencuat, dinamika semakin menjadi-jadi, sosok Rahim yang polos kemudian tak memiliki kepercayaan dari orang lain. Dan kebaikannya yang sebagai narapidana dipertanyakan. Orang-orang di sekitarnya pun selalu mengait-ngaitkan kebaikannya dengan masa lalunya yang kontradiktif
Dari Rahim yang tak bisa menghadirkan sosok pemilik tas, juga kehadiran permainannya untuk menyelesaikan masalah dengan cara sedikit berbohong inilah memulai drama yang emosional. Skenario yang ditindihkan kebohongan dengan maksud membenahi kesalahpahaman, tak kunjung dapat pengertian dari semuanya. Hal itu ikut turut berjalan terus-menerus, dan itu mengaduk perasaan kita pada kedua pihak. Di sini, Farhadi sepertinya tak membiarkan kita memilih siapa yang benar dan siapa yang salah.
Bahkan, Bahram pun menaruh curiga bahwa kebaikan Rahim itu merupakan rekayasa belaka yang dibuatnya. Bahram terus menyudutkan Rahim, dan menyebarkan rumor-rumor tentang masa lalunya yang tak pernah menepati janji kepada Bahram.
Entah apa yang dipikirkan semua orang, sedang Bahram pun memang sudah tak mempercayai lagi apa yang disampaikan oleh Rahim karena hubungan mereka di masa lalu. Di sini memang tak disebutkan begitu terperinci oleh Farhadi tentang kehidupan masa lalu Rahim yang sampai-sampai Bahram enggan mempercayainya.
Tapi saya menganggap itu satu kesengajaan yang biasa darinya, karena melihat di setiap film garapannya. Farhadi tak menempatkan komponen kecil semacam itu, sebab fokus filmnya ada pada masalah sederhana, yang nantinya digoreng dengan berbagai macam bumbu.
Kecurigaan orang-orang atas kebaikan Rahim terus berlanjut. Kecurigaan tersebut yang bersinggungan dengannya menjadi tragedi yang sedemikian rumit, dan memulai drama moralitas yang begitu menyeluruh. Pertumbuhan dari runtutan kisah serta peran karakter-karakter di sekitar Rahim yang selalu menenggelamkannya ketika bersuara, menjadikan kita bersimpati kepada sosok Rahim yang selalu kalah.
Namun, krisis kepercayaan dari setiap karakter di film ini juga tak patut untuk kita salahkan, karena melihat dari kebohongan Rahim yang meski itu bertujuan memecahkan masalah sepele, menjadi keberlanjutan yang terus dilakukan. Terkadang kita sulit untuk memihak mana yang benar dan mana yang salah. Ashgar Farhadi seperti tak memberikan kesempatan bagi kita untuk memilih.
A Hero hadir bukan membuat kita memilih siapa yang berhak kita bela. A Hero hadir hanya sebagai pandangan untuk kita dapat melihat bagaimana orang kecil serupa Rahim, sama sekali tak punya kesempatan mengambil perhatian banyak orang sepenuhnya. Walau dengan kebaikan yang sudah dilakukan olehnya. Dan kebohongan dari skenarionya pun tak dapat kita curigai apakah Rahim mengambil sebuah keuntungan? Karena melihat bahwa dia selalu terpojokkan dan tak diberi ruang sama sekali untuk mengklarifikasi segalanya.
Keterbatasan ruang bagi Rahim untuk bersuara ketika mayoritas meragukannya membuat kita berfikir. Bahwa kenyataannya, masa lalu yang buruk masih akan tetap melekat, dan itu menjadi sorotan pertama bagi masyarakat dalam menilai seseorang.
Farhadi dengan kemampuannya mengulas permasalahan sederhana, telah memoles A Hero menjadi getaran alur yang memukau, yang selalu bergerak ke arah-arah sensitif. Tak jarang para penonton selalu melihat objek apa yang sedang disinggung oleh sutradara kondang ini. Permasalahan sosial di sekitar, dan juga kebengisan oknum-oknum yang mengambil keuntungan, atas tindakan karakter utama dalam film tersebut, turut hadir dengan begitu subtil, sembari mewarnai gejolak emosi para penonton.
Seperti film-film garapannya yang lain, Farhadi selalu berhasil membuat para penonton berfikir kritis, dan memberikan pandangan tersendiri dengan sajian drama masyarakatnya yang tak biasa. Meski bagi saya tak sesempurna A Separation dan About Elly. Ashgar Farhadi tetap mampu menjahit setiap adegan dengan ketegangan narasi yang luar biasa kompleks. [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...