Menggugat Empati Elite kepada Rakyat
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
Sarwaada adalah nama kuna dari Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Sebagai daerah petilasan Maha Yogi Agung Rsi Markandya, Desa Taro memiliki energi spiritual yang sangat tinggi. Spiritual kemudian menstimulir bentuk-bentuk keluhuran budi berupa kreatifitas seni.
Desa Taro dalam konteks kreatifitas melahirkan berbagai kerajinan seperti arsitektur bangunan suci keagamaan Hindu berbahan paras Taro dan kerajinan tatah emas serta perak. Saat ini kerajinan tatahan emas dan perak menjadi daya tarik tersendiri yang dimiliki oleh Desa Taro khususnya di Banjar Delod Sema, Taro Kelod.
Salah satu seniman tatah emas dan perak yang sudah banyak memiliki karya tatah emas dan perak yang diperuntukkan pada hiasan pretima (arca suci), barong, rangda, keris dan perhiasan lainnya adalah I Made Pada. I Made Pada lahir di Banjar Delod Sema pada tanggal 3 Juli 1973.
Ia mulai belajar menatah perak dan logam sejak kelas 3 SMP. Kemudian pada tahun 1995 mulai menatah hiasan dari bahan emas. Hasil karya tatahan emas dari I Made Pada telah tersebar pada pretima pada pura-pura penting di Bali.
Karya tatahan emas dari I Made Pada terkenal dengan kualitas bahan serta bentuk tatahan yang sangat menonjol serta memiliki garis yang tegas sehingga rupa dari tatahannya memiliki dimensi dan artikulasi yang jelas.

Foto 1. I Made Pada. Dok: I Wayan Diana Putra
Saat ini I Made Pada dengan hasil karya tatahan emas untuk barong dan rangda sangat digemari oleh umat Hindu di Bali khsususnya di Kabupaten Gianyar, Badung, Denpasar hingga Tabanan.
Mulai dari tahun 2016 sampai saat ini I Made Pada telah banyak melahirkan motif-motif baru dalam konteks hiasan baros berbahan emas atau perak. Hasil karya prestisius I Made Pada dalam bentuk tatahan full emas pada badong (hiasan pada leher barong) sesuhunan barong di Desa Adat Ubud dan Desa Melinggih, Payangan. Kemudian arca pretima dengan tatahan emas berbentuk patung dibuat untuk sesuhunan di Desa Padangtegal, Ubud.
Selain mengerjakan hiasan pretima dan barong, I Made Pada juga dikenal sebagai pengerajin hiasan keris yang handal di mata pencinta keris. Pande Suteja Neka selaku pendiri Museum Neka yang juga seorang kolektor keris di Bali sering menggunakan hasil tatahan emas karya I Made
Pada pada keris-kerisnya yang bernilai tinggi. Keris karya I Made Pada juga diminati oleh Happy Salma dipamerkan secara khusus bersama karya tatahan lainnya di Plaza Indonesia Jakarta, serta mendapat appresiasi yang luar biasa dari kalangan seniman, sineas, dan konten kreator tingkat nasional.


Forto2: Hasil karya tatahan Made Pada
I Made Pada sendiri telah mendapatkan penghargaan tingkat tertinggi yaitu penghargaan Wijaya Kusuma dari pemerintah Kabupaten Gianyar. Piagam penghargaan dari Gubernur Bali sebagai Seniman Kriya pada tahun 2016 oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Piagam dari Kementrian Pemuda dan Olahraga sebagai Seniman Muda Penggiat Keris Indonesia pada tahun 2015.
Saat ini I Made Pada sedang mengerjakan tatahan emas untuk sesuhunan di Banjar Taman Kelod, Banjar Singa Perang Payangan, Desa Semita, Gianyar dan Desa Padangtegal.

Foto 3: Penghargaan Seni Darma Kusuma untuk Made Pada
Pada tanggal 25 sampai dengan 26 Maret 2022 I Made Pada bekerjasama dengan Happy Salma dan Dewa Sri Luce Rusna melalui Pustaka Tulola di Jakarta menggelar pameran karya tatahan perak dan emas dengan tajuk “Ketenangan Jiwa”.
Dalam pameran tersebut I Made Pada menyajikan hasil karya tatahannya dalam bentuk perhiasan dan keris. I Made Pada memiliki kredo mensinergikan antara spiritualitas dan estetika dalam setiap karyanya. “Keikhlasan adalah sebuah prinsip dalam berkarya, serta dengan kemurnian pikiran yang bersih maka energy untuk menghasilkan karya yang berkualitas akan muncul” kata Made Pada.
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manife...
PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut berakar pad...
SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ditampilkan justru wajah-wajah nyata, s...
“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens), menempatkan tindakan ekologis ‘menana...
GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung, tetapi aktivitas di lingkungan sekolah justru ber...
MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur. Mereka meletakkan tas, sembari menarik nafas panjang, sambil menikm...
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru SMP Negeri 1 Singaraja pada Selasa, 21 A...
JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan dari Generasi Z memanfaatkan gawa...
KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT, telah memberi dampak positif dalam menjaga kesehatan ekosistem laut dan pesi...