Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Wakil Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra meminta kepada masyarakat untuk terus memuliakan tumbuh-tumbuhan atau pepohonan. Ini sebagai bentuk pelestarian lingkungan dan juga bentuk hubungan harmonis dengan alam sebagai salah satu bentuk dari Tri Hita Karana.
Hal tersebut disampaikannya saat ditemui usai melaksanakan persembahyangan dan penanaman pohon bersama serangkaian Upacara Wana Kerthi yang bertepatan dengan hari suci Tumpek Wariga di Hutan Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Sabtu (14/5).
Wabup Sutjidra mengatakan Upacara Wana Kerthi secara sekala dan niskala dalam rangka hari suci Tumpek Wariga sebagai momentum untuk mengajak dan menyadarkan masyarakat untuk terus melakukan upaya-upaya pelestarian lingkungan. Salah satunya dengan memuliakan tumbuh-tumbuhan atau pepohonan. Termasuk menjaga kelestarian hutan khususnya di Hutan Desa Selat ini.
Selain penanaman pohon, ke depan juga akan ada penangkaran burung di wilayah Hutan Desa Selat. “Kawasan ini dijaga betul oleh masyarakat adat. Nanti juga rencana ada penangkaran burung, atau nanti akan ada larangan untuk tidak menangkap burung di sekitar sini untuk upaya pelestarian kedepan,” katanya.
Tumpek Wariga atau juga sering disebut Tumpek Pengatag ini sudah biasa diperingati oleh masyarakat Bali melalui ritual upacara secara sekala dan niskala. Dimana perayaannya dilaksanakan setiap 210 hari sekali atau 25 hari menjelang Hari Raya Galungan. Saat ini peringatannya lebih ditekankan lagi. Setiap umat memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar tanaman atau pohon bisa tumbuh subur, berbuah lebat, dan memiliki bunga yang banyak. Hal ini agar nantinya buah maupun bunga ini bisa digunakan saat Hari Raya Galungan.
“Melalui upacara Wana Kerthi ini bagaimana kita memuliakan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita. Sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Tata Titi Kehidupan Masyarakat Bali berdasarkan nilai-nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam tatanan kehidupan Bali Era Baru. Melakukan pemujaan terhadap manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa Sangkara yakni Dewa penguasa tumbuh-tumbuhan,” ujar Wabup Sutjidra.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Buleleng Gede Melandrat menjelaskan penanaman yang dilakukan di Hutan Desa Selat ini menggunakan 50 bibit tanaman. Sebagian besar diantaranya merupakan tanaman langka seperti buah badung, tanaman untuk sarana upakara, hingga tanaman hias bunga cempaka.
Diharapkan nantinya pelestarian hutan tidak hanya dilakukan oleh masyarakat desa yang bermukim di seputaran hutan tersebut. Tetapi juga seluruh masyarakat desa yang tinggal lebih jauh dari hutan maupun dari desa lain yang berdampingan.
“Kita tidak melihat dari jumlah bibit tanaman yang ditanam, melainkan fokus pada pemeliharaannya. Walaupun dengan jumlah sedikit yang kita tanam tetapi berhasil merawatnya hingga tumbuh besar dan subur. Jangan menyiapkan bibit banyak-banyak tetapi proses penanamannya tidak baik. Edukasi dan sosialisasi yang berkaitan dengan hal itu terus kita lakukan kepada masyarakat,” katanya.[T][Ado]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...