Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
Barang kali ini merupakan tulisan yang sangat personal, tapi tak apa, ini demi sebuah catatan- arsip yang suatu saat nanti, mungkin saja berguna bagi saya sendiri atau untuk Manik Sukadana.
Kenapa Manik Sukadana?
Ia kawan saya, satu kelompok di Teater Kalangan, Manik sering saya rusuhi dengan berbagai kegiatan impulsif yang sering saya kerjakan. Manik jarang marah, karena ia bersikap - kalau bisa, dia bilang bisa, kalau tidak bisa, dia jawab tidak bisa. Mungkin Manik sudah paham dengan kemendadakan setiap ide yang saya ingin ciptakan.
Biasanya ia saya minta untuk mengurus visual mapping, desain poster, serta sejumlah garapan yang menggunakan multimedia. Namun beberapa bulan belakangan, saya jarang mengontaknya mendadak, saya perhitungan waktu, agar ia tidak kelabakan. Manik suka panik kalau pekerjaan, banyak mengerubungi kepalanya. Ketika garapan bersama, ia terbiasa untuk menyambi pekerjaannya sebagai guru, kadang nelpon murid, kadang memarahi muridnya, kadang memeriksa nilai, dan lain sebagainya.
Kami semua tahu, Manik sedang mengerjakan proyek novel ambisiusnya. Tidak jarang saya dapati dia duduk menulis di pojokan, di ruang AC Warung Men Brayut. Ditemani kopi hitam tanpa gula, para barista di sana sudah hafal pesanan Manik. Barista tidak akan menganggunya duduk di sana berlama, bahkan jika warung tutup, Manik senantiasa akan memantikan lampu, merapikan meja, membawa gelas kosong ke area dapur dan mematikan AC – ia orang terakhir di warung. Sampai detik ini, kawan barista tidak ada yang protes, soal ia yang selalu menjadi pelanggan terakhir.
Mungkin saja, ini asal-asalan saya saja ya. Dalam ketenangan dan kesunyian malam di warung Men Brayut, ia mampu menulis banyak hal. Sebab Manik berasal dari sebuah Desa di Kintamani – Manikliyu yang suasananya hampir sama dengan suasana malam di warung.
Di tambah lagi Manik tidak suka keramaian, ia selalu menjadi orang yang berhasil menemukan kesunyian diantara hiruk pikuk. Pernah ada satu kejadian saat Manik datang ke pementasan saya di Joyland Festival – Taman Bhagawan, Jimbaran. Semua orang yang datang bergoyang saat mendengar DJ memutar lagu di stage Ravepasar, Manik diam memperhatikan, ia tengah mengamati visual mapping yang sedang berlangsung. Sementara saat menonton White Shoes & The Couples Company, semua pengunjung bergembira riang, hanya Manik diam menatap panggung, entah apa yang ada dikepalanya.
“Lihat Manik teman-teman, dia diam, kepalanya entah di mana,” kata seorang aktor, kepada teman-teman lain, kemudian ditimpali dengan tawa.

Suasana diskusi buku Kota Kabut Walli Jing Kang di Warung Kopi Gajah Mada Denpasar
Saya mulai berfikir, mungkin saja saat-saat seperti itulah, ia sedang berusaha merangkai fragmen-fragmen peristiwa novel yang kemudian ditautkan dalam realitas hari ini. Saya harus akui kawan saya ini memiliki satu ketulusan, keikhlasan serta daya tahan yang luar biasa untuk menyelesaikan novel perdananya KOTA KABUT WALLI JING KANG, yang tebalnya 200 halaman lebih.
Beberapa waktu lalu, saya menginisiasi satu acara bertajuk Bedah Bedih di Warung Kopi Gajah Mada, Jalan Gajah Mada No 41 – Denpasar. Acara tersebut mendiskusikan buku novel Manik Sukadana, bersama Desi Nurani (guru, penulis ) dan Putu Eka Guna Yasa (dosen, penulis, pemerhati lontar). Sependek pengetahuan saya Desi Nurani merupakan kawan Manik, dari SMA hingga kuliah, dan sekarang menjadi guru di sekolah yang sama. Sementara Bli Guna Yasa melihat Manik dari jauh, namun dekat dengan wacana dari novelnya. Ada dua orang yang cukup berbeda, menautkan Manik dalam satu diskusi.
Acara dimulai pukul 19.05 WITA dan selesai pukul 20.56 Wita, hampir dua jam berlangsung. Saya juga bertugas menjadi moderator yang tidak membiarkan jalannya diskusi lempem, tensi yang menurun, saya beralih menjadi tukang todong super cepat, kepada peserta yang datang, agar tensi diskusi tidak datar.
Dalam keriuhan suasana kendaraan di Jalan Gajah Mada dan sliweran obrolan kawan-kawan yang datang, menjadi tantangan sendiri untuk menjaga diskusi agar tetap kondusif, ditambah lagi kawan-kawan barista yang sering bersliweran di depan narasumber untuk membawa gelas kotor ke dalam, atau membawa makanan ringan dari dalam ke luar . itu semua menjadi teks sendiri di kepala saya, seperti menonton pertunjukan tradisional di Bali. Yang tariannya ditujukan kepada dewa-dewi, sehingga laku sekitarnya tidak berusaha untuk diintervensi agar menyimak. Dalam konteks ini, narasumber adalah penari, peserta yang serius mendengarkan kita sejajarkan jiwanya dengan dewa. Ketolah kira-kira.
Guna Yasa yang terbiasa membaca lontar, prasasti dan temuan masa lalu memiliki kesadaran untuk menjadikan guru sebuah bacaannya, dan mencari makna yang terkandung di dalamnya. Kesadaran ini pula ia sejajarkan dalam membaca Kota Kabut Walli Jing Kang. Ia mencari makna dalam peristiwa, percakapan, serta teks yang berusaha dihadirkan Manik. Dalam pemaparannya ia menemukan 3 poin kandungan utama yaitu Makna Filosofis, Humanis dan Magis Ekologis.
“Dalam novel ini banyak saya temukan, petuah-petuah, nasehat, yang sama ketika saya membaca lontar, saya suka di sisi ini” kata Guna Yasa.

Para peserta diskusi Kota Kabut Walli Jing Kang di Warung Kopi Gajah Mada Denpasar
Dalam pemaparannya lebih lanjut, pengarang berusaha untuk mengacu pada sejarah di Kintamani, terhadap satu cerita Jaya Pangus dan Kang Cing Wi, konfrontasi ini dihadirkan dalam satu penyusunan nama daerah, kisah yang hampir menyerupai, serta deskripsi wilayah yang sangat dekat dengan Kawasan Kintamani.
Pendekatan semacam ini merupakan hal yang menarik untuk dibahas, karena memiliki realitas yang tentu saja berbeda dari apa yang kita ketahui di masyarakat. Tautan kepenulisan hari ini dengan masa lalu merupakan ilmu pengetahuan karena pengarang melakukan sejumlah riset wacana, riset lapangan, dan sebagainya. Buku ini bisa menjadi rujukan dalam merekontruksi arsip menjadi karya sastra modern.
“Satu hal yang saya suka adalah kalimat - ….Perlu kau ingat bahwa sesuatu yang kita dapatkan dalam hidup adalah sesuatu yang dicari dan yang tidak dicari. Dan, sesuatu yang didapat itu adalah sesuatu yang terbaik, sangat dalam dan mengandung makna filosofi kehidupan, padahal usia Manik baru 20an” ujar Guna sambil tersenyum.
Selain itu Guna juga menjelaskan bagaimana Manik menghadirkan macan duwe untuk menyelamatkan kerajaan. Kehadiran Macan ini merupakan sebuah simbol untuk isu lingkungan yang tengah terjadi hari ini. Isu menjaga hutan, hewan yang dilindungi, dan hal hal lain yang menyangkut keseimbangan alam.
Di Bali kental dengan premis semacam ini, jika ada Ikan Julid yang kepalanya tumbuh rambut, pasti segera dikatakan itu adalah Ikan Julid Duwe, atau pohon besar yang diberi kain, itu pohon duwe. Begitulah strategi orang Bali sejak dulu untuk menjaga lingkungan agar tetap utuh, dibuatkan mitos yang mampu menguasai alam pikir manusia, sehingga mereka dapat menghormati bagaimana alam semesta bekerja.
Guna juga menyinggung bagaimana Manik mampu berperan menjadi siapa saja dalam tokoh-tokoh novelnya. Menjadi seorang raja, istri raja, niang, patih dan lain sebagainya. Namun sayang semua tokoh diberikan porsi untuk mengucapkan petuah, jadi samar siapa yang sebenarnya memiliki hati yang bijak. Mungkin porsi ini dapat dipertimbangkan kembali, jika menyusun buku selanjutnya.
Soal menjadi siapa saja itu, ditanggapi oleh Desi Nurani bahwa Manik adalah seseorang yang dari dulu sering melakukan praktek menjadi siapa saja. Sebab Manik susah sekali untuk mengungkapkan apa yang ia pikirkan, Desi merasa buku ini adalah hal yang tidak terduga karena diselesaikan oleh Manik. Dalam buku, Manik dengan bebas mengutarakan pendapatnya melalui tokoh-tokoh ciptaannya, baik hal yang terjadi dalam dirinya, ataupun yang terjadi diluar dirinya.
“Saya tidak heran Manik bisa jadi siapa saja di novelnya, karena dari dulu ia memang seperti itu,” ujar Desi
Dalam ingatan Desi, Manik adalah kawan yang selalu sendiri, menyendiri, bahkan ketika berangkat sekolah ia selalu sendiri tanpa ditemani seorang kawan. Padahal bisa saja ia berangkat ke sekolah dengan kawan-kawan yang tempat tinggalnya tidak berjauhan. Bahkan dalam pertemanan yang cukup lama dengan Manik, Desi merasa Manik mampu menyembunyikan keberadaannya. Baru ketika belajar bersama di Mahima dan bekerja di Denpasar, dengan jelas Desi tahu Manik sebenarnya apa dan siapa, namun tetap mengacu pada pengalaman bersama yang ia lalui dari dulu.

Manik Sukadana (pegang kamera), penulis novel Kota Kabut Walli Jing Kang
Hal ini juga saya rasakan sendiri, pernah Manik satu rumah bersama saya di Denpasar. Karena waktu itu Teater Kalangan belum memiliki rumah kontrakan. Keberadaan Manik sulit dideteksi, apakah dia ada di rumah, atau sedang keluar. Walaupun motornya ada, belum tentu Manik “di rumah”, kalau keluar ia tidak langsung menyatakan tujuannya, paling dia akan jawab “kel ade alih dik” katanya pelan. Ia seperti tubuh ninja, yang mampu menghilangkan aura kehadirannya untuk mencapai target.
Kota Kabut Walli Jing Kang masih akan beredar seperti kabut yang menyusur kota-kota, buku dapat dibeli, silahkan berkunjung ke IGnya @maniksukadana . Malam tambah sepi di Jalan Gajah Mada, beberapa kawan duduk di trotoar, menenggak bir, lalu bercerita apapun. Manik tampak senang menyalami beberapa kawan yang hendak membeli bukunya.
“Kak Jong, Manik ternyata udah menyiapkan buku selanjutknya, ada 8 seri di kepalanya, nanti akan ngalahin Musashi kayaknya” ujar seorang kawan kepada saya. Selebihnya kami tertawa, kabut masih hinggap di kepala.
Satu puisi pendek untuk Manik:
Kabut-Kabut itu Sedang di Kamarmu
Rupanya selain suka menulis puisi
kawanku suka mengundang kabut ke kamarnya
kabut-kabut itu akan duduk di atas kasur,
membuat kopi, lalu bercerita panjang lebar
tentang perjalanannya menuju kota Denpasar.
Pohon pinus tidak tumbuh di sini
mereka terpaksa menyelinap di antara desak kendaraan
riuh-riuh pikiran atas waktu yang habis
dan jalan aspal yang tak pernah usai.
Kau rindu rumah, Nik?
mari pulang, kita sembunyi di belakang kulit kayu
kita saksikan bagaimana sang raja Dadap berperang
apakah darah seorang raja akan tumbuh jadi manusia?
atau pangeran? Atau tumbuh jadi puisi di kepala setiap orang?
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...