Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Di kawasan Pura Bukit Sinunggal , Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, terdapat kelebutan atau mata air yang jernih dan sejuk. Tepatnya, mata air itu berasal dari Pura Dasar Buana dan Air Tabar.
Sejak lama mata air itu disucikan. Airnya biasa dipakai untuk malukat atau membersihkan diri, memperbersihkan batin, membersihkan hati-nurani. Warga Desa Tajun biasa menggunakan air itu untuk membersihkan diri dari perasaan yang kotor. Misalnya, setelah pulang dari kuburan untuk menghadiri upacara penguburan atau upacara ngaben, warga biasanya membersihkan diri di mata air itu sebelum pulang ke rumah.
Perlahan-lahan, mata air yang digunakan sebagai tempat malukat atau tempat untuk menyucikan diri itu dikenal secara lebih luas. Banyak warga luar Desa Tajun, bahkan datang dari luar Kabupataen Buleleng, ke mata air itu untuk malukat.

Perbekel/Kepala Desa Tajun I Gede Agustawan pun melihat mata air suci itu sebagai potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata spiritual. Pura Bukit Sinunggal sudah sejak lama dikenal sebagai pura besar yang didatangi umat Hindu dari seluruh Bali, dan kini kawasan Pura itu bisa menjadi semakin dikenal dengan adanya tempat palukatan itu.
“Kawasan pura itu akan kami tata, baik dari segi kebersihan pura sampai dengan penataan untuk memperindah kawasan sekitar pura,” kata Agustawan, Kamis, (14/4/2022).
Kawasan suci memang harus ditata dengan berbagai upaya agar tempat itu tempat suci secara niskala, juga suci secara sekala. Misalnya, secara sekala kawasan itu tak boleh kotor, apalagi dipenuhi sampah plastik. Bagaimana hati kita bisa suci dan bersih, jika kawasan tempat malukat tidak bersih.
Untuk itu, tepat yang dilakukan Agustawan, yang melarang warga untuk membawa kemasan plastik ke kawasan itu, agar kawasan tak dikotori sampah plastik.
"Kita akan menata kawasan itu bebas dari sampah plastik, dimana setiap pengunjung atau pemedek dilarang membawa sampah plastik. Itu merupakan upaya menjaga aspek kebersihan dan keindahan," ucapnya.

Lebih jauh Agustawan membenarkan, kawasan pelukatan di sekitar Pura Bukit Sinunggal, sudah dipercaya oleh masyarakat sekitar sejak dahulu kala sebagai tempat melukat/penyucian ketika datang dari kuburan sebelum pulang ke rumah bila ada orang meninggal.
Selain masyarakat sekitar, tempat pelukatan itu sejak dulu sudah didatangi wisata dari luar desa. Ditambahkan, bagi pemedek yang mau melakukan pelukatan di kawasan itu tidak dipungut biaya. Melainkan, kesadaran dari pemedek itu sendiri untuk melakukan dana punia.
"Kita tidak mematok biaya bagi yang mau melakukan pelukatan. Itu kesadaran dari pemedek yang datang," ujarnya.[T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...