Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
“Gél duang éba.” Ini adalah salah satu bahasa Bali dialek Nusa Penida. Artinya, kurang lebih “saya merasa senang”. Kata /gél/ berarti senang. Kata ini terasa asing bagi penutur bahasa Bali karena hampir tidak pernah digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Namun demikian, ada kata /gélgél/ di Klungkung seberang. /Gélgél/ mengacu pada nama tempat. Lalu, penutur bahasa Bali (umum) familiar dengan kata /gegélan/. Adakah ketiga kata itu memiliki hubungan pertalian darah linguistik?
Untuk memastikan hubungan ketiga kata tersebut, saya mencoba membuka kamus Bahasa Bali-Indonesia (manual) yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Bali-Indonesia (Ketua: Drs. I wayan Warna), Dinas Pengajaran Provinsi Bali Tingkat 1 Bali, 1978. Saya hanya menjumpai kata /gélan/ atau /gegélan/, artinya pacar dan /gelgel/ (artinya ikal).
Saya searching di id.glosbe.com, Kamus Bahasa Bali-Indonesia. Saya ketik kata /senang/ di kolom bahasa Indonesia, maka keluarlah deretan kata dalam bahasa Bali yaitu demen, seneng, lega, ledang, rena dan lila. Kemudian, saya pastikan ketik kata /gél/ secara otonom di kolom bahasa Bali. Hasilnya, nihil, sama seperti dalam kamus manual yang saya baca sebelumnya.
Semula, saya berpikir /gélan/ atau /gegélan/ berasal dari bentuk dasar /gél/. Saya mengira /gél/ itu kata sifat. Kemudian, mendapat akhiran /–an/ menjadilah /gélan/, kelas kata benda. Eh, ternyata tidak. Kata /gélan/ atau /gegélan/ itu memang bentuk dasar atau kata dasar.
Lalu, saya tidak habis pikir dengan kata /gélgél/ di Klungkung. Mungkinkan kata ini berhubungan makna dengan kata /gél/ yang digunakan oleh penutur bahasa Bali dialek Nusa Penida? Saya teringat dengan salah satu narasumber yang menjelaskan peninggalan di Desa Gelgel. Kalau tidak salah tangkap, sang narasumber sempat menyinggung bahwa nama /gélgél berhubungan dengan kata /gél/ yang berarti senang, gembira.
Agar tidak keliru, saya mencoba mencari asal-usul Desa Gelgel di internet. Namun, saya tidak menemukan sumber yang gamblang tentang nama Gelgel. Saya berharap ada semacam legenda atau referensi historis tentang nama Gelgel. Saya kesulitan menjumpai silsilah kata /gélgél/.
Dari beberapa referensi yang saya baca, justru nama (Desa) Gelgel sering dicitrakan dengan suasana pluralisme yang menyenangkan. Gelgel sering dikaitkan dengan kehidupan masyarakat Islam dan Hindu yang penuh toleransi, saling menghargai, tolong-menolong dan gotong-royong. Spirit “gel” ini masih terjaga hingga sekarang.
Jika benar kata /gélgél itu berhubungan dengan makna senang atau gembira, mungkin sangat cocok untuk merepresentasikan spirit kebhinekaan itu. Gelgel mampu menampilkan eksistensi menyama braya yang plural. Hal ini tidak hanya menyenangkan bagi masyarakat yang menjalaninya, pun menyenangkan dilihat oleh masyarakat luas.
Kalau pun tidak benar bermakna senang/ gembira, setidaknya kita “gel” melihat fakta kehidupan plural yang harmonis di Desa Gelgel. Kehidupan yang memang diidealkan oleh bangsa majemuk seperti Indonesia. Bangsa yang menjunjung semboyan bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Bagaimana dengan kata /gélan/ atau/gegélan/? Kata ini sangat familiar bagi penutur bahasa Bali pada umumnya. Lumrah digunakan dalam percakapan kehidupan sehari-hari. Jika dicarikan padanan dari kata /gélan/ ialah /demenan/, orang yang disenangi, orang yang bisa menyenangkan hati.
Dengan kata lain, dalam kata /gélan/ atau/gegélan/ tercermin makna senang (lega, demen, seneng). Berhubungan dengan suasana hati “senang”. Hanya saja, /gegélan/ cakupan maknanya lebih sempit. Rasa senang yang dialamatkan kepada kondisi hati dari lawan jenis yaitu laki dan perempuan.
Sementara itu, kata /gél/ mengacu pada makna dan referen yang lebih luas. Kata /gél/ bisa digunakan sebagai konteks kondisi rasa senang yang umum. Konteks pemakaiannya mirip dengan kata “senang” atau “gembira” dalam bahasa Indonesia.
Meskipun bermakna lebih luas, anehnya justru kurang familiar di kalangan penutur bahasa Bali. Ada apa dengan kata /gél/? Dari mana wit-nya kata /gél/ yang biasa digunakan oleh penutur bahasa Bali dialek Nusa Penida?
Wah, kasus /gél/ cocoknya dituntaskan oleh pakar linguistik (terutama ahli bahasa Bali). Penting adanya research linguistik untuk menguak secara pasti tentang kemarginalan kata tersebut. Mengapa eksistensinya hanya di Nusa Penida? Adakah kata itu memiliki “darah keturunan linguistik dengan kata /gélgél / atau /gegélan/ (misalnya)?
Jika ditelisik dari spirit maknanya, ketiga kata tersebut tampaknya masih memiliki hubungan darah atau saudara. Paling tidak, kerabat dekatlah. Ketiga kata tersebut bermakna kurang lebih “senang”. Berkaitan dengan suasana hati yang positif yaitu senang, gembira, dan bahagia. Suasana makna yang ditimbulkan hampir sama.
Dari suasana makna yang ditimbulkan, rasanya ketiga kata tersebut masih memiliki pertalian makna. Ketiganya berpotensi memiliki garis kekerabatan linguistik yang tidak begitu jauh. Mungkin saja kata /gél/, /gélgél / dan /gegélan/ memiliki hubungan silsilah linguistik. Namun, hubungan ini masih misterius. Ya, karena belum ada penelitian linguistik khusus yang mengaitkan silsilah ketiga kata tersebut.
Bagaimana dengan ihwal fisik atau morfologinya? Tampaknya, ketiga kata tersebut mungkin memiliki pertalian. Pada kata /gélgél / terdapat kuadrat atau pengulangan (reduplikasi) dari kata /gél/. Seolah-olah kata /gél/ mengalami pengulangan murni atau utuh, mirip kasus dwilingga.
Sementara itu, pada kata /gélan/ seolah-olah terdiri atas 2 morfem. Satu morfem bebas yaitu /gél/ dan morfem terikat /–an/ (seperti akhiran). Kesannya, /gélan/ berasal dari kata /gél/ dan mendapat akhiran /–an/. Mungkin mirip dengan kata /demenan/. Kata ini dapat ditelusuri dari kata /demen/ (kelas kata sifat), kemudian mendapat pengiring (akhiran) /-an/. Digabungkan menjadi /demenan/ dan sekaligus berubah menjadi kelas kata benda.
Sekilas proses morfologisnya mirip dengan kata /gélan/. Seolah-olah bermula dari morfem /gél/ (kelas kata sifat), kemudian terkesan mendapat morfem (akhiran) /–an/. Hasil penggabungannya menjadi /gélan/ dan sekaligus berubah menjadi kelas kata benda. Nyatanya tidak demikian. Namun, saya tetap menaruh rasa curiga pada kata /gélan/ terutama pada proses morfologisnya.
Begitu juga dengan kata /gegélan/. Seolah-olah kata ini bersumber dari kata /gél/ seperti pada kata /gélan/. Sekilas tampak bahwa /gegélan/ mengalami proses reduplikasi. Persisnya, mengalami kasus dwipurwa. Suku kata pertama dari /gélan/ diulang, sehingga menjadi /gegélan/.
Seandainya, ketiga kata (gel, gelgel dan gegelan) tidak memiliki “pertalian darah linguistik”, maka perlu ditelisik kata /gél/ di Nusa Penida (NP) secara otonom. Mengapa penutur di NP menggunakan kata /gél/? Dari mana datangnya asal-usul kata tersebut?
Bisa jadi /gél/ menjadi semacam pemendekan kata (abreviasi) dengan alasan efisiensi berbahasa. Jadi, ada proses penanggalan bagian-bagian leksem (kata) atau gabungan leksem menjadi bentuk yang pendek. Misalnya, menanyakan “mau ke mana” dalam bahasa Bali ada bentuk /kija/ atau /lakar kija/ cukup diucapkan /kal ija/. Lebih pendek lagi, dengan kata /ija/ atau /ijo/. Penutur di NP mengucapkannya menjadi /jaa/ atau /jaha/.
Mungkinkah kata /gél/ itu termasuk kasus abreviasi (penanggalan) dari kata /gegélan/ yang dilakukan oleh penutur di NP? Dari kata /gegélan/ menjadi lebih pendek /gélan/ lalu menjadi /gél/? Mungkin penutur di NP ingin mengucapkan kata /gegélan/ dengan sependek-pendeknya.
Jika memang benar, proses abreviasi ini akan menjadi sedikit ganjil. Pada umumnya, proses abreviasi tidak berbeda dari makna kata aslinya (sumber). Kata /gegélan/ menjadi /gélan/ masih memiliki makna yang sama yaitu pacar.
Bagaimana dengan kata /gél/? Kata ini tidak lagi bermakna pacar, orang yang disenangi/ disukai—tetapi mengandung makna senang atau suka. Dalam kata /gegélan/ tercermin makna kata /gél/. Kata /gegélan dibangun oleh spirit makna /gél/. Artinya, kedua belah pihak sama-sama /gél/. Rasa “gél” laki dan “gél” wanita bersatu, ya, kasarnya menjadi “gél-gél” (pada demen, saling menyukai).
Jadi, /gél/ tidak lagi bermakna pacar. /Gél/ tidak mengacu kepada benda atau orang yang disenangi/ disukai, tetapi kepada rasa yang abstrak. /Gél/ tidak hanya sedikit berbeda makna, pun berbeda kelas kata.
Kata /gél/ seolah-olah menjadi kata dasar, golongan kata sifat. Penutur di NP menyepadankan (bersinonim) kata /gél/ dengan kata /lega/ dan /demen/. Selain kata /gél/, penutur NP juga menggunakan dua kata tersebut sebagai sinonim atau pengganti kata /gél/.
Jika tidak tergolong kasus abreviasi, mungkin /gél/ merupakan variasi kata ciptaan penutur NP dari sikap arbitrer (manasuka). Penutur NP menciptakan variasi kata tertentu, yang hanya digunakan dan berkembang di lingkungan penutur NP.
Menempatkan kata /gél/ ke dalam kasus arbitrer adalah senjata pamungkas. Senjata ketika suatu kata tidak bisa dirasionalkan atau ditelisik dari sisi linguistiknya. Karena prinsip arbitrer sejalan dengan filosofi “nak mula keto”. Ya, memang begitu adanya. Tidak perlu penjelasan. Cukup diterima. Jalani.
Yang penting penutur masing-masing daerah di Bali senang menggunakan basa Bali walaupun berbeda dialek. Biarkan Nusa Penida “gél” dengan dialeknya. Begitu juga dengan daerah-daerah lainnya. Semoga semua sama-sama “gél” dengan dialeknya. Gél dan gél serta menjadikan bahasa Bali sebagai “gegélan” linguistik. [T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...