Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Sudah makan?
Pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua atau orang terdekat untuk mengetahui keadaan orang. Saking sederhananya pertanyaan itu, saya sering menjawabnya dengan sekenanya saja. Kadang malah bukan dengan kata, melainkan hanya dengan vokal tanpa konsonan. Dalam pergaulan, pertanyaan “sudah makan?” juga berarti ada orang yang ingin mengintip orang lain yang diajak bicara itu masih waras atau tidak.
Kadang bila ada orang yang belum makan, maka aksi/reaksi yang muncul adalah sering kelupaan, mendadak marah-marah, kesulitan menjaga tempramennya. Orang – Bali khususnya – suka menggunakan pertanyaan itu sebagai lelucon. Normalnya, orang akan lebih tenang dan rileks sehabis makan. Maksud dari pertanyaan itu adalah agar meminta lawan bicaranya untuk stay calm.
Tentu saja, saya tidak menampikkan arti dan makna harfiah pertanyaan itu. Dan ketika saya ditanya dengan pertanyaan itu – apalagi lewat telepon – saya sering berbohong. Bagi orang tercinta, jawaban dari kita atas pertanyaan itu akan berdampak kepada mereka. Kadang dampaknya melebihi ekspektasi kita.
Rasa cemas, khawatir, juga perasaan was-was muncul dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya. Jangankan bilang “belum makan” atau “nanti saja setelah menelpon”, mengatakan bahwa “saya makan dengan nasi jingo 5000-an” seolah menandakan bahwa saya akan masuk dalam ruang kemelaratan. Apalagi mengatakan “makan nasi putih dengan garam saja”? Lebih parah lagi!
Tapi bukan berarti hidup hanya untuk makan “saja”. Tidak. Saya percaya bahwa pengalaman hidup yang lainnya penting untuk diperjuangkan. Tapi perlu disadari bahwa pada dasarnya kita tidak abadi. Makan adalah cara – saya – untuk sadar bahwa tidak ada yang kekal. Saya tidak lebih tinggi dari hewan/tanaman yang juga sama-sama membutuhkan makanan. Kita semua sama-sama berjuang, juga kadang sama-sama mempunyai kesempatan kalah yang sama.
Mengapa topik makan ini penting untuk saya sampaikan? Bagi saya, makanan – juga tata cara dan tempatnya – adalah budaya: ritual. Persepsi saya terhadap makanan sejak lama ternyata bermasalah pada satu sisi. Dari dulu saya heran mengapa orang-orang mau memakan salah satu jenis hidangan. Misalnya, saya beranggapan bahwa nasi dengan ayam goreng – dan saus yang seuprit – bukanlah suatu makanan yang ideal (maafkan saya atas pernyataan itu, tapi itulah yang sebenarnya terjadi dulu).
Dengan lidah desa yang masih memerlukan sayur sebagai penunjang rasa, saya agak kurang menerima kenyataan yang terjadi. Selain itu, juga ada masalah harga. Saya masih memiliki perasaan bahwa nasi campur seharga 10.000 adalah nasi yang mahal. Meski kadang sudah dapat saya kompromikan, hal itu masih melekat sampai detik ini.
Tentang orang yang menyisakan makanan misalnya, saya kadang masih belum bisa lepas. Sebagai bayangan untuk pembaca, saya berusaha pantang untuk menyisakan makanan. Latar belakang sebagai anak pedagang bubur membuat saya – sedikit – kesal dengan orang-orang yang dengan maksud yang tidak jelas masih menyisakan makanan yang dipesannya. Apalagi bubur buatan ibu saya.
Dengan cara pandang bahwa makanan harus habis itu akhirnya membentuk saya untuk selalu mau mengambil potongan makanan terakhir tanpa malu.
Dalam konteks makan, tinggal satu tahun lebih di Denpasar menjadi alasan penting bagi saya untuk melihat ulang bagaimana “saya memberi nilai suatu makanan/benda”. Saya sadar persepsi kita terhadap sesuatu didasarkan atas pengalaman hidup. Menu makanan, tempat makan, seberapa lama makan, juga kadang banyaknya porsi makan. Semua akhirnya berdampak pada cara berteman, praktik hidup – percintaan –, dan menggali pengetahuan.
Maka akhirnya, saya mulai terbiasa untuk akrab dengan “sesuatu dan hal” yang saya ingin coba memberi jarak sebelumnya. Penting untuk mendekati hal-hal yang sebelumnya asing dan “terlupakan” untuk dijelajahi. Kadang, hal itu akhirnya memberikan pengalaman antara gelisah senang dan gusar pada saat bersamaan, misalnya antara rasa yang nikmat dan harga yang mahal. Terima kasih karena pembaca sudah meluangkan diri untuk membaca tulisan ini. Sudah makan? [T]
Warung Men Brayut, Denpasar, 28 Januari 2022
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...