Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Setelah kembali menjalani kehidupan di kontrakan lama, sesekali saya kembali makan mie instan. Bukan karena saya tidak ingin sehat, tapi memang hanya itu yang bisa---dan mampu---saya makan. Beberapa orang memang sangat anti terhadap mie instan. Walaupun lebih banyak yang memujanya.
Saya tidak hendak membicarakan dikotomi itu. Tapi lebih kepada cara kita hidup dan nostalgia terhadap mie instan. Dulu, semasa masih kecil, saya sudah terbiasa makan mie instan. Tapi tidak sebungkus. Hanya sebungkus dibagi dua. Setengah untuk saya, setengahnya untuk adik saya. Itu pun bukan menjadi makanan utama, tapi menjadi lauk untuk nasi kami. Jadi, kami tetap makan nasi tapi lauknya mie instan. Itu menjadi hidangan yang sangat istimewa pada zamannya.
Saat saya terserang sakit---demam atau yang lain---selain membelikan saya bakso, Emak sering membuatkan saya mie instan rasa soto, sebab saat sakit, saya tidak bisa memakan nasi. Saat sakit, saya lebih senang memakan makanan yang berkuah, tur pedas.
Pada hari ini, sudah banyak produk yang konon bisa menjadi pengganti susu atau mie instan, bahkan rokok. Seperti kata ahli, David Rietz, misalnya. "Semua susu sapi mengandung lima puluh sembilan kolesterol, dioksin-dioksin, bakteri, dan virus-virus."
BACA JUGA:
Semasa saya kecil, saat imunisasi, ibu bidan selalu mengingatkan kebapa Emak saya tentang kalsium (kata yang tidak ada dalam perbendaharaan Emak). Kata bu bidan, kalsium bagus sekali untuk pertumbuhan tulang-tulang saya; tetapi David Rietz lebih canggih daripada ibu bidan yang bertugas di kampung saya dulu: "Kalsium? Dari mana sapi memperoleh kalsium untuk tulang-tulang mereka yang besar? Ya, dari tumbuh-tumbuhan!" Jadi, produk-produk baru pengganti susu itu sudah pasti berbahan dasar tumbuhan.
Dan protein? David tidak tanggung-tanggung: "Susu bisa dianggap sebagai 'daging cair' (Yang benar saja! Tapi saya yakin dia lebih tahu tentang itu) dikarenakan kandungan proteinnya yang tinggi. Tetapi proteinlah yang bisa benar-benar menyedot kalsium dari dalam tubuh. Negara-negara yang mengkonsumsi makanan-makanan berprotein tinggi juga memiliki tingkat penderita osteoporosis paling banyak.
Zaman sudah berubah. Yang dulu dipuji, sekarang dicaci. Saya, misalnya, berasal dari generasi yang biasa merakit layangan sendiri (saya tidak tahu bagaimana menjelaskan ini kepada generasi zaman sekarang---pokoknya merakit layangan sendiri itu keren pada masanya). Lalu kami berlomba menerbangkan layangan rakitan kami sendiri. Saat salah satu layangan kami putus; kami mengejarnya beramai-ramai; kami jatuh terguling-guling, lecet-lecet, tetapi sangat bangga petualangan lari-larian ini.
BACA JUGA:
Pada masa itu belum ada telepon seluler, jadi orang tua kami tidak bisa menelpon untuk mengecek di mana kami berada---mana mungkin? Waktu masih kecil, kami selalu disalahkan, kadang-kadang kami dihukum, tetapi kami tidak pernah mengalami masalah-masalah psikologis, perasaan ditolak atau tidak disayang. Di sekolah ada murid-murid yang rajin dan ada juga yang malas; murid-murid yang rajin naik kelas, sedangkan yang malas harus rela mengulang setahun lagi, tinggal kelas. Tidak ada psikolog yang dipanggil untuk menyelidiki kasus ini---murid-murid yang payah sekadar disuruh mengulang lagi pada tahun berikutnya.
Meski demikian, kami bisa bertahan hanya dengan sedikit lecet-lecet di lutut dan beberapa trauma saja. Kami bukan hanya bertahan, kami mengenang dengan perasaan nostalgia, masa-masa ketika mie instan dan susu tidak dianggap racun, ketika anak kecil diharapkan menyelesaikan sendiri masalah-masalahnya, tanpa bantuan dari luar, kalau perlu dengan berkelahi; dan tidak ada mainan-mainan canggih untuk menghabiskan waktu sehari-hari, yang ada hanya kreatifitas, kami menciptakan permainan-permainan sendiri.
BACA JUGA:
Tapi marilah kita kembali ke topik semula. Saya memutuskan untuk kembali mengonsumsi mie instan dengan kadar seajarnya.
Sampai di sini saya khawatir tentang anak-anak di masa depan; mereka punya permainan-permainan komputer, orangtua mereka punya telpon genggam, para psikolog selalu siap membantu kalau mereka gagal dalam sesuatu, dan terutama, mereka dipaksa meminum atau memakan "ramuan ajaib" pengganti mie instan atau susu, yang akan membebaskan mereka dari kolesterol, osteoporosis, dan aman dari lima puluh sembilan hormon aktif serta toksin-toksin.
Anak-anak ini akan sangat sehat dan seimbang, dan setelah dewasa mereka akan menemukan mie instan atau susu (jangan-jangan pada masa itu mie instan dianggap ilegal). Barangkali di tahun 2080 nanti ada seorang ilmuan yang berinisiatif menyelamatkan sesuatu yang sudah dimakan atau diminum orang-orang sejak permulaan waktu? Atau mie instan hanya bisa dibeli dari para pengedar narkoba? Saya tidak pernah belajar ilmu menerawang masa depan. [T]
BACA JUGA:
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...