Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apa yang membawa saya sampai merasa harus kembali menjelajah Jembrana adalah sulamannya, selain tentu saja masih banyak sederet artefak yang menyesaki keinginan hati ini untuk mendokumentasikan jejak budaya rupa yang sangat khas dari Tanah Makepung ini.
Pertama kali mendengar kata seni menyulam warna ini pada tahun 2012 ketika studi S2, seorang teman yang akrab dipanggil Pak Gede Rai mengangkat sulaman dari Banjar Samblong sebagai fokus karya tulis thesisnya. Melalui Gede Rai yang kini bekerja pada salah satu instansi dinas yang berlokasi di Denpasar saya pertama kali menyaksikan keunikan bentuk dan warna-warni yang unik dari hasil karya penyulam Jembrana.
Berikutnya adalah dari Sujana Suklu dan Cok Ratna Cora yang ternyata telah melakukan serangkaian riset mengenai sulaman Jembrana. Dan yang ketiga adalah Bli Asok dari Pro-Docs, seorang filmmaker yang juga menjadi rekanan Komunitas Budaya Gurat Indonesia (Gurat Institute), asli putra Negara yang ternyata ibunya juga pernah melakukan aktivitas menyulam.
Di Snerayuza Artsky saya menemukan buku “Story Cloth of Bali” yang ditulis oleh Joseph Fischer di dalamnya semua adalah dokumentasi sulaman Jembrana.
Yang paling mengesankan adalah cerita dari Pipit, pacar dari kawan saya yaitu Dolar Joe punggawa band The Rolic, Pipit seangkatan dengan saya kelahiran 1989, dan kerennya lagi ia pernah melakukan aktivitas menyulam ini hingga SMP. Ia mewarisi keahlian menyulam dari ibunya dan juga niniknya sekaligus pengalamannya mengenai sulaman Jembrana ini diceritakan kembali kepada saya, sungguh Ngembak Geni yang keren di tahun 2022.
Jumat malam di tanggal 4 Maret 2022, saya bertemu denganya di Warung Men Dolar, tempat pacarnya berdagang Sate Celeng Joosss dan Lawar Super Yahud yang masih dalam wilayah banjar yang sama dengan saya yaitu di Banjar Pohmanis. Ia membawa dua buah karyanya yang dulu berfungsi sebagai ider-ider penghias plangkiran di rumahnya di Jembrana. Kondisinya memang sudah ada penurunan intensitas warna pada benang alias pudar karena tentu efek dari panas matahari ketika dikenakan pada tempatnya.
Saya memperhatikan kepadatan benangnya yang rapi, memenuhi pola suluran dengan motif pepatran, kemudian sambil mengobrol saya mengorek beberapa informasi darinya mengenai sulaman Jembrana.

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, ia mendapatkan keahliannya melalui belajar dari Ibu dan Niniknya, pada saat SD-SMP menyulam menjadi kegiatan anak-anak perempuan di desanya. Dari menyulam pada media kecil yang ukuran panjang kurang dari satu meter, hingga yang paling panjang yaitu seukuran umbul-umbul kemungkinan lima meter.
Yang menarik baginya adalah mengkombinasikan warna benang, ternyata ada aturan-aturan tertentu yang menjadi standar kombinasi warna yang diberikan oleh ibunya, misalkan saja benang warna merah haram untuk berdampingan dengan benang warna ungu karena akan berefek mematikan warna keduanya. Untuk kelopak bunga biasanya mempergunakan warna-warna putih apabila dasar kain berwarna kuning sedangkan sari bunganya bebas.
Untuk batang suluran bunga pasti mempergunakan warna benang “hijau botol” yakni warna hijau tua atau warna hitam. Untuk tepi biasanya mempergunakan warna yang cenderung gelap semisal hitam, cokelat, atau ungu.
Untuk warna-warna daun bebas terserah kreativitas masing-masing, namun tetap harus memperhatikan kaidah-kaidah warna benang yang tidak boleh disandingkan, selain itu mempergunakan warna benang yang sama dengan warna dasar kain sebagai warna latar belakang itu juga haram dalam artian tidak diperbolehkan sebab sudah pasti warna benang tidak akan terlihat.

Saya memperhatikan kembali pola pewarnaan dengan menyulam benang wol pada dua artefak ini, ternyata ada warna-warna yang secara simetris tidak sama penempatannya, hal ini menjadi salah satu keunikan dari sulaman Jembrana.
Pada beberapa kasus karya sulaman akan berbeda-beda tentunya, pada karya yang diperuntukan untuk parba bale-bale akan ditemukan cerita pewayangan, dari yang figurnya wayang secara naturalis-dekoratif hingga sangat sangat naifisme ala gambar anak-anak, semuanya memiliki kekuatan masing-masing tentunya, keunikan bentuk figur wayang itu terbentuk dari tata cara pembuatannya melalui menyulam dan hal ini tentu akan berbeda dengan kasus menggambar dengan nyigar warna ala wayang Kamasan, Klungkung.
Dalam kasus karya dengan figur wayang dalam sulaman Jembrana ini setiap tokoh selalu diberikan nama dengan huruf latin, coba saja searching via Google untuk melihat berbagai karya terutama koleksi museum di Australia.
Yang membuat agak saya merasa agak sedih adalah bahwa tidak banyak anak-anak Jembrana kini yang melewati masa kecilnya dengan menyulam sehingga generasi penyulam dapat dipastikan terputus, hal ini tentu saja akibat dari faktor ekonomi yaitu pemasaran, faktor lainnya adalah ekpsansi hiasan-hiasan kain untuk pura yang instan dan lebih variatif seperti ider-ider dengan tumpukan kain, tambahan oncer yang semarak dijual bergulung-gulung, kain-kain prada dengan berbagai motif warna emas yang tinggal potong, jahit pinggiran, dan pasang, sangat instan.

Dari Pak Gede Rai, juga Pipit, saya mendapatkan informasi bahwa sketsa di buat dari satu orang yaitu seorang mangku yang berprofesi sebagai undagi wadah (bangunan untuk upacara pengabenan orang Bali), dulu jika orderan membuat wadah mangku ini banyak pasti sketsanya lama selesai, para perempuan baik anak-anak maupun dewasa akan menunggu dengan sabar kain mereka selesai di sketsa dan segera disulam, sampai kini katanya jero mangku ini masih melayani pembuatan sketsa jika ada yang menyulam terutama dari Banjar Samblong di Jembrana.
Dalam buku Fischer saya mendapatkan sebuah gambaran mengenai kesejarahan karya sulaman Jembrana berawal dari mahal dan lamanya menenun songket di Negara maka karya sulaman ini lahir untuk mengisi ruang bagi mereka yang dapat menjangkau karya seni yang masih memiliki dasar dan bernafaskan benang dan kain, benangnya adalah benang wol yang banyak beredar dan relatif murah dipasaran, kainnya juga mempergunakan kain jenis satin yang licin agar mudah dalam menarik benang meski ada mempergunakan kain jenis katun.
Pada akhirnya saya membayangkan apabila menyulam khas Jembrana ini menjadi mata pelajaran wajib atau masuk kurikulum sekolah, dan pemangku jabatan yang berwenang lebih serius membranding daerahya dengan mengangkan keunikan-keunikannya ke permukaan, ahh saya menyadari relaitanya tidak semudah khayalan saya, kembali ke realita saat ini bahwa tulisan ini mengisi kesunyian warna-warni benang sulaman yang kian ditinggalkan peradaban yang kian berlari cepat, mencari yang termudah, terima kasih dua buah tangan dari Jembrana dan saya akan segera ke sana untuk mendokumentasikannya setidaknya sebelum hal ini benar-benar punah. [T]
Pohmanis, 5 Maret 2022
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...