Di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng punya tradisi beramai-ramai berkumpul di pantai atau biasa disebut ngembak geni ke pasih, sehari setelah warga melaksanakan catur brata penyepian pada Hari Nyepi.
Setelah kemarinnya melaksanakan penyepian di rumah dengan tidak bepergian, tidak menyalakan api, tidak bersenang-senang dan tidak bekerja, warga beramai-ramai ke pantai. Desa Les memang berada di tepi pantai, sekaligus juga di tepi bukit.
Tradisi ini sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. Tidak ada sumber tertulis dari kapan tradisi ini dilaksanakan. Setidaknya ssbagai warga Desa Les, saya sedari kecil sampai 34 tahun usia saya menjadi bagian dari tradisi "ke pasih" ini.
Pun begitu ayah saya yang kini menginjak umur 65 tahun punya cerita sedikit tentang tradisi itu. Sejak kecil ayah saya juga menjadi bagian dari tradisi ini. Dan bukan hanya di Desa Les, tradisi tahunan setelah Nyepi ini, setidaknya bisa dijumpai di desa-desa di kawasan pantai di Kecamatan Tejakula. Di Desa Les, titik kumpul biasanya dilakukan di Pantai Penyumbahan.
Ini sangat mungkin terjadi karena kebanyakan desa di Kecamatan Tejakula memiliki wilayah berupa pantai. Begitu pun pantai menjadi tempat sempurna nan murah meriah untuk sekadar melepas penat, healing, bersenda gurau, dan reuni dengan teman serta saudara.
Foto ngembak "ke pasih" kadek ayu honesta family tahun 2017
Apa yang unik dari tradisi Kepasih di Desa Les?
Di masa keadaan normal, atau sebelum pandemic, tradisi ini mampu menghadirkan ratusan sampai ribuan orang untuk berkumpul di Pantai Penyumbahan Desa Les. Seakan sudah menjadi sebuah keharusan.
Setelah sipeng (menyepi), besoknya harus ke pantai dan menghabiskan waktu di antara lalu lalang orang-orang yang asyik bercengkrama satu sama lain menghadap laut. Tidak ada jadwal khusus seperti pergelaran pertunjukan sampai jam berapa, semuanya seakan sudah bahagia dan alami seperti itu.
Di sanalah tempat silaturahmi dan silaturasa setelah beberapa bulan dan bertahun-tahun tidak bertemu langsung. Secara ekonomi, ini sangat bagus. Perputaran ekonomi tampak jelas di sana. Ratusan pedagang, dari pedagang nasi, jajanan lokal, mainan anak-anak, pedagang obat, hiburan anak-anak hingga para nelayan yang bersiap untuk mengantarkan pengunjung berkeliling menikmati hamparan pesisir dan bukit kintamani dari laut.
Foto ngembak "ke pasih" kadek ayu honesta family tahun 2017
Cerita “ke pasih” ini juga seakan menjadi semacam me time dan self reward atau menghadiahi diri dengan kesenangan.
Sudah menjadi tradisi menjelang ngembak geni atau “ke pasih” ini, dari lintas generasi; anak kecil, muda, dewasa, tua, akan mengenakan pakaian yang baru. Sangat keren dan unik , bukan?
Yang menarik, ngembak geni atau “ke pasih” di Desa Les tak hanya sekali. Ada dua kali ngembak atau dua kali ke pasih. Seakan sudah memang menjadi kesepakatan jika warga tidak ada waktu pada kesempatan pertama, masih ada kesempatan kedua.
Foto ngembak "ke pasih" kadek ayu honesta family tahun 2017
Dan menariknya warga desa -desa tetangga di Kecamatan Tejakula sampai desa-desa di perbukitan Kintamani telah menjadikan ini semacam calender of event tahunan. Setidaknya saya dan ribuan orang yang pernah merasakan bagaimana bahagianya jika setelah diam di rumah, besoknya ke pantai.
Melancaran menikmati kuliner lokal sampai bertemu dengan sanak saudara dari beda dusun atau desa. Selamat ngembak semoga kita selalu sehat. [T]
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara membutuh...
SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran International Automodified (...
Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu panggung, keindahan kimono...
KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I Gede Lecir dan adiknya, I Made Geta...
SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka Fine Art Gallery, Gianyar, yang terletak di Jl. Pro...
KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan telinga seakan terpikat oleh keselarasan ekspresi (...
Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari. Itu pun jari kiri. Saya tidak tahan dengan k...
LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada.
Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol, lubang di setiap pengunci pintu, dan l...
Pelancong Gersang
Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah.
Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,mema...
"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah."
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Singaraja, ia dapat m...