Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Dinas Kebudayaan Buleleng kembali akan mengusulkan tradisi terkait Hari Raya Nyepi untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional yaitu Tradisi Meamuk-amukan Desa Padangbulia, Sukasada, Buleleng. Sebelumnya tradisi terkait Hari Raya Nyepi yang telah ditetapkan sebagai WBTB Nasional adalah Nyakan Diwang.
Tradisi Amuk- amukan Desa Padangbulia Buleleng ini mengandung makna filosofi yang tinggi. Tradisi ini dilakukan sebelum perayaan Hari Raya Nyepi. Ini dilakukan agar dalam pelaksanaan Nyepi tidak tersimpan amarah dan dendam.
Sebelum melakukan tradisi amuk-amukan terlebih dahulu dilakuksan semacam seleksi untuk memastikan bahwa peserta amuk-amukan tidak memiliki sentimen pribadi terhadap warga lainnya.
Tentu saja harus diseleksi, karena tradisi amuk-amukan ini melibatkan dua orang dalam pertarungan dengan mengadu api dari “danyuh” yang dibakar. Danyuh adalah daun kelapa kering yang diikat menyerupai sapu.
Senjata danyuh yang tersulut api memiliki nilai filosofis yakni amarah yang muncul dari dalam diri manusia sebaiknya diibaratkan seperti danyuh yang dibakar apinya membesar, kemudian mati dengan cepat. Maknanya, kita sebagai manusia tidak boleh menyimpan amarah dan dendan yang lama.

Tempat dan waktu pelaksanaan tradisi ini tergolong cukup unik, pelaksanaan tradisi ini dilakukan di jalan raya dan di depan pintu gerbang warga serta waktunya adalah pada saat sandikala usai masyarakat melakukan pecaruan di rumah masing-masing.
Tradisi Amuk-amukan tidak mengenal istilah menang atau kalah, semua yang terlibat dalam tradisi ini berada pada suasana kegembiraan, rasa persatuan dalam menyongsong Hari Raya Nyepi. Tradi Amuk-Amukan tergolong sebagai tradisi yang unik, keunikan tradisi ini dapat dilihat dari sarana yang digunakan tradisi ini yang menggunakan “danyuh” yang telah selesai digunakan saat mecaru atau “mebuu-buu di masing-masing rumah warga.

Danyuh yang dibakar ini sebagai cerminan simbol Dewa Agni. Masyarakat Desa Padangbulia Percaya bahwa dengan melakukan tradisi ini akan dapat mengusir kekuatan negatif saat perayaan Hari Raya Nyepi.
Sebagai sebuah tradisi di Desa Padangbulia Buleleng, Amuk-amukan mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman dan diwariskan kepada generasi muda. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini secara umum meliputi nilai religius dan nilai sosial.
Nilai religius yang terkandung dalam tradisi amuk-amukan ini adalah dengan kepercayaan bahwa dengan melakukan tradisi ini dapat melenyapkan amarah dan dendam menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, sehingga dalam perayaan Hari Raya Nyepi berlangsung dengan baik dan khimad.
Sedangkan nilai sosial yang terkandung dalam tradisi ini adalah kebersamaan, pengendalian diri dan tanggung jawab.
Ketiga nilai tersebut nampak pada tradisi amuk-amukan Desa Padang Bulia Buleleng dari persiapan kegiatan sampai pelaksanaan kegiatan tradisi ini. Nilai kebersamaan dapat terlihat saat masyarakat Desa Padangbulia mempersiapkan pelaksanaan tradisi ini dengan cara gotong royong.

Nilai pengendalian diri dapat terlihat pada pelaksanaan tradisi ini, tradisi ini dilakukakan dengan pertempuran api dengan menggunakan sarana “danyuh” , namun dengan pengendalian diri yang kuat tidak ada satupun ada masyarakat yang terluka karena tradisi ini dilakukan tanpa rasa amarah dan dendam.
Nilai tanggung jawab juga dapat terlihat dari pelaksanaan tradisi amuk-amukan ini yang tetap dilaksanakan setiap tahunnya, masyarakat tetap bertanggung jawab dalam melestarikan tradisi ini turun-temurun sehingga tradisi yang penuh dengan filosofi dan nilai-nilai positif ini tetap terjaga dan terlestarikan dengan baik.
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...