“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Tokoh politik bisa dengan leluasa melakukan kapitalisasi budaya untuk sekadar memancing pro kontra publik. Tujuannya, namanya terus menjadi percakapan. Ia pun bakal diingat menjadi “top of mind” dalam benak publik.
Narasi di atas mirip dengan percakapan yang sedang “hype” di media sosial. Tengok saja riuh rendah percakapan tentang hari kasih sayang valentine yang “dipertentangkan” dengan tumpek krulut.
Percakapan valentine vs tumpek krulut mendadak saja menjadi viral di media sosial karena percakapan dipenuhi pro kontra. Itu disebabkan pelatuk wacananya adalah seorang tokoh politik yang saat ini memegang posisi Gubernur Bali, yaitu Wayan Koster.
Iya. Gubernur Koster tengah getol mengusung misi melestarikam budaya Bali dengan semangat dresta Bali. Ia dipersepsi publik demikian atas pilihan sikapnya saat riuhnya isu dresta Bali dan sampradaya. Isu yang sempat juga heboh di tahun 2021 jelang mahasabha PHDI Bali.
Misi untuk menjaga budaya Bali dilakukan Gubernur Koster dengan membawa urusan budaya ke dalam aspek formal pemerintahan. Misalnya saja saat intruksi merayakan rahina Tumpek Uye pada Saniscara Kliwon Uye, Sabtu 22 Januari 2022.
Perayaan Tumpek Uye dirayakan hampir seluruh instansi pemerintahan dan pendidikan atas instruksi Gubernur Koster. Perayaan dipusatkan di Danau Buyan serta dibarengi instasi di wilayah masing-masing pada 29 Januari 2022. Prosesinya melepas burung dan ikan sebagai bentuk cinta, sayang, dan memuliakan satwa.
Bukan Budaya Bali
Strategi melestarikan dresta Bali makin digencarkan. Sukses atas gelaran Tumpek Uye, Gubernur Koster pun kembali merancang perayaan kasih saya pada rahina Tumpek Krulut pada Saniscara Kliwon Krulut, Sabtu 23 Juli 2022. Instruksinya dituangkan dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2022 tentang Tata Titi Kehidupan Masyarakat Bali.
“Hari Kasih Sayang yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari itu bukan budaya kita di Bali. Jadi, sudah waktunya kita melaksanakan Hari Tresna Asih atau Hari Kasih Sayang pada rahina Tumpek Krulut," ujar Gubernur Koster dalam keterangan persnya Selasa (8/2).
Media mainstream pun melakukan framing atas pernyataan itu. “Valentine day 14 Februari bukan budaya Bali,” tulis media.
Sontak pernyataan Gubernur Koster itu menjadi percakapan yang luar biasa di media sosial. Pro kontra saling bersahutan. Meme bertebaran.
Riuh rendah percakapan terhadap sebuah isu dari perspektif komunikasi politik merupakan sebuah keberhasilan bagi tim penyokong seorang tokoh politik. Orkestrasi terhadap sebuah isu yang memancing kontroversi merupakan cara jitu untuk memperkenalkan tokoh politik baru atau semakin menancapkan namanya lebih dalam di benak publik bagi tokoh yang telah populer. Itu merupakan bagian dari strategi kampanye.
Strategi kampanye biasa dilakukan oleh konsultan politik yang ada di belakang tokoh politik yang disebut dengan “spin doctor”.
Spin doctor sangat dibutuhkan tokoh politik. Dia-lah yang bertugas mengatur jalannya kampanye, membuat isi dalam naskah pidato, membuat agenda dan daftar pernyataan yang diucapkan tokoh politik kepada publik. Singkatnya, saat ini dikenal dengan nama konsultan politik.
Kembali lagi ke narasi “valentine bukan budaya Bali”. Narasi ini menjadi percakapan yang ramai karena narasi yang mempertentangkan budaya Bali dengan budaya barat merupakan hal yang baru di Bali.
Selama ini, narasi mempertentangan budaya Bali vs barat jarang terjadi. Bali yang menjadi pusat pariwisata dunia, sebelum pandemi Covid-19, telah didatangi jutaan turis asing setiap tahunnya. Sehingga tak terasa telah terjadi adopsi budaya asing dalam kehidupan Bali, baik dalam bentuk akulutrasi atau hibrid.
Contohnya, kesenian akulutrasi-hibrid adalah pertunjukan pariwisata yang spektakuler dan megah, yaitu Bali Agung - The Legend of Balinese Goddesses, yang mengisahkan kisah cinta Raja Jayapangus - Kang Cing Wei. Pertunjukan yang menggabungkan unsur Bali-Cina-Barat. Atau contoh lainnya bentuk bangunan hotel yang mengadopsi teknologi dan struktur barat (baca asing).
Sentimen negatif-positif
Tim kampanye/konstultan yang disebut spin doctor dalam melakukan kampanye bertugas untuk membangun dan mengangkat citra (image) seorang tokoh politik. Yang dapat dilakukan dengan cara dramatisasi.
Narasi valentine vs budaya Bali merupakan cara dramatisasi yang dilakukan oleh Gubernur Koster untuk selalu mendapatkan perhatian publik. Menjadi percakapan publik yang masif dan intensif. Dalam jangka waktu lama.
Semakin ramai percakapan pro kontra maka semakin baik bagi tokoh politik. Ia akan terus diperbincangkan. Semakin sering dan lama diperbincangkan maka semakin diingat publik. Semakin namanya ada di urutan teratas maka ia telah berhasil menjadi “top of mind” di benak publik dalam kategori tokoh politik.
Cara-cara dramatisasi ini lazim dan digunakan oleh banyak tokoh politik, sekadar untuk memancing percakapan. Misalnya, tokoh politik yang juga Gubernur DKI Anies Baswedan. Sejak persaingan dengan Ahok pada Pilkada DKI 2017 hingga kini ia tetap menjadi perbincangan publik. Itu dilakukan dengan proses dramatisasi sebuah isu atau melalui kebijakan publik. Contohnya, pembuatan patung sepatu, getah-getih, lubang resapan, hingga formula E.
Biasanya cara-cara ini dilakukan tanpa mempedulikan apakah persepsi publik menjadi menjadi negatif atau positif. Yang terpenting bagi tokoh politik adalah ia terus diperbincangkan.
Namun, cara-cara dramatisasi terkadang menjadi bumerang bagi tokoh politik. Jika image yang dibangun terus menerus dengan cara seperti itu maka akan terbangun persepsi bahwa tokoh politik ini tengah membangun citra dengan cara gimik.
Membangun citra dengan cara gimik tidak akan bisa membangun personal brand seorang tokoh politik yang positif. Citranya tidak akan terkesan orisinil dan “genuine”. Citra seperti ini tidak akan bertahan lama.
Jika seorang tokoh politik ingin membangun personal brand yang positif dalam benak publik, maka ia wajib mengkampanyekan kemampuan dirinya secara konsisten. Ketika menjadi pemimpin berupaya menorehkan prestasi melalui kebijakan yang pro rakyat sehingga publik memiliki ikatan emosi positif dengan dirinya. Begitu purna tugas, ia akan menancapkan legasi yang selalu dikenang publik. Layaknya Bapak Bangsa Indonesia, Sukarno.
Selamat Valentine! eh, tresna asih. [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...