Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
Tokoh politik bisa dengan leluasa melakukan kapitalisasi budaya untuk sekadar memancing pro kontra publik. Tujuannya, namanya terus menjadi percakapan. Ia pun bakal diingat menjadi “top of mind” dalam benak publik.
Narasi di atas mirip dengan percakapan yang sedang “hype” di media sosial. Tengok saja riuh rendah percakapan tentang hari kasih sayang valentine yang “dipertentangkan” dengan tumpek krulut.
Percakapan valentine vs tumpek krulut mendadak saja menjadi viral di media sosial karena percakapan dipenuhi pro kontra. Itu disebabkan pelatuk wacananya adalah seorang tokoh politik yang saat ini memegang posisi Gubernur Bali, yaitu Wayan Koster.
Iya. Gubernur Koster tengah getol mengusung misi melestarikam budaya Bali dengan semangat dresta Bali. Ia dipersepsi publik demikian atas pilihan sikapnya saat riuhnya isu dresta Bali dan sampradaya. Isu yang sempat juga heboh di tahun 2021 jelang mahasabha PHDI Bali.
Misi untuk menjaga budaya Bali dilakukan Gubernur Koster dengan membawa urusan budaya ke dalam aspek formal pemerintahan. Misalnya saja saat intruksi merayakan rahina Tumpek Uye pada Saniscara Kliwon Uye, Sabtu 22 Januari 2022.
Perayaan Tumpek Uye dirayakan hampir seluruh instansi pemerintahan dan pendidikan atas instruksi Gubernur Koster. Perayaan dipusatkan di Danau Buyan serta dibarengi instasi di wilayah masing-masing pada 29 Januari 2022. Prosesinya melepas burung dan ikan sebagai bentuk cinta, sayang, dan memuliakan satwa.
Bukan Budaya Bali
Strategi melestarikan dresta Bali makin digencarkan. Sukses atas gelaran Tumpek Uye, Gubernur Koster pun kembali merancang perayaan kasih saya pada rahina Tumpek Krulut pada Saniscara Kliwon Krulut, Sabtu 23 Juli 2022. Instruksinya dituangkan dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2022 tentang Tata Titi Kehidupan Masyarakat Bali.
“Hari Kasih Sayang yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari itu bukan budaya kita di Bali. Jadi, sudah waktunya kita melaksanakan Hari Tresna Asih atau Hari Kasih Sayang pada rahina Tumpek Krulut," ujar Gubernur Koster dalam keterangan persnya Selasa (8/2).
Media mainstream pun melakukan framing atas pernyataan itu. “Valentine day 14 Februari bukan budaya Bali,” tulis media.
Sontak pernyataan Gubernur Koster itu menjadi percakapan yang luar biasa di media sosial. Pro kontra saling bersahutan. Meme bertebaran.
Riuh rendah percakapan terhadap sebuah isu dari perspektif komunikasi politik merupakan sebuah keberhasilan bagi tim penyokong seorang tokoh politik. Orkestrasi terhadap sebuah isu yang memancing kontroversi merupakan cara jitu untuk memperkenalkan tokoh politik baru atau semakin menancapkan namanya lebih dalam di benak publik bagi tokoh yang telah populer. Itu merupakan bagian dari strategi kampanye.
Strategi kampanye biasa dilakukan oleh konsultan politik yang ada di belakang tokoh politik yang disebut dengan “spin doctor”.
Spin doctor sangat dibutuhkan tokoh politik. Dia-lah yang bertugas mengatur jalannya kampanye, membuat isi dalam naskah pidato, membuat agenda dan daftar pernyataan yang diucapkan tokoh politik kepada publik. Singkatnya, saat ini dikenal dengan nama konsultan politik.
Kembali lagi ke narasi “valentine bukan budaya Bali”. Narasi ini menjadi percakapan yang ramai karena narasi yang mempertentangkan budaya Bali dengan budaya barat merupakan hal yang baru di Bali.
Selama ini, narasi mempertentangan budaya Bali vs barat jarang terjadi. Bali yang menjadi pusat pariwisata dunia, sebelum pandemi Covid-19, telah didatangi jutaan turis asing setiap tahunnya. Sehingga tak terasa telah terjadi adopsi budaya asing dalam kehidupan Bali, baik dalam bentuk akulutrasi atau hibrid.
Contohnya, kesenian akulutrasi-hibrid adalah pertunjukan pariwisata yang spektakuler dan megah, yaitu Bali Agung - The Legend of Balinese Goddesses, yang mengisahkan kisah cinta Raja Jayapangus - Kang Cing Wei. Pertunjukan yang menggabungkan unsur Bali-Cina-Barat. Atau contoh lainnya bentuk bangunan hotel yang mengadopsi teknologi dan struktur barat (baca asing).
Sentimen negatif-positif
Tim kampanye/konstultan yang disebut spin doctor dalam melakukan kampanye bertugas untuk membangun dan mengangkat citra (image) seorang tokoh politik. Yang dapat dilakukan dengan cara dramatisasi.
Narasi valentine vs budaya Bali merupakan cara dramatisasi yang dilakukan oleh Gubernur Koster untuk selalu mendapatkan perhatian publik. Menjadi percakapan publik yang masif dan intensif. Dalam jangka waktu lama.
Semakin ramai percakapan pro kontra maka semakin baik bagi tokoh politik. Ia akan terus diperbincangkan. Semakin sering dan lama diperbincangkan maka semakin diingat publik. Semakin namanya ada di urutan teratas maka ia telah berhasil menjadi “top of mind” di benak publik dalam kategori tokoh politik.
Cara-cara dramatisasi ini lazim dan digunakan oleh banyak tokoh politik, sekadar untuk memancing percakapan. Misalnya, tokoh politik yang juga Gubernur DKI Anies Baswedan. Sejak persaingan dengan Ahok pada Pilkada DKI 2017 hingga kini ia tetap menjadi perbincangan publik. Itu dilakukan dengan proses dramatisasi sebuah isu atau melalui kebijakan publik. Contohnya, pembuatan patung sepatu, getah-getih, lubang resapan, hingga formula E.
Biasanya cara-cara ini dilakukan tanpa mempedulikan apakah persepsi publik menjadi menjadi negatif atau positif. Yang terpenting bagi tokoh politik adalah ia terus diperbincangkan.
Namun, cara-cara dramatisasi terkadang menjadi bumerang bagi tokoh politik. Jika image yang dibangun terus menerus dengan cara seperti itu maka akan terbangun persepsi bahwa tokoh politik ini tengah membangun citra dengan cara gimik.
Membangun citra dengan cara gimik tidak akan bisa membangun personal brand seorang tokoh politik yang positif. Citranya tidak akan terkesan orisinil dan “genuine”. Citra seperti ini tidak akan bertahan lama.
Jika seorang tokoh politik ingin membangun personal brand yang positif dalam benak publik, maka ia wajib mengkampanyekan kemampuan dirinya secara konsisten. Ketika menjadi pemimpin berupaya menorehkan prestasi melalui kebijakan yang pro rakyat sehingga publik memiliki ikatan emosi positif dengan dirinya. Begitu purna tugas, ia akan menancapkan legasi yang selalu dikenang publik. Layaknya Bapak Bangsa Indonesia, Sukarno.
Selamat Valentine! eh, tresna asih. [T]
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...