Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Empat danau yang ada di Pulau Bali merupakan ekosistem yang penting bagi kawasan di hilirnya. Eksistensi itu pun dicatat dalam banyak pustaka tradisional dan dipraktikkan dalam berbagai tradisi budaya masyarakat.
Salah satunya bentuk pemuliaan terhadap danau sebagai hulu peradaban Bali dapat ditemukan di Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli. Praktik dan narasi pemuliaan itulah yang ditelusuri melalui penelitian yang dilakukan Lingkar Studi Batur bekerja sama dengan Yayasan Puri Kauhan Ubud.
Penelitian itu merupakan bagian dari kegiatan Sastra Saraswati Sewana 2022 "Toya Uriping Bhuwana Usadhaning Sangaskara".
Koordinator kajian, Jero Penyarikan Duuran Batur (IK Eriadi Ariana) dalam paparannya mengatakan masyarakat Batur memiliki sejumlah tradisi pemuliaan, misalnya danu kreti (pakelem), mendak toya, hingga siklus pujawali yang sangat erat dengan pemuliaan danau. Secara tradisi, masyarakat Batur pun meyakini ada 11 tirtha (air suci) utama di kawasan Kaldera Batur milik Ida Bhatari Dewi Danuh.
"Kesebelas tirtha itu meliputi Tirtha Telaga Waja, Bantang Anyud, Danu Gadang, Danu Kuning, Pelisan, Mangening, Pura Jati, Rejeng Anyar, Toya Bungkah, Toya Mas Mampeh, dan Tirtha Perapen. Selain itu, Pura Alas Arum Batur juga memiliki empat tirtha yang dimuliakan, yakni Tirtha Mas Munduk, Tirtha Taman, Tirtha Asah Luhur, dan Tirtha Manik Muncar, demikian juga Pura Tuluk Biyu Batur memiliki Tirtha Sapuh Jagat dan Tirtha Air Hawang atau Tirtha Banyu Geger," jelasnya.
Ketika Sasih Katiga, masyarakat Batur menggelar ritual mendak toya, di mana seluruh mata air digelar pujawali. Pada waktu yang sama, juga digelar pujawali di Pura Jabakuta yang menghormati entitas bhatara yang berkuasa atas hutan dan pertanian. Adapun kurban upacaranya adalah kijang. "Tradisi itu mengindikasikan kesadaran manusia Batur akan pentingnya keberadaan air, termasuk hutan sebagai kawasan resapan. Sarana kurban kijang dapat dimaknai sebagai indikator kelestarian lingkungan. Jika masih ditemukan kijang, artinya habitat hutan masih terjaga," jelasnya.
Tradisi ini juga didukung keberadaan alas kekeran dan konsep Pasihan Bhatari Sakto Batur. Alas kekeran mengacu pada hutan konservasi ala masyarakat adat, sedangkan pasihan adalah konsep solidaritas komunitas hulu-hilir, antara komunitas yang menjaga kawasan hulu dengan masyarakat yang memanfaatkan air di kawasan hilir.
"Namun, tantangannya hari ini adalah bagaimana tradisi pemuliaan air ini bisa menjadi laku yang nyata, mengingat Danau Batur sendiri memiliki dua masalah serius, yakni pendangkalan dan pencemaran. Konsep alas kekeran dan solidaritas ini bisa direvitalisasi dengan melibatkan berbagai elemen lebih luas," katanya.
Hulu Peradaban
Pembina Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Bagus Ari Bramanta, dalam sambutannya mengatakan bahwa masyarakat Bali jelas diakui dan diyakini sebagai hulu peradaban Bali. "Bali beruntung memiliki empat sumber air berupa danau yakni Danau Batur, Danau Buyan, Danau Tamblingan, dan Danau Beratan," katanya.
Khusus Danau Batur, aliran air yang berhulu di danau ini adalah pusat-pusat peradaban sejak masa silam, misalnya kawasan DAS Tukad Pakerisan. Di sepanjang kawasan ini dapat ditemukan situs peninggalan dari Tirta Empul, Mengening, hingga Gunung Kawi.
"Pada masa Raja Marakata dibuat Ambarawati Ashram yang berlokasi di Gunung Kawi. Dalam ashram ini banyak mempelajari tentang pertanian dan lingkungan, dan peninggalan dari ashram tersebut adalah “Subak Pulagan” yang sudah mendapatkan penghargaan “heritage”. Banyak peninggalan yang memperlihatkan perhatian pendahulu kita pada mata air (memuliakan air), bahkan masih bisa kita nikmati hari ini, di seputaran Tirta Empul banyak ditemui sumber mata air yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Marakata," tuturnya.
Hingga kini, lanjutnya, masih dilestarikan ritual-ritual untuk memuliakan air.
Hanya saja, tantangannya juga semakin jelas dihadapi, misalnya investasi yang menyebabkan terlupakannya pentingnya memuliakan air. "Bahkan beberapa investasi tidak menghiraukan sumber mata air, padahal hingga kini, air dipercaya sebagai sumber kehidupan hingga sumber pengobatan. Jika dulu air bisa langsung kita konsumsi dari sumbernya, hari ini air harus diolah dulu baru bisa dikonsumsi," katanya.
Tantangan Kontemporer, Penyadaran lewat Bahasa dan Sastra
Hasil kajian Lingkar Studi Batut mendapat respons mendalam dari tiga panelis yang dihadirkan, yakni Dr. I Ngurah Suryawan, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, dan Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum. "Kajian yang disajikan oleh Lingkar Studi Batur belum menyentuh persoalan kontemporer dan terjebak dalam romantisme sastra yang tidak mengakar (tidak berdasar pada sosial, politik, ekonomi berbasis wilayah). Hari ini alam telah mengalami perubahan yang begitu signifikan. Sumber daya alam kini diprivatisasi, bisa dijual, dan bisa menjadi hak milik perseorangan atau kelompok," kata Ngurah Suryawan.
Ia menjelaskaan, privatisasi dan kapitalisme adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Oleh karena itu struktur ekonomi dan wacana kontemporer penting disentuh saat ini. Sebagai contoh, produksi air-air kemasan masuk begitu masif ke wilayah pelosok-pelosok desa dan mengganti kearifan lokal yang sudah eksis sejak zaman dahulu, seperti: air klebutan, patirtan, dan lain-lain.
"Pertanyaan selanjutnya, apakah sumber air yang dimiliki Batur sudah dilirik oleh korporasi untuk menanam investasi dengan mengabaikan nilai-nilai kebudayaan? Tantangan-tantangan besar dari kelompok studi tentang natural resources adalah bagaimana melihat peran kelompok dalam penyelesaian persoalan. Bagaimana ke depan wadah seperti Lingkar Studi Batur dapat lebih sensitif untuk melihat fenomena kontemporer dari sudut pandang ekonomi-politik," harapnya.
Selanjutnya, Cokorda Bayu Putra, mengatakan Danau Batur memang memiliki peran yang sangat vital. Dalam praktik tradisi, akademisi Unhi Denpasar ini menilai masyarakat Batur telah menciptakan praktik good governance, yakni adanya keterbukaan informasi dalam manajemen Desa Adat Batur. "Tradisi Batur memiliki sistem komunikasi yang baik dari sistem nyuratan sebagai bentuk penyampaian informasi dalam pelaksanaan ritual di Ulun Danu Batur. Hal ini memperlihatkan perencanaan yang baik dari pangempon," katanya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa saat ini berbagai persoalan juga tengah dihadapi Batur. Bahkan, Danau Batur masuk sebagai salah satu danau skala prioritas nasional.
"Terbitnya Perpres 61 tentang Penyelamatan Danau Skala Prioritas Nasional menempatkan Danau Batur sebagai salah satu dari 15 danau skala prioritas nasional. Berangkat dari Perpres tersebut, sebaiknya Lingkar Studi Batur ikut berpartisipasi dalam tim penyelamatan Danau Batur. Ikut dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi," harapnya.
Sementara itu, Putu Eka Guna Yasa, dari perspektif bahasa dan sastra, menguatkan prinsip pemuliaan kawasan Batur. Ia mengatakan banyak pustaka tradisional yang memang menyinggung Batur. Kemuliaan Batur digambarkan baik secara harmonis yang tenang maupun dalam suasana disharmonis dengan penggambaran yang menakutkan.
Data itu mengindikasikan potensi bahasa dan sastra sebagai media penyadaran bagi masyarakat. Bahasa dan sastra dapat digunakan sebagai pagar yang berfungsi mengatur laku masyarakat. Bahasa dinilai dapat menjadi fajar kesadaran, atau basa pinaka pangendag budhi citta, sedangkan sastra adalah penjaga dunia, "pangraksa bhuwana".
"Sastra dan bahasa memiliki tiga fungsi utama yakni: uning atau fungsi mengetahui jati diri sebagai manusia, 'nawur karma bandana' dari hutang kita pada bumi; eling atau sadar bahwa kita memiliki utang; dan tiling yakni teguh dan konsisten terhadap janji yang kita buat," katanya. [T][*]
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...