Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
ERA digital lahir, dan sejak itu terjadi pergeseran moral. Kaum milenial menjadi pemeran utamanya. Pemeran utama panggung digital dengan keterbatasan mental.
Pertengahan Desember ini (2021) kita disuguhkan berita yang menyesakkan dada. Berita yang mau tidak mau membuat kita meneteskan air mata. Sedih. Prihatin.
“Empat Anak di Bawah Umur Setubuhi Cewek 12 Tahun”. Siapa tak prihatin membaca berita ini. Siapa tidak sedih melihat realitas ini. Orangtua mana yang tidak meneteskan air mata ketika mendapati kenyataan generasi seperti ini.
Rasa sedih tidak berhenti di sana. Rasa prihatin rasanya tak cukup. Ternyata mereka (anak-anak para pelaku adegan yang seharusnya dilakukan orangtua dewasa yang telah terikat dalam perkawinan yang sah) merekam adegan tersebut. Mereka memvideokan aksi seks bebasnya. Dan ada yang menyebarkan ke media sosial. Viral. Ya aksi anak-anak di bawah umur itu viral di media sosial.
Dalam berita itu dinarasikan mereka suka sama suka. Tak ada paksaan, apalagi pemerkosaan. Bahkan ada transaksi atas semua adegan itu. Duh!
Sudah demikian rapuhkah moralitas generasi milenial kita? Benarkah ini bagian dari ‘buah’ yang diproduksi oleh revolusi industri 4.0?
Revolusi industri 4.0 ditandai dengan segala sesuatu yang serba digital. Ia mengumandangkan sejumlah harapan. Banyak hal positif yang dijanjikan kepada manusia. Banyak urusan menjadi lebih --- bahkan sangat --- mudah karena diproses secara digital. Belanja bisa secara online. Belajar, konsultasi kesehatan, silaturahmi dengan keluarga, sampai membayar segala tagihan secara online. Betul-betul era digital ini memudahkan banyak aktivitas manusia.
Namun, revolusi industri 4.0 juga memunculkan setumpuk kecemasan, dan seabrek ketakutan. Era revolusi industri 4.0 atau era digital diwarnai dengan munculnya beragam aplikasi media sosial. Ada yang namanya Facebook, ada Twitter, Line, Fanfage, Instagram, Youtube, Snack Video sampai Tik Tok. Dengan beragam aplikasi tersebut orang bisa interaksi secara daring meskipun masing-masing berada di tempat yang berjauhan. Manusia bisa saling berinteraksi tanpa terhalang tirai waktu dan tempat. Dan semua itu bisa dilakukan hanya dengan menggunakan benda kecil yang cerdas, bernama handphone.
Aplikasi media sosial memang banyak dimanfaatkan untuk hal-hal positif. Misalnya untuk hiburan, untuk mencari informasi tentang suatu ilmu, atau untuk mencari resep masakan. Ia bahkan bisa dijadikan ladang mencari nafkah. Di youtube, misalnya. Seorang youtuber bisa menghasilkan jutaan bahkan ratusan juta dari konten-konten yang ditayangkan di kanal youtube-nya.
Namun, tak jarang media sosial itu dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif. Dimanfaatkan untuk menyebarkan berita hoax, memfitnah, menebarkan kebencian. Konten-konten media sosial banyak yang memprovokasi, mengadu domba hingga saling caci maki antar penggunanya.
Konten-konten medsos lainnya juga tak jarang menayangkan foto atau video yang vulgar, erotis, dan tak layak dikonsumsi masyarakat, apalagi anak-anak di bawah umur. Namun, realitanya, anak-anak begitu mudahnya mengakses konten-konten yang tak layak tersebut. Ya lewat HP mereka.
Kabarnya, salah seorang pemeran dalam adegan video anak-anak di bawah umur tersebut biasa main medsos. Sebelum kasus video tersebut, salah seorang diantara mereka pernah tampil dengan gambar-gambar vulgar di Tik Tok. Ketika HP-nya disita oleh gurunya, isi HP-nya banyak foto-foto dan video-video ‘dewasa’. Foto-foto dan video-video tersebut bisa jadi di-download dari medsos atau diperoleh dari chat-chat dengan ‘orang lain’ di grup-grup ‘dewasa’.
Kita jadi teringat sebuah film dokumenter “The Social Dilemma” yang disutradarai Jeff Orlowski. Film yang berisi pengakuan dari beberapa mantan pegawai perusahaan raksasa teknologi dan media sosial. Kata mereka, semua aktivitas yang kita lakukan di media sosial diawasi, direkam dan diukur oleh sebuah sistem yang dibuat sedemikian rupa. Konten apa yang sedang kita lihat, berapa lama kita melihatnya semua diawasi dan direkam.
Dengan pengawasan dan rekaman tersebut, sistem bisa memberikan rekomendasi kepada pengguna konten, apa saja yang layak ditonton berikutnya. Tujuannya jelas, agar si pengguna bisa berlama-lama di media sosial tersebut. Semakin lama pengguna menonton konten, pemilik aplikasi medsos akan semakin untung. Iklan akan semakin mengalir, penghasilan tambah membukit.
Tak heran ketika kita menonton suatu konten video di youtube misalnya, maka video yang sejenis atau serupa akan direkomendasikan secara terus-menerus. Kalau kita sering menonton lagu India, maka akan bermunculan lagu-lagu India direkomendasikan untuk ditonton berikutnya. Atau kalau kita tonton video ceramah seorang tokoh agama, maka muncul video-video serupa direkomendasikan untuk ditonton. Dan jika yang ditonton konten dewasa, maka terus-menerus sistem akan merekomendasikan konten-konten sejenis. Sampai kita sendiri berhenti membuka aplikasi tersebut.
Bahkan ketika kita membuka kembali aplikasi itu, kita akan disajikan konten yang serupa dengan konten yang sering kita tontong, atau yang terakhir kita tonton. Begitulah seterusnya. Sistem seakan tahu, konten-konten apa yang kita senangi.
Bisa dibayangkan kalau itu terjadi atau dilakukan oleh anak-anak kita. Kalau anak-anak kita biasa berlama-lama bermain media sosial dan yang direkomendasikan kepada mereka adalah konten-konten yang tak mendidik, tentu ada gangguan pada sistem kerja otak kecil mereka. Mereka akan kecanduan, dan pada akhirnya mempraktikkan konten yang mereka tonton dalam kehidupan nyata.
Jadi, betapa bahayanya media sosial. Ia bisa meracuni generasi digital. Revolusi industri 4.0 yang diharapkan banyak memberikan kemudahan dan kenyamanan, justru bisa menjadi petaka bagi moral anak-anak bangsa. Inilah yang menjadi kecemasan kita. Inilah yang memunculkan rasa takut kita di balik kehebatan revolusi industri 4.0.
Tapi apa memang kita harus mencemaskan itu? Masih pentingkah mengurusi moral anak-anak bangsa di era digital seperti sekarang ini? Masih perlukah kita sedih melihat anak-anak di bawah umur melakukan adegan ‘dewasa’? Kalau kita masih merasa cemas. Kalau kita masih menganggap penting moral anak-anak dalam kehidupan ini. Kalau kita masih merasa sedih melihat anak-anak kita teracuni seks bebas. Harus ada yang kita lakukan. Bisa dengan galakkan literasi digital. Gelorakan internet positif. Tanamkan penggunaan medsos positif ke dalam diri anak-anak bangsa. Kuatkan mental mereka menghadapi gempuran medsos negatif yang menyerbu secara masif lewat HP-HP mereka.[T]
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...