Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
ERA digital lahir, dan sejak itu terjadi pergeseran moral. Kaum milenial menjadi pemeran utamanya. Pemeran utama panggung digital dengan keterbatasan mental.
Pertengahan Desember ini (2021) kita disuguhkan berita yang menyesakkan dada. Berita yang mau tidak mau membuat kita meneteskan air mata. Sedih. Prihatin.
“Empat Anak di Bawah Umur Setubuhi Cewek 12 Tahun”. Siapa tak prihatin membaca berita ini. Siapa tidak sedih melihat realitas ini. Orangtua mana yang tidak meneteskan air mata ketika mendapati kenyataan generasi seperti ini.
Rasa sedih tidak berhenti di sana. Rasa prihatin rasanya tak cukup. Ternyata mereka (anak-anak para pelaku adegan yang seharusnya dilakukan orangtua dewasa yang telah terikat dalam perkawinan yang sah) merekam adegan tersebut. Mereka memvideokan aksi seks bebasnya. Dan ada yang menyebarkan ke media sosial. Viral. Ya aksi anak-anak di bawah umur itu viral di media sosial.
Dalam berita itu dinarasikan mereka suka sama suka. Tak ada paksaan, apalagi pemerkosaan. Bahkan ada transaksi atas semua adegan itu. Duh!
Sudah demikian rapuhkah moralitas generasi milenial kita? Benarkah ini bagian dari ‘buah’ yang diproduksi oleh revolusi industri 4.0?
Revolusi industri 4.0 ditandai dengan segala sesuatu yang serba digital. Ia mengumandangkan sejumlah harapan. Banyak hal positif yang dijanjikan kepada manusia. Banyak urusan menjadi lebih --- bahkan sangat --- mudah karena diproses secara digital. Belanja bisa secara online. Belajar, konsultasi kesehatan, silaturahmi dengan keluarga, sampai membayar segala tagihan secara online. Betul-betul era digital ini memudahkan banyak aktivitas manusia.
Namun, revolusi industri 4.0 juga memunculkan setumpuk kecemasan, dan seabrek ketakutan. Era revolusi industri 4.0 atau era digital diwarnai dengan munculnya beragam aplikasi media sosial. Ada yang namanya Facebook, ada Twitter, Line, Fanfage, Instagram, Youtube, Snack Video sampai Tik Tok. Dengan beragam aplikasi tersebut orang bisa interaksi secara daring meskipun masing-masing berada di tempat yang berjauhan. Manusia bisa saling berinteraksi tanpa terhalang tirai waktu dan tempat. Dan semua itu bisa dilakukan hanya dengan menggunakan benda kecil yang cerdas, bernama handphone.
Aplikasi media sosial memang banyak dimanfaatkan untuk hal-hal positif. Misalnya untuk hiburan, untuk mencari informasi tentang suatu ilmu, atau untuk mencari resep masakan. Ia bahkan bisa dijadikan ladang mencari nafkah. Di youtube, misalnya. Seorang youtuber bisa menghasilkan jutaan bahkan ratusan juta dari konten-konten yang ditayangkan di kanal youtube-nya.
Namun, tak jarang media sosial itu dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif. Dimanfaatkan untuk menyebarkan berita hoax, memfitnah, menebarkan kebencian. Konten-konten media sosial banyak yang memprovokasi, mengadu domba hingga saling caci maki antar penggunanya.
Konten-konten medsos lainnya juga tak jarang menayangkan foto atau video yang vulgar, erotis, dan tak layak dikonsumsi masyarakat, apalagi anak-anak di bawah umur. Namun, realitanya, anak-anak begitu mudahnya mengakses konten-konten yang tak layak tersebut. Ya lewat HP mereka.
Kabarnya, salah seorang pemeran dalam adegan video anak-anak di bawah umur tersebut biasa main medsos. Sebelum kasus video tersebut, salah seorang diantara mereka pernah tampil dengan gambar-gambar vulgar di Tik Tok. Ketika HP-nya disita oleh gurunya, isi HP-nya banyak foto-foto dan video-video ‘dewasa’. Foto-foto dan video-video tersebut bisa jadi di-download dari medsos atau diperoleh dari chat-chat dengan ‘orang lain’ di grup-grup ‘dewasa’.
Kita jadi teringat sebuah film dokumenter “The Social Dilemma” yang disutradarai Jeff Orlowski. Film yang berisi pengakuan dari beberapa mantan pegawai perusahaan raksasa teknologi dan media sosial. Kata mereka, semua aktivitas yang kita lakukan di media sosial diawasi, direkam dan diukur oleh sebuah sistem yang dibuat sedemikian rupa. Konten apa yang sedang kita lihat, berapa lama kita melihatnya semua diawasi dan direkam.
Dengan pengawasan dan rekaman tersebut, sistem bisa memberikan rekomendasi kepada pengguna konten, apa saja yang layak ditonton berikutnya. Tujuannya jelas, agar si pengguna bisa berlama-lama di media sosial tersebut. Semakin lama pengguna menonton konten, pemilik aplikasi medsos akan semakin untung. Iklan akan semakin mengalir, penghasilan tambah membukit.
Tak heran ketika kita menonton suatu konten video di youtube misalnya, maka video yang sejenis atau serupa akan direkomendasikan secara terus-menerus. Kalau kita sering menonton lagu India, maka akan bermunculan lagu-lagu India direkomendasikan untuk ditonton berikutnya. Atau kalau kita tonton video ceramah seorang tokoh agama, maka muncul video-video serupa direkomendasikan untuk ditonton. Dan jika yang ditonton konten dewasa, maka terus-menerus sistem akan merekomendasikan konten-konten sejenis. Sampai kita sendiri berhenti membuka aplikasi tersebut.
Bahkan ketika kita membuka kembali aplikasi itu, kita akan disajikan konten yang serupa dengan konten yang sering kita tontong, atau yang terakhir kita tonton. Begitulah seterusnya. Sistem seakan tahu, konten-konten apa yang kita senangi.
Bisa dibayangkan kalau itu terjadi atau dilakukan oleh anak-anak kita. Kalau anak-anak kita biasa berlama-lama bermain media sosial dan yang direkomendasikan kepada mereka adalah konten-konten yang tak mendidik, tentu ada gangguan pada sistem kerja otak kecil mereka. Mereka akan kecanduan, dan pada akhirnya mempraktikkan konten yang mereka tonton dalam kehidupan nyata.
Jadi, betapa bahayanya media sosial. Ia bisa meracuni generasi digital. Revolusi industri 4.0 yang diharapkan banyak memberikan kemudahan dan kenyamanan, justru bisa menjadi petaka bagi moral anak-anak bangsa. Inilah yang menjadi kecemasan kita. Inilah yang memunculkan rasa takut kita di balik kehebatan revolusi industri 4.0.
Tapi apa memang kita harus mencemaskan itu? Masih pentingkah mengurusi moral anak-anak bangsa di era digital seperti sekarang ini? Masih perlukah kita sedih melihat anak-anak di bawah umur melakukan adegan ‘dewasa’? Kalau kita masih merasa cemas. Kalau kita masih menganggap penting moral anak-anak dalam kehidupan ini. Kalau kita masih merasa sedih melihat anak-anak kita teracuni seks bebas. Harus ada yang kita lakukan. Bisa dengan galakkan literasi digital. Gelorakan internet positif. Tanamkan penggunaan medsos positif ke dalam diri anak-anak bangsa. Kuatkan mental mereka menghadapi gempuran medsos negatif yang menyerbu secara masif lewat HP-HP mereka.[T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...