Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Ibu adalah subjek teater yang tak akan pernah ada habisnya. Dia adalah subjek yang menggerakkan semua energi di rumah. Pagi tadi saya singgah ke rumah Ibu saya, yang sedang berada di dapur, meramu masakan. Saya kadang bertanya, dari empat puluh tahun lalu dia memasak menu buat keluarga, hingga detik ini.
Apakah dia tak bosan? Mengapa selalu bisa dia pertahankan passion memasak itu dengan kualitas yang sama pada rasa masakannya. Mengapa dia tak pernah menunjukkan rasa bosan.
Pasca kehilangan bapak, ibu saya bahkan lebih suntuk di dapur. Dia merasa, itu salah satu hiburan baginya, agar tidak terlalu sedih lagi mengingat Bapak. Tapi tentu, tidak sesederhana itu. Memasak apapun, ingatan soal Bapak pasti tetap ada. Tapi setidaknya memasak adalah cara menunjukkan bahwa dia tetap produktif membuat rasa di dalam keluarga tetap terjaga.
Di hari ibu ini, saya singgah untuk menengok ibu di rumah, tepatnya di dapur, untuk memastikan dia baik-baik saja. Saya selalu tak bisa bersikap sok romantic dengan memberi ibu bunga. Saya bukan tipe itu. Tapi saya hanya hadir, bercerita, menunjukkan sikap ceria dan cerewet seperti biasanya, akrab dan tak berjarak. Tak ada audiens kecuali kami berdua. Seperti teater yang mengalir sederhana saja. Dengan atau tanpa audiens, seorang ibu tetap bekerja. Mengalir saja.
Teater dalam konteks kehidupan seorang ibu saya alami nyata sejak saya menjadi ibu. Tak ada lagi single mind of the self, atau myself yang benar-benar tunggal. Semua self terhubung, myself, yourself, dan ourselves. Hidup menjadi teknis dan chaotic kadang-kadang. Agenda jadi kompleks, dalam konteks saya sendiri, yang saya pikirkan adalah struktur kerja ibu dalam irisan-irisan kompleksitas diri saya sebagai subjek dalam beberapa hal.
Saya dan suami memiliki peran untuk menghidupkan visi hidup kami sebagai pasangan, sembari menjaga stabilitas pusat-pusat energi lain yang kami kembangkan seperti di Mahima dan Tatkala. Sebagai individupun kami tidak lepas dari keinginan-keinginan sebagai individu yang kadang harus beradaptasi atau berevolusi bahkan kadang berkonfrontasi dengan keinginan keinginan yang lain.
Intinya, sebagai ibu saya berkompromi dengan keadaan, konteks, dan isu yang mempengaruhi saya dan keluarga. Satu mempengaruhi semuanya. Oleh karena itu seorang ibu, secara ideal harus sehat secara fisik dan mental. Kuat dan tangguh di segala cuaca. Diusahakan. Karena di bahunya bertengger beragam tanggung jawab, beragam isu, beragam peristiwa yang harus bijak ia respon.
Teater adalah gerak dengan tujuan. Dengan perspektif itu, para ibu selalu menciptakan teater-teater kecil di rumahnya, teater di dapur, teater di kamar tidur, teater di halaman rumah, teater di kamar mandi, dan bagian rumah lainnya. Jika semua dinding di dalam rumah mampu menyimpan semua kisah para ibu, dan dinding itu kita bisa peras ingatannya dan kita bukukan, maka akan lahir ribuan buku, yang memiliki narasi-narasi personal yang mungkin tidak laku dalam buku-buku sejarah.
Tak ada kemenangan besar dan penaklukan wilayah dan hal-hal yang bersifat pahlawan lainnya, yang ada mungkin omelan-omelan kecil, tagihan yang belum dibayar, pipa bocor, gas yang tiba-tiba habis saat masak, atau garam yang tiba-tiba naik harganya. Tapi itulah teater. Teater off stage adalah teater realitas, teater kenyataan. Inilah yang membuatnya menjadi khusus dan berbeda. Ibu yang selalu menjadi subjek dalam teater off stage atau realitas menjadi merasa tidak perlu tampil dalam teater on stage atau teater panggung yang palsu, karena buat apa. Mereka bukan aktor, mereka bukan penampil. Kisah merekapun mereka anggap tidak ada bagus-bagusnya. Cukup disimpan sendiri saja.
Tapi bagi saya tidak demikian. Justru, teater menjadi dokumentasi bagi kisah-kisah ibu yang terpendam itu. Teater adalah upaya menziarahi kuburan-kuburan ingatan yang ingin dilupakan namun jejaknya tak dapat dihapuskan dari ingatan.
Untuk itulah dalam teater dokumenter yang saya buat di tahun 2018 dan lolos hibah Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi, saya menekankan pentingnya teater sebagai proses mendengar dan membangkitkan empati di antara sesama ibu. Kita kadang tak menyadari bahwa racun-racun emosi terpendam bisa menjadi kontraproduktif jika tidak disalurkan, atau dibicarakan, dibagikan atau bahkan dalam konteks project 11 ibu yang saya usulkan, dipanggungkan.
Beberapa berita tentang pemanggungan sebelas ibu, refleksi dan review jurnalis soal pemanggungan ini ini dapat dibaca di link berikut.
Tujuan pemanggungan ini tidaklah muluk-muluk. Bahkan dia bukanlah tujuan, hanya proses untuk menjadikan perjalanan ibu menjadi bermakna, bukan hanya baginya, namun bagi orang lain. Bagaimana cerita yang biasa-biasa saja baginya menjadi luar biasa bagi orang lain. Itulah tujuan berbagi. Dan kemudian ketika pemanggungan telah usai di tahun 2018, tahun 2019 saya menyusun dokumentasinya. Lalu hadirlah pandemic hampir dua tahun. Baru di ujung tahun ini, saya memberanikan diri meluncurkan buku ini, itupun dengan harapan sederhana saja, agar perjalanan ini tercatat.
Theater of Society dalam konteks tulisan ini soal dokumentasi 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah adalah refleksi masyarakat dalam narasi-narasi kecil di dalamnya yang sesungguhnya narasi kecil itulah yang membentuk narasi besar dalam masyarakat. Di dalam kisah 11 ibu ini ada ibu single parent puluhan tahun, ada ibu profesor yang menjadi penjaga dan penyembuh keluarga, ada tukang batu yang banting tulang untuk anak cucu, ada ibu yang tuli dan bisu yang menjadi pahlawan ekonomi, ada juga seniman yang meninggalkan profesi dokter untuk memilih menjadi manusia seutuhnya, termasuk ada pensiunan bidan, dan banyak ibu lainnya yang tak kalah mengharukan kisahnya.
Dengan dicatatnya perjalanan ini, sebuah narasi lahir, bahwa seorang ibu tak pernah selesai menjadi dirinya, memperbaiki dirinya, menjadi makhluk yang terbaharui dengan pelajaran dan pengalaman baru. Teater adalah sebuah pembelajaran yang memungkinkan mereka belajar dan tak merasa digurui, karena semua adalah guru sekaligus murid bagi yang lainnya.
Dengan terbentuknya theater of society sebagai refleksi masyarakat ia akan menjadi bekal bagi kerja-kerja berikutnya, karya-karya berikutnya, gagasan demi gagasan yang melengkapinya dan yang terhubung dengannya. Jika theater of society ini menjadi sebuah etalase berpikir para ibu, tentunya masyarakat akan terdampak, minimal bagi keluarga dekat mereka. Society of theater atau masyarakat teater akan menjadi sebuah kesadaran bahwa narasi kecil akan terus mendapatkan tempatnya, terus mengukuhkan tempatnya sebagai sumber belajar tanpa henti. Dan itu telah lama bermula, lahir dan tumbuh dari para ibu.
Selamat hari ibu bagi semua ibu. Semoga selalu sehat dan berbahagia. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...