Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Dua orang penari meliak-liuk di atas panggung, penari perempuan tampak mendominasi gerakan. Bekal tubuhnya tidak tampak seperti penari Bali, perempuan yang mengenakan pakaian dari rangkaian pis bolong itu berulang kali menyusur bagian-bagian panggung yang kosong.
Sementara penari laki-laki, hanya mengenakan kulot masuk ke panggung, menari seperti menghempaskan udara sekitarnya, perlahan, senapas dengan senandung yang dilafalkan seorang penyanyi yang mengenakan pakaian serba hitam.
Adegan-adegan sembrautan, menelisik pendaran lampu-lampu yang jatuh di lantai. Dentuman musik semakin keras tak berarah, kadang kepala saya ikut bergoyang, kadang diam begitu saja, membiarkan pekaknya menggempur telinga.
Semakin pekak, semakin cepat dua penari bergerak, tubuhnya dipaksa menyentuh batas maksimal, akhirnya penari perempuan berteriak kencang – berulang kali.
Sekiranya begitulah tangkapan visual mata saya atas performing art Murka garapan Tisha Sara dan Aga di Ubud Performing Art Moving II, Taman Dedari - The Royal Pitamaha, Ubud, pada Jumat 17 Desember 2021.
Garapan tersebut mengisahkan Dewi Durga yang murka. Pada premis awal pembawa acara menanyakan kepada penonton, apakah kemarahan Dewi Durga mampu mengalahkan seluruh dimensi ego para laki-laki ?
Performing Art biasanya akan mengacu pada suatu wacana tertentu, lebih banyak akan bermain pada kilasan simbol, makna sebagai rentang daya ungkap penciptanya. Saya pun menangkap sejumlah simbol, baik benda, adegan atau ruang yang diperkosa oleh Tisha dan Agha.

Panggung yang disediakan panitia di Taman Dedari itu, berukiran Boma di atas pintu utama, ukiran khas Bali di sejumlah sisinya, serta beberapa meja bundar yang saya rasa diperuntukan untuk menyantap hidangan bersama keluarga. Ruang mapan tersebut justru bertolak belakang dengan nomor pendek yang mereka sajikan.
Ketegangan visual itu sangat terasa, setidaknya untuk saya pribadi dalam kacamata penonton yang ingin meminta lebih pada pencipta. Alur dramatik sengaja dibuat acak-acakan, mesti samar-samar dapat terbaca dari pola aksi reaksi gerak penari. Pada bagian menuju klimaks justru mereka tampak menghanyutkan, ini sangat terbantu dari komposisi musik yang saya rasa, memberi warna lain pada panggung mapan itu.
Selain itu saya tertarik dengan pakaian yang dikenakan oleh penari perempuan, rangkaian dari pis bolong (uang berlubang). Pis Bolong kita kenal sebagai alat tukar pada zaman dahulu, merupakan satu jejak alkulturasi dari bangsa tionghoa yang datang ke Bali untuk berdagang. Bahkan alkulturasi ini berlanjut pada ritus ritual yang orang Bali saat itu.
Konteks kebudayaan itu hadir sebagai pakaian, didesain menyerupai bikini berumbai-rumbai. Yang mungkin saja jika didengarkan secara teliti, menghasilkan bunyi gesek - kecil. Pis bolong yang kita kenal berwarna hitam, atau keperakan direkonstruksi menjadi warna emas, salah satu warna Bali untuk meneguhkan kemegahan.

Ada semacam simbol sejarah dialihwanahakan ke bentuk oleh Tisha Sara yang berprofesi sebagai fashion design. Namun sayang garapan tubuhnya belum matang, sehingga terkesan urakan, menihilkan pemaknaan secara keseluruhan. Simbol-simbol harus dibaca ulang lagi, tidak menyatu dalam kesatuan sajian pertunjukan. Tidak sebagai informasi terang dalam teks pementasan.
Tentu ruang menjadi pertimbangan saya untuk menelisik pementasan tersebut, di Taman Dedari yang sejumlah sudutnya dipenuhi dengan patung bidadari, cantik, gigantik, dan penuh estetika keindahan. Tiba-tiba nyempil, ada Dewi Durga menari dalam kemarahannya.
Pertanyaannya, apa yang membuat Dewi Durga marah di tempat yang indah seperti itu? Dalam pementasan ini tidak terjawab dalam teks adegan, terjawabnya lebih dulu oleh pembawa acara yang membacakan sinopsis, sebelum murka dipentaskan.
Saya sungguh mengimajinasikan pementasan Murka ditonton dalam sebuah lingkaran kecil yang dipenuhi oleh penonton. Penonton sebagai ulak alik teks kini, bersanding dengan cerita maha Dewi Surga yang menyeruak di kerumunan. Semacam menonton tajen, yang setiap orangnya bertaruh. Kemudian penari meliuk jatuh mendorong barisan penonton, lalu penari lainnya berlarian di tengah kerumunan. Tapi sekali lagi ini hanya saran dari penonton yang ingin lebih.
Murka hadir sebagai pentas pembuka Ubud Performing Art Moving II. Tidak hanya nomor pertunjukan pendek yang dihadirkan di sana, ada pula pemutaran film, diskusi gagasan, karya musik, pameran dan lain sebagainya. Sebagian besar yang mengikuti ialah kawan-kawan yang berkesenian di Ubud.
Ajang ini menjadi penting dalam melihat geliat anak muda Ubud, serta hadir pula kawan-kawan di luar Ubud untuk memeriahkan acara. Tapi lebih jauh dari pada itu sebenarnya terjadi pertukaran ilmu pengatahuan, estetika berkesenian serta kerja-kerja artistik seniman antar daerah di Bali.

“Ya bener, biar semua kawan-kawan muda di Ubud dapat berpartisipasi, ini menjadi ajang unjuk lah, sebagai ruang yang bisa direspon bagaimanapun bentuknya” ujar Putu Septa Adi, kawan saya yang terlibat langsung dalam perhelatan tersebut.
Setelah pementasan Murka ada pementasan yang lain seperti Titi Indrayanti membawakan fashion show, Swaradanta, Putu Septa, Kerta Art, Napak Tuju, Ryan, Taru Art, Reindra, Devi and Friend.

Pertunjukan akan berlanjut pada Minggu, 19 Desember 2021, di waktu dan tempat yang sama Adapun penampilnya ialah Vinaya Boutique Ft. Artha Meru With Mariani Oelong, Tudi by Dyah Pradnya, Janurangga, Dewa Ayu Eka Putri dan Komang Sraya, Juliantara, SMK N 3 Sukawati, Mang Werdi, Oming Sri, Jodi, Pengangge Art dan Teater Kalangan.
Jika berluang mari menonton ke Ubud. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...