Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Seorang rekan membagi ulasan tentang dashyatnya kekuatan uang mempengaruhi totalitas relung-relung kehidupan manusia. Di tingkat makro disampaikan, ambisi menguasai uang bisa meluluh-lantakkan patriotisme dan nasionalisme seorang warga negara. Nyaris secara total mengubah kerangka pikir, "code of conduct" dari kekuatan kerja “power of money”. Teman bisa jadi lawan, lawan bisa jadi teman, runtuhnya persahabatan dan bahkan sendi-sendi kehidupan keluarga. Ada " dasa muka " dari kekuatan uang, dalam masyarakat dengan ukuran serba benda, yang memerosotkan: etika, moralitas, solidaritas dan bahkan peradaban serta kebudayaan.
Dampaknya komersialisasi kehidupan terjadi di mana-mana, tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa malu, dan dianggap oleh sebagian orang sebagai sebuah " kenormalan". Termasuk, di ruang-ruang kebijakan publik, yang semestinya tabu untuk dilakukan.
Dalam lanskap politik, kekuatan modal baca uang begitu berkuasa, sehingga kita teringat ucapan pemimpin ternama China Mao Tse Tung: kekuasaan berasal dari ujung laras senapan dan juga kekuatan dari uang, the power of money.
Dalam fenomena kehidupan seperti ini, kita dapat diingatkan oleh pemikiran tercerahkan dari negarawan, bapak pendiri India Mahatma Gandhi, kehidupan yang serba benda adalah kehidupan yang tidak bermoral, karena mengingkari sisi moralitas dan spiritualitas manusia. Akan melahirkan perbudaan (slavery) yang berasal dari keinginan yang tanpa batas, limitless wants. Perbudakan yang distimulasi oleh keinginan kebendaan ini, oleh insan-insan manusia yang pada dasarnya utama, adalah sebuah kehinaan kehidupan. Insan-insan manusia dalam menjalankan kewajibannya semestinya tidak terikat, vairagya, justru mengikatkan dirinya pada keinginan kebendaan yang tanpa batas itu. Kondisi ini dalam pandangan Mahatma Gandhi, melahirkan penderitaan (misery) bagi insan-insan manusia.
Penderitaan yang lahir dari keterikatan kehidupan yang serba benda, uang, kekuasaan dan bentuk "dasa muka" lainnya. Penderitaan yang anehnya "dinikmati", "dirayakan" bahkan dengan simbol dan wacana agama. "Penderitaan" yang dirayakan ini, merujuk pendapat Romo Mangunwijaya, rohaniwan cum sastrawan, insan-insan manusia yang dimaksud adalah pengikut atheis praktis, secara teori percaya pada Tuhan, tetapi dalam prakteknya mengabaikan secara total rujukan agama yang dianutnya. Tantangan kemanusiaan yang tidak ringan, dalam pengembangan karakter bangsa, pembangunan insan-insan manusia berbudi pekerti luhur dan kuat secara spiritual, stitha prajna.
Dalam fenomena di atas, sejarah "mengetuk" pintu kita, apakah kekuatan uang di atas akan memerosotkan peradaban, atau ancang-ancang melakukan perlawanan bersama, menyongsong era baru kebangkitan. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...