‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Apa itu La Nina?
La Nina ini merupakan fenomena alam dimana suhu permukaan laut di Samudera Pasifik lebih dingin dari biasanya. Sehingga, tekanan angin tinggi dan mengakibatkan angin bertiup ke Indonesia membawa uap air. Uap air inilah yang membawa curah hujan terutama di wilayah Bali. Dampaknya sudah dirasakan. Saat ini Bali sudah sering hujan deras. Juga ada fenomena waterspout di wilayah perairan Bali Utara. Ini menunjukkan La Nina sudah terjadi.
Lalu apa yang dilakukan Pemkab Buleleng untuk mengantisipasi dampak La Nina?
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng, Bali mulai menyiapkan langkah kesiapsiagaan untuk mengantisipasi dampak La Nina yang akan terjadi. Langkah kesiapsiagaan itu diawali dengan Rapat Kesiapsiagaan Menghadapi La Nina di Kabupaten Buleleng dengan instansi terkait yang diselenggarakan di Ruang Rapat Unit IV, Kantor Bupati Buleleng, Selasa (23/11).
Ditemui usai memimpin rapat tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Buleleng Gede Suyasa menjelaskan pemerintah daerah diingatkan untuk mempersiapkan langkah-langkah antisipasi dari fenomena La Nina ini. Dampak dari La Nina adalah meningkatnya curah hujan yang dapat menyebabkan berbagai bencana seperti banjir dan longsor. Langkah-langkah yang sudah direkomendasikan akan dituangkan dalam Surat Edaran. “Surat Edaran tersebut serta masukan dari rapat ini yang akan menjadi pedoman bagi setiap instansi dan kepala wilayah. Baik itu camat maupun perbekel,” jelasnya.

Langkah teknis di lapangan akan dikoordinasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng. Skema-skema ataupun langkah-langkah penanganan dampak dari La Nina disusun oleh BPBD. Ini baru langkah antisipasi. Diharapkan La Nina tidak sampai memberikan dampak yang berarti di Buleleng.
Bupati selaku kepala daerah setiap tahunnya juga sudah memberi arahan agar masyarakat ikut berpartisipasi dalam menanggulangi ataupun mitigasi bencana. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri tanpa bantuan masyarakat. “Oleh karena itu, kegiatan mitigasi bencana dilakukan seperti pembersihan sungai, menghindari buang sampah sembarangan, melaporkan kalau ada tendensi bencana dan membersihkan pohon-pohon di jalan. Kita harus bekerja bersama dalam mitigasi bencana,” ucap Suyasa.
Sementara itu, Koordinator Bidang Data dan Informasi, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) wilayah III Denpasar Dwi Hartanto mengatakan La Nina ini merupakan fenomena alam dimana suhu permukaan laut di Samudera Pasifik lebih dingin dari biasanya. Sehingga, tekanan angin tinggi dan mengakibatkan angin bertiup ke Indonesia membawa uap air.
Uap air inilah yang membawa curah hujan terutama di wilayah Bali. Dampaknya sudah dirasakan. Saat ini Bali sudah sering hujan deras. Juga ada fenomena waterspout di wilayah perairan Bali Utara. Ini menunjukkan La Nina sudah terjadi. “Namun perlu diingat La Nina bukan badai tropis seperti badai seroja. La Nina hanya fenomena alam yang menambah curah hujan. Ini informasi inti yang ingin kami sampaikan. Masyarakat tidak perlu panik,” kata dia.
Karena fenomena La Nina menambah curah hujan, biasanya dibarengi dengan dampak ikutan. Seperti puting beliung, waterspout yang terjadi beberapa waktu lalu, banjir, dan longsor. Dampak ikutan ini yang perlu diwaspadai dan dilakukan mitigasinya. Seperti menebang pohon besar dan jika rawan longsor bisa ditanam pohon yang mencegah longsor. Juga memasang rambu rambu rawan longsor. “Sudah ada peta pergerakan tanah dari Badan Geologi dimana posisi atau daerah mana saja yang berpotensi,” ungkap Dwi Hartanto.
Dwi Hartanto pun menambahkan jika dilihat dari analisis BBMKG wilayah III Denpasar, La Nina sudah terjadi. Dengan puncak musim hujannya nanti Januari dan Februari 2022. Dikarenakan puncak musim hujan, kemudian ditambah dengan fenomena La Nina, jadi curah hujannya semakin tinggi. Ini yang perlu diwaspadai.
Oleh karena itu, BBMKG memberikan rekomendasi mitigasi dampak bencana yang ditimbulkan oleh fenomena La Nina. Utamanya respon cepat penanggulangan dampak bencana ataupun respon cepat dari peringatan dini cuaca. Jika ada informasi dari BBMKG tentang peringatan cuaca ekstrem, bisa langsung dilihat seberapa besar dampak curah hujannya. “Bisa dilihat kalau curah hujannya warnanya kuning harap segera waspada karena intensitasnya tinggi. Itu respon cepat yang perlu dilakukan. Kalau jangka panjang yang saya jelaskan sebelumnya,” pungkasnya. [T][Ado]
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...