Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
Dewan juri Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Siswa SD Kelas Awal (1, 2, dan 3) yang dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Bali berhasil memutuskan 10 pemenang setelah melewati diskusi yang alot dan cukup panjang.
Penjurian dilaksanakan Kamis--Jumat, 18--19 November 2021. Sejak pendaftran dibuka mulai 22 September—17 November 2021, naskah yang masuk ke meja panitia sebanyak 35 judul. Penjurian dilaksanakan secara profesional dengan membaca semua naskah tanpa identitas peserta untuk mendapatkan pemenang yang objektif.

Inilah 10 penulis yang ditetapkan sebagai pemenang dan kenapa mereka bisa menang:
Sepuluh pemenang itu ditetapkan oleh lima juri, yakni G.M. Sukawidana, Abu Bakar, I Made Taro, I Made Sugianto, dan Ida Ayu Oka Rusmini. Setiap juri melakukan pembacaan naskah bahasa Indonesia dan bahasa Bali dan menentukan nomine karya yang diajukan dalam diskusi penentuan sepuluh pemenang. Penilaian 35 naskah, juri berdasarkan pada ketentuan umum dan ketentuan khusus yang telah diberikan oleh panitia.
Ketentuan khusus sayembara ini di antaranya bahan bacaan berupa buku yang berisi teks narasi, deskripsi, eksposisi, dan/atau prosedural dengan tema peristiwa alam, lingkungan sehat dan bersih, hewan dan tumbuhan di sekitar kita, kerukunan hidup dalam masyarakat, kesehatan pada masa pandemi, dan rempah-rempah.

Ketentuan lain, buku beruapa bahan bacaan literasi bukan cerita rakyat dan dibuat bersifat edukatif. Selain itu, isi bacaan ditujukan untuk usia 7—9 tahun (membaca awal), karya memuat kearifan lokal di wilayah setempat, naskah tidak mengandung unsur pornografi, radikalisme, kekerasan, pelecehan fisik, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik SARA.
Tentu saja naskah harus asli (bukan saduran atau terjemahan), belum pernah diterbitkan atau dipublikasikan dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba apa pun. Penilaian naskah meliputi tema, isi, gaya penulisan, gaya bahasa (harus memenuhi kesesuaian kaedah dan keterbacaan), dan kaidah kebahasaan, ejaan (tanda baca, kapital), dan kaidah penulisan: kalimat (keektifan kalimat) dan paragaraf).
Dalam rapat juri, para juri menilai berdasarkan kriteria penilaian meliputi tiga aspek sebagai berikut ini. Pertama, isi buku berupa nonfiksi berupa fakta, konsep, prosedur, dan metakognisi sederhana tentang diri sendiri dan lingkungan sekitar, atau fiksi bertokoh manusia, kepahlawanan, cerita fantasi dengan alur sederhana, mengembangkan olah pikir, olah rasa, dan olah karsa, dan mengandung nilai di antaranya religious, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab; disertai dengan penyelesaian masalah/problem solving, berpikir kritis, dan percaya diri.
Kriteria kedua, dari segi bahasa yang meliputi pengembangan kosakata yang sering digunakan, kata-kata dapat berpola dan berima, tanda baca mulai diperkenalkan sesuai dengan keperluan, kalimat sederhana, tetapi beragam, kalimat terdiri atas 2—8 kata, dan kalimat-kalimat membentuk paragraf.

Dari 35 naskah yang masuk, secara umum peserta telah memilih 6 tema yang ditawarkan panitia. Peserta yang menulis tema peristiwa alam sebanyak 10 naskah, lingkungan sehat dan bersih sebanyak 1 naskah, hewan dan tumbuhan di sekitar kita sebanyak 11 naskah, kerukunan hidup dalam masyarakat sebanyak 6 naskah, kesehatan pada masa pandemi sebanyak 3 naskah, dan rempah-rempah sebanyak 4 naskah.
Secara umum muncul kearifan lokal Bali, isu kerusakan lingkungan, menjaga kesehatan di masa pandemi, dan peristiwa alam dan akibat perubahan alam akibat ulah manusia menjadi topik yang mendominasi buku-buku sayembara kali ini.
Kegiatan ini bertujuan untuk penyediaan bahan bacaan literasi yang bermutu, termasuk penyediaan bahan bacaan untuk siswa SD kelas awal (1, 2, dan 3) dalam dwibahasa untuk jenjang pembaca usia 7—9 tahun. Para peserta dari Bali bisa menggali dan menuangkan ide ke dalam pembuatan buku bahan bacaan.
Selain itu, peserta dapat bekerja sama dengan ilustrator dan penerjemah yang akhirnya dapat menghasilkan sebuah buku yang layak dibaca dan menjadi bahan bacaan siswa sekolah dasar kelas awal di Bali.
Terdapat setidaknya tiga alasan kenapa kegiatan ini penting dilaksankan. Pertama, untuk melaksanakan keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2016 bagian dari implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
Kedua, penanaman penguatan pendidikan karakter kepada peserta didik, salah satunya melalui cerita dengan berbagai teks.
Ketiga, ketersediaan buku-buku yang berkualitas memiliki peran penting dalam upaya penumbuhan budaya literasi. Untuk keperluan itu, diperlukan bahan bacaan yang memadai sesuai dengan karakteristik pembaca atau usia anak-anak.
“Hasil dari kegiatan ini adalah diperoleh bahan bacaan sesuai dengan penjejangan usia dan penjenjangan buku dalam jangka panjang untuk pengembangan dan pembinaan literasi bangsa,” kata Toha Machsum.
Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Siswa SD Kelas Awal (1,2, dan 3) ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan kemampuan membaca dengan mempertimbangkan aspek pedagogik dan psikologi; menumbuhkembangkan budaya literasi melalui buku yang bermutu serta tepat guna untuk memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan; dan menjadi acuan penyusunan daftar buku yang direkomendasikan untuk dibaca oleh pembaca sasaran.
Selain itu, tujuan kegiatan ini untuk memfasilitasi dan memudahkan penjejangan buku agar buku yang digunakan dapat sesuai dengan kebutuhan membaca. Dari hasil sayembara ini, Balai Bahasa Provinsi Bali berharap bahan bacaan pendamping ini dapat sampai kepada siswa kelas awal dan dialihwahanakan dalam bentuk audiobook, animasi, film, ataupun komik yang akhirnya dikembangkan dalam rangka mendukung Gerakan Literasi Nasional dan meningkatkan siswa yang literat. [T]
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...