Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah hari dimana saatnya untuk pulang kampung. Pulang ke kampung halaman untuk sembahyang, ya hanya itu. Kadang bertemu keluarga atau teman yang sangat ingin dijumpai. Seperti biasa, be celeng, lawar dan jaja leburan adalah hal yang sangat ingin dinikmati pertama kali setelah menapakkan kaki di halaman.
Hari Raya Galungan dan Kuningan, saat itu masyarakat Hindu Bali sedang sibuk-sibuknya. Bahkan beberapa hari sebelum hari raya, orang-orang sudah sangat sibuk. Sibuk membuat banten, sibuk mencari daging, sibuk mencari buah-buahan dan sibuk memikirkan akan ke mana berlibur di kampung halaman.
Semua sibuk. Semua orang. Para pemuda desa sedang sibuk mempersiapkan penjor yang unik untuk dipasang di depan rumah mereka masing-masing. Ada juga pemuda yang malas untuk membuat penjor tetapi terpaksa. Di sana sebenarnya penjor yang sesuai kata hati berdiri kokoh. Ya, walaupun kadang tidak sekokoh kisah cinta mereka.
Beberapa hari sudah persiapan. Persiapan-persiapan berpikir, tenaga dan kesejukan hati sudah selesai semuanya. Kini saatnya untuk sembahyang.
Dari pagi, dupa-dupa sudah mengepulkan asap harum. Terscium sampai sudut desa dan kota. Semuanya sedang merayakan. Ada yang dari pagi sudah berkeliling ke pura Desa, Puseh dan Dalem. Ada juga yang sudah berkeliling bersama keluarganya untuk mengunjungi pura-pura di luar desanya dan ada juga yang hanya sembahyang di sanggah rumah masing-masing. Tidak masalah, itu adalah salah satu perjalanan spiritual sembari berlibur.
Setelah sembahyang, barulah orang-orang akan bersiap-siap untuk berlibur. Berlibur ke mana saja. Ada yang berlibur bersama keluarga, sahabat atau pacar mereka. Ya, tidak mungkin mereka berlibur dengan kekasih gelap. Karena ini adalah hari raya, siapapun bisa ada di mana saja. Takutnya nanti akan ketahuan dan hari raya berubah menjadi hari sial. Jangan sampai.
Tetapi, di sela-sela hari raya ini ada orang yang hanya ingin menghibur dirinya sendiri. Menghibur diri sendiri dengan beberapa orang teman.
Ya, mereka bisanya akan berkeliling dari rumah teman satu ke rumah teman lainnya. Mereka mencari tempat yang pas untuk bermain sembari menghibur diri. Permainan ini bukan sekedar permainan kawan-kawan. Permainan orang dewasa, mereka yang paling kuatlah yang bertahan. Kuat fisik, pantat dan finansial.
5+4 = ? Jangan kawan-kawan menjawab 9 sangat salah kawan! Jawabannya adalah Q. Ya, Q. K, Q, J dan AS. Permainan ini adalah permainan yang menguras pikiran dan dompet. Tetap untuk yang hanya menghibur diri mereka, tidak akan menguras dompetnya sama sekali. Ya namanya juga menghibur, mereka bukanlah penjudi profesional seperti Dewa Judi di film Cina. Mereka hanya penjudi musiman kala Galungan dan Kungingan.
Tetapi, di hari sial mereka akan ada penjudi yang memang benar penjudi ikut nimbrung dalam lingkaran itu. Itu adalah neraka. Memang awalnya seribu atau duaribu. Tetapi saat mereka kalah banyak, keluarlah semua hasil kebun mereka. Semakin lama akan semakin memanas.
Untungnya, menghibur diri sendiri ini hanya beberapa saat. Ya, karena mereka hanya penjudi musiman. Lain halnya dengan judi yang benar-benar judi. Semua mereka pertaruhkan demi kemenangan yang belum tentu pasti itu.
Sebenarnya, mereka bermain hanya untuk bisa tertawa, bercengkrama dengan teman lama atau hanya sekedar singgah. Karena sangat jarang dan mungkin hari raya selanjutnya mereka tidak akan bisa pulang atau berlama-lama di kampung halaman.
Mereka, sebagian besar, sesungguhnya tak mau larut berlama-lama di kampung untuk berjudi. Karena mereka ingat pesan baku tentang penjudi. “Harapan sugih ade, lacur be pasti”- Harapan untuk kaya ada, tetapi miskin sudah pasti. [T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...