Kenapa Kita (Orang Bali) Berpaling dari Gaguritan?
MILAN Kundera, dalam pidato saat menerima Jerusalem Prize di tahun 1985, membedah kelalaian Eropa, yaitu ketidakpahaman mereka pada seni yang paling Eropa: NOVEL. Bagi Kund...
Kematian datang menjemput tanpa undangan, kadang tanpa tanda-tanda. Seperti roda, kehidupan terus berputar hingga menemukan batasnya. Jika bisa memilih, manusia akan merencanakan kapan hari kematian itu tiba. Jika bisa memilih, manusia akan semakin semena-mena, apalagi jika bisa memutuskan kapan berhentinya kehidupan seseorang. Beruntunglah manusia tak tahu kapan hari kematian itu tiba. Walaupun begitu, ada kalanya, manusia mempunyai ego untuk mengatur kematian orang-orang termasuk dirinya sendiri.
***
Anak perempuan sepertiku tentu menyukai boneka beruang. Si beruang cokelat pemberian mama itu kunamakan Bobo, seperti nama majalah kesukaanku. Bobo menjadi pelipur lara bagiku. Ranty yang kesepian, Ranty yang selalu ditinggal bekerja, dan Ranty yang tak tahu kapan mama dan papa bisa mengajaknya bermain lagi. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, begitulah hal yang aku tahu setiap kali aku mengajak bermain walau hanya sebentar. Kadang aku lelah menunggu mereka pulang, ingin rasanya aku bisa menghilang dan mereka bingung mencariku.
Bobo menjadi temanku selama di rumah. Aku melakukan apa saja bersamanya. Kadang aku hanya diam dan menghayal jika Bobo bisa berbicara dan mengajakku bercerita apa saja. Aku ingin mengeluhkan bagaimana mama dan papa yang tak pernah peduli lagi denganku semenjak kesibukan mereka semakin banyak. Aku ingin Bobo menceritakan bagaimana enaknya menjadi boneka yang memiliki banyak teman karena mama membelikanku banyak boneka.
Aku ingin mengatakan betapa bosannya menjadi orang yang kesepian, kenapa mama dan papa selalu sibuk? Aku benci mereka! Bahkan untuk bermain denganku saja mereka tidak bisa. Apa gunanya aku buat mereka? Kenapa mereka melakukan ini padaku? Apakah aku bukan anak mereka?
Suatu hari pembantuku mengatakan bahwa ia berhenti bekerja menjadi pembantu di rumahku. Ibunya sakit keras, ia memerlukan perhatian yang lebih banyak sehingga pembantuku memilih untuk kembali ke kampungnya. Mama sudah menemukan pengganti, namanya Minah. Dia lebih muda dan cantik.
Dia sepertinya sangat akrab dengan mama, mereka terlihat seperti teman yang tak terpisahkan. Mereka mengobrol tentang banyak hal saat Minah baru sampai rumah. Minah tersenyum ramah padaku dan langsung mengajakku bermain. Dia berkata akan bekerja besok namun hari ini sudah pindah ke rumahku. Hari-hariku yang menyebalkan mulai terisi karena Minah selalu mau diajak bermain, entah di halaman atau hanya di kamar bermain boneka.
Suatu hari Minah tidak mau diganggu, katanya dia sibuk sekali dengan pekerjaannya. Aku pun hanya bisa diam bersama Bobo di dalam kamar. Hari itu aku mendengar suara mobil mama. Jarang sekali mama pulang secepat ini, pikirku. Aku pun menghampiri mama di pintu masuk, berharap ia akan mengajakku membeli boneka atau sekedar bermain di kamar.
Sayangnya, mama berkata dia sangat lelah dengan pekerjaannya. Aku disuruh kembali masuk ke kamarku dan bermain dengan Bobo. Aku hanya bisa mendengus kesal dan mengiyakan perkataan mama. Tak berselang berapa lama, mama kembali memacu mobilnya ke jalan. Aku bergegas keluar, ingin melihat apakah benar mama pergi dengan mobilnya. Di tengah ruang tamu berbentuk persegi ini Minah berada di dekat jendela yang menghadap jalanan yang dilewati mobil mama.
“Minah, ngapain?” tanyaku yang sontak membuatnya terkejut. Muka Minah pucat tapi segera dia menyuruhku makan siang. Badan Minah terlihat sangat lelah seperti habis mengerjakan sebuah pekerjaan yang berat.
Beberapa hari setelahnya, mama sempat pulang siang hari tapi tak lama setelahnya ia kembali memacu mobilnya ke jalanan. Sepertinya mama makan siang di rumah, pikirku. Tapi kenapa dia tidak mengajakku? Apa masalahnya untuk makan siang bersama anaknya sendiri?
Aku pun bertanya pada Minah apa yang mama lakukan saat dia berada di rumah. Minah hanya berkata mama ingin makan siang sendiri dan mengambil dokumen yang ketinggalan. Ah, baiklah mama memang jahat padaku dan aku malas sekali mempermasalahkan hal ini.
Suatu hari papa pulang lebih cepat dari hari biasanya. Aku bergegas menyambutnya dan papa ternyata membelikan boneka baru untukku. Ini akan menjadi teman baru kamu, katanya. Boneka baru ini mirip sekali dengan bobo, boneka kesayanganku. Papa menyuruhku untuk bermain di dalam kamar dan tidak mengganggunya karena dia akan mengerjakan pekerjaan di rumah.
Aku hanya bisa mendengus kesal dan kembali masuk ke kamarku. Ternyata papa juga terlalu sibuk walaupun bisa pulang lebih cepat, tak ada bedanya dengan mama.
Papa mengetuk pintu kamarku dan mengajakku makan siang. Aku mengiyakan dan segera mengikuti papa ke meja makan. Di meja makan hanya ada nugget dan nasi putih dengan jus jeruk yang papa ambil di kulkas.
Cerita tentang mama yang sempat pulang tapi kembali memacu mobilnya ke jalanan aku ungkapkan ke papa. Ia mendengarkan dengan seksama dan aku mulai bercerita kemana-mana. Aku senang papa mau makan siang bersamaku, aku sangat jarang bertemu dengannya.
Aku melihat ada bercak merah di beberapa bagian kemeja papa.
“Papa kok kemejanya merah? Papa buka sambal sampai muncrat?” Papa melihat kemejanya.
“Iya sayang tadi botol sambelnya susah banget dibuka, Papa jadi ngga sengaja muncratin deh.”
“Oh trus mana botolnya, Pa? Kok ngga dibawa kesini?” Muka Papa yang terlihat kelelahan itu segera mengambil botol sambal ke dapur.
“Ini sayang, kamu mau?”
“Mau, Pa, eh tapi kok ini keliatannya belum pernah dikeluarin sih, Pa?”
“Nih papa tuangin ke makananmu, udah ya, papa capek mending makan makanannya biar ngga cepet dingin.” Aku hanya mengiyakan dan melanjutkan ritual makanku yang sempat tertunda.
Sampai malam aku tak melihat keberadaan Minah. Papa menemaniku bermain seharian dan aku benar-benar senang hari itu. Suara mobil mama terdengar dan aku mengajak papa untuk melihat mama. Papa mengiyakan dan berjalan bersamaku.
Aku ingin mengajak mama bermain, segera aku pergi ke pintu dan menyambut mama. Muka mama sangat lelah dan tanpa melihat ke arah papa, ia bergegas menuju kamarnya. Papa menyusul mama dan menyuruhku untuk masuk ke kamarku dan segera tidur. Aku kesal, lagi (dan lagi) mengiyakan perkataan mama karena mataku juga sudah mengantuk.
Di kamarku yang besar ini aku tidur bersama Bobo dan boneka baru yang belum kuberi nama. Tak berselang berapa lama, aku mendengar mama dan papa beradu mulut, entah apa yang mereka ributkan. Aku berusaha tak peduli dengan urusan orang-orang dewasa itu. Tubuhku sudah terlalu lelah karena main kejar-kejaran bersama papa sore tadi. Sebenarnya aku masih bertanya-tanya, di mana Minah?
***
Tubuhku terasa sedikit bergoyang, entah ini mimpi atau tidak. Aku merasa berada di tempat yang bukan kasur empukku. Mataku mulai sedikit terbuka, dan aku tidur di dalam mobil bersama Bobo dan boneka baru yang belum aku beri nama.
“Udah bangun, Sayang?” sebuah suara datang dari kursi pengemudi.
“Papa,” kataku lemah.
“Iya, ini Papa. Kamu tidur lagi sana, ini udah malam.”
“Papa mau ngajak aku ke mana?”
“Ngga ke mana-mana kok sayang, Kamu tidur aja lagi.”
“Ngga mau, Udah nggak ngantuk.”
“Yaudah kalau ngga mau tidur, kamu diem aja di sana.”
Aku menegakkan badan dan duduk sambil melepaskan selimut yang melapisi tubuhku. Aku duduk di kursi penumpang dan aku melihat di bagasi belakang ada dua plastik hitam besar.
“Itu plastik apa, Pa?” tanyaku pada papa yang masih fokus mengemudikan mobilnya.
“Itu Mama sama Minah sayang,” jawab papa singkat. Ketakutan seketika menyelimutiku.
“Kenapa, Pa?” tanyaku gemetar.
“Karena mereka saling menyukai,” kata papa. Aku diam, tak berani mengungkapkan apa-apa. Papa tak berbicara sepatah kata pun. Aku memberanikan untuk bertanya lagi
“Lalu kita akan kemana, Pa?”
“Ke neraka,” katanya singkat.
Aku bisa merasakan mobil papa tak lagi menyentuh tanah. Aku merasakan sensasi ketakutan yang menjadi-jadi di sekitar angin yang tak mampu menahan laju mobil ini. Suara terakhir yang aku dengar adalah deburan ombak yang keras, lalu air masuk dari sela-sela mobil dan menenggelamkan kami di tengah kegelapan malam. [T]
__________
__________
MILAN Kundera, dalam pidato saat menerima Jerusalem Prize di tahun 1985, membedah kelalaian Eropa, yaitu ketidakpahaman mereka pada seni yang paling Eropa: NOVEL. Bagi Kund...
MENONTON pementasan cak dari SMAN Bali Mandara di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, Sabtu malam, 2 September 2017, terasa seperti menonton kehidupan war...
AKHIR-AKHIR ini saya sering mendengar keluhan dari beberapa kawan mengenai kemacetan lalu-lintas di Ubud. Bahkan beberapa hari terkahir ini, kemacetan Ubud sudah masuk dala...
. SISA KALIMAT Adakah sisa kalimat untukku ? Jika tidak biarkan aku berlalu Meletakkan diri di tepi sungai agar selalu bercermin dari alir airnya Kulepas kulup murkaku Kulepas sis...
LONDONISTAN adalah julukan terbaru bagi London. Yang menciptakan julukan tersebut adalah jurnalis terkemuka Melanie Phillips yang melukiskan betapa besar pengaruh Islam ter...
MAHASISWA Hindu diajak berperang. Bukan angkat senjata, bukan gerilya masuk hutan, bukan merayap-rayap di semak. Tapi berperang secara intelektual. Karena musuh bukan lagi...
MALAM itu, dramawan Putu Satria Kusuma menulis status di Facebook. “Ditemani GGH rasa strawbery dan alunan Beethoven dari Youtube. Malam ini tak sengaja nemu poster di tahu...
DEMOKRASI pasca reformasi di Indonesia menempatkan hak berbicara dan berpendapat seolah-olah tanpa batas. Dengan dukungan teknologi komunikasi (internet) kebebasan berbicar...
Cerpen: Yusna Safitri Kau lelaki penuh tanda tanya, penuh teka-teki, dan penuh dengan misteri yang ingin segera aku pecahkan. HADI. Begitu aku memanggilnya. Perkenalan sin...
. SEBUAH KENANGAN DALAM BOTOL BIR Didalam café tergeletak botol bir Seorang pria memandangnya Tiap denting jam bergetar Tak berkutik diam membisu Mulutnya terkunci rapat Tak bers...