Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
Kalau kita menyimak trend perjalanan sejarah peradaban dan kebudayaan manusia, persepsi terhadap waktu dan pemaknaan terhadap waktu akan sangat menentukan kualitas peradaban dan kebudayaan insan-insan manusia dan komunitasnya.
Berangkat dari pemikiran ini, konsepsi waktu manusia Bali yang telah mentradisi Galang Kangin, yang menjadi batu pijak dalam pengembangan ethos kerjanya menjadi pantas untuk diulas.
Galang Kangin adalah rujukan waktu yang ditandai oleh mulai bersinarnya bintang Tengala ( begitu orang Bali menyebutnya ) di ufuk timur pada " jejer kemiri " berbaris ke bawah, bisa 2 dan atau 3 dan bahkan lebih, sebagai waktu awal untuk memulai kehidupan.
Waktu Galang Kangin ini, sekitar pukul 4.15 Wita. Waktu awal memulai kehidupan, bisa bekerja, belajar dan bisa juga berdoa. Dalam tradisi agraris pertanian manusia Bali, lazimnya dimulai dengan bekerja: menyalakan api di tungku (paon, bahasa Bali ) yang berfungsi ganda: menghangatkan tubuh, dan penyiapan makanan ke anggota keluarga, tetapi yang paling penting, penyiapan sangu makanan sederhana (bekel, bahasa Bali ), yang akan dibawa ke kebun, sawah pada saat mentari mulai bersinar.
Berbarengan dengan itu, menyapu, membersihkan halaman depan rumah (lebuh, bahasa Bali ) dan lingkungan di seputaran rumah, Bale Dangin, Bale Dauh dan kawasan lainnya.
Tradisi kehidupan Galang Kangin ini, oleh mereka yang kemudian mulai mempelajari dan menyimak Bhagavad Gita sebagai waktu Satvika. Dan kemudian oleh mereka yang lebih mendalami Veda/Vedanta, Galang Kangin dipersepsikan sama dengan Brahma Muhurta, waktu " terbaik " untuk memuja Tuhan melalui bekerja, belajar dan berdoa.
Galang Kangin sebagai pijakan waktu kerja, yang kemudian diikuti oleh kerja nyata di sawah dan perkebunan, yang dilandasi oleh sebut saja sekapur sirih ethos kerja, menyebut beberapa diantaranya, Ngluku, Uma Duwi, semangat Semut Sedulur.
Ngluku, prinsip, sistem nilai kerja yang berupa: berapapun hasil yang diterima, kita harus terus merawat kebun secara berkelanjutan, dalam tampil sekarang, mirip keteguhan fisik dan hati pelari maraton.
Uma Duwi, kerja pertanian ditamsilkan dengan memasuki kebun penuh dengan duri. Budi daya pertanian untuk memperoleh hasil, penuh jebakan dan tantangan. Menyebut beberapa: iklim yang kadang-kadang tidak bersahabat, risiko hama dan potensi bencana alam. Uma Duwi sebagai basis dari ethos kerja yang " tahan banting ".
Semangat Semut Sedulur, semangat kerja sama berkelanjutan (seperti yang dilakukan oleh kumpulan semut ), melahirkan budaya paras-paros yang menjadi basis dari kearifan sistem kehidupan subak yang telah melegenda.
Kerja tanpa henti di lahan pertanian sepanjang hari, " ditutup " dengan puja bhakti pada saat Sandi Kala (waktu terbaik "mengikatkan" diri dengan Tuhan) pada pusaran waktu sekitar 18.15 - 19.00 wita.
Ethos kerja di era agraris pertanian, yang rasanya tetap relevan di era industri manafaktur, industri jasa informasi dan bahkan di era ekonomi digital dewasa ini Hanya saja perlu penyesuaian, adaptasi sesuai dengan tuntutan Desa (ruang), Kala (waktu) serta Patra (manusia dan lingkungannya). [T]
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...