Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Sama seperti layangan, penggemar pindekan, pinjekan, atau baling-baling tradisional, makin meluas di Bali.
Kini banyak anak muda gemar membuat dan bermain pindekan.
Ini fenomena. Mereka menolak melupakan permainan tradisional di tengah maraknya berbagai macam pemainan modern yang kian mudah diakses.
Ruang rekreasi anak muda sekarang seakan diliputi oleh rasa rindu terhadap masa lalu, selain mungkin menguatnya imaji-imaji spiritual.
Pindekan adalah simbol masa lalu, bagian dari budaya agraris. Dulu benda ini lazim dipakai oleh petani sebagai alat pengusir burung di sawah.
Pindekan juga bagian dari ritual, sering dihadirkan dalam upacara besar, seperti ngenteg linggih.
Sebagaimana layangan, pindekan adalah bagian dari mitologi Rare Angon, yakni tokoh manifestasi dari Dewa Siwa yang dianggap sebagai pelindung dan teman bermain anak gembala seusai panen di sawah.
Secara spiritual, tokoh Rare Angon sangat dihormati oleh masyarakat Bali karena itulah ia ada dalam ritual keagamaan, termasuk dalam bentuk simbol berupa pindekan ini.
Di musim angin sekarang, pindekan banyak dipasang di rumah-rumah penduduk dengan tiang bambu. Putaran baling-balingnya memamerkan suara yang seru menderu-deru.
Ternyata pindekan itu tidak hanya asal bunyi. Para penghobi tahu mana suara pindekan yang bagus mana yang tidak.
Pindekan tidak cukup hanya berputar kencang tapi harus dapat memproduksi bunyi yang bagus, yang ada irama dan aksen tertentu. Dan di situlah letak kesulitan dan keasyikannya.
Membuat pindekan agar dapat mengeluarkan suara yang bagus perlu kesabaran, teknik serta pengalaman yang cukup.
Bermain pindekan memiliki kesulitan dan tantangan tersendiri yang sama sekali tidak mudah. Karena itu para penghobi pindekan bahkan sampai membuat sekaa sebagai tempat mereka berbagi pengalaman, bertukar informasi dan perkembangan teknik, sambil terus berkarya membuat pindekan terbaik.
Untuk memainkan pindekan yang baru selesai dibuat, mereka biasanya pergi ke tanah lapang atau pantai, dimana angin kencang tersedia melimpah yang akan memutar pindekan mereka. Seperti dilakukan sejumlah anak muda Sukawati, Gianyar ini yang bermain pindekan di Pantai Purnama, sore kemarin.

Saat bermain, mereka telihat asyik menikmati dengung pindekannya masing-masing. Mereka mendengarkanya dengan seksama. Jika dirasa suaranya kurang bagus, mereka akan menyetel lagi pindekannya dan itu bisa berulang-ulang sampai mereka bisa mendapatkan suara yang diinginkan. Tapi itu sulit bahkan mereka lebih sering gagal mendapatkan suara yang dikehendaki. Jika sudah demikian maka mereka akan membuat lagi pindekan baru untuk dimainkan di hari lain.
Saat membuat pindekan, di dalam hati mereka selalu ada suara yang dirindukan seperti merindukan seorang kekasih. Mereka bertekad untuk mendapatkan atau mewujudkan suara tersebut lewat bilah-bilah pindekan yang dibuatnya
Mereka membuat pindekan dari kayu. Ujung baling-balingnya memakai semacam senar untuk memproduksi suara, dan ada pemberat dari lempengan timah di bagian punggung sebagai penyeimbang.
Bilah pindekan ini dibuat secara manual, diraut menggunakan pisau, melibatkan keterampilan, kepekaan dan seni tersendiri yang asyik. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...