Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
12 Oktober 2021 ini kita memperingati tragedi Bom Bali, di mana terjadinya ledakan di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC), Jalan Legian, Kuta, dan ledakan terakhir di Konsulat Jendral Amerika Serikat. Tragedi dinihari 12 Oktober 2002 itu menghilangkan nyawa warga negara asing dan lokal. Tercatat 203 korban jiwa dan 209 korban luka-luka. Peristiwa itu dianggap sebagai peristiwa terorisme yang paling parah dalam sejarah Indonesia.
Sekira setahun kemudian, seniman patung I Wayan Gawiarta, lulusan ISI Yogyakarta, terketuk hatinya untuk mengekspresiakan kesedihan itu dalam karya seni patung. Patung karyanya itu sempat dipamerkan dalam pameran 32 Tahun Sanggar Dewata Indonesia di Taman Budaya Yogyakarta, 2003.Karya itu muncul semasa Gawiarta menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa Jurusan Seni Patung semester VI di ISI Yogyakarta.
Awalnya I Wayan Gawiarta makan di sebuah warung makan di dekat studio pelukis Bali, I Made Arya Palguna. Saat itu ia membaca dan mendengar berita duka yang melanda Bali. Suasana hatinya seketika kacau. Ia memikirkan keluarga dan teman-temannya di Bali. Apalagi adiknya yang masih SMA tinggal di Denpasar berdekatan dengan pristiwa terjadinya Bomb Bali.
Khawatir adiknya menjadi korban, dan mencoba menghubungi sanak keluarganya di Bali. Waktu orang punya HP belum sebanyak sekarang. Ia menelpon keluarga dengan meminjam HP pada Om Tembong yang adalah tuan rumah seniman Putu Sutawijaya.
Satu pun sanak keluarga dan temannya yang dihubungi tidak bisa nyambung. Suasana sedih dan duka mendalam menyaksikan berita di televisi membuat hancur suasana hati I Wayan Gawiarta.
Akhirny muncul ide untuk mengabadikan kejadian itu ke dalam sebuah karya seni patung. Karya seni patung itu diberi judul “Bali Black October”. Bahan yang digunakan karung goni dan resin. Dibuat sedemikian rupa seperti tiga sosok, yakni sosok perempuan, laki laki dewasa dan seorang anak. Sosok itu berjubah seperti penggabaran malaikat pecabut nyawa. Suasana kelam dan gelap serta kesediahan seakan terwujud dalam patung itu.
Di Bali, oleh warga Bali, kejadian kelam itu disikapi dengan melakukan upacara besar, mecaru. Tidak ada perlawanan, hanya melakukan intropeksi, doa bersama, dan berserah kepada yang Maha Kuasa, atas tindakan teroris yang tidak bermoral itu.
Karya patung I Wayan Gawiarta dipamerkan pada pameran 32 tahun Sanggar Dewata Indonesia, pada tahun 2003, di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Pameran itu diikuti oleh 91 seniman dan ada 100 karya yang dipamerkan.
Selain Gawiarta, beberapa seniman yang ikut dalam pameran tersebut adalah sejumlah tokoh seniman Sanggar Dewata Indonesia yang masih tinggal di Jogjakarta. Antara lain Pande Ketut Taman dengan karya sepeda ontel yang dikomposisikan sedemikan rupa secara artistik. Putu Sutawijaya dengan karya periode kontemplasi. Ia melukiskan sosok manusia dengan goresan spontan.
Lalu ada juga Made Sukadana, I Nyoman Sukarai dan I Made Toris Mahendra dengan lukisan abstraknya. Gusti Nengah Nurata dengan karya drawingnya yang melukiskan makhluk imajiner. Itu adalah karya dengan ciri khas surealisme yang biasa dianut Nurata.
Ada juga Nyoman Adiana dengan lukisan Dar Der Dor. Karya itu melukiskan manusia yang berjubah dengan komposisi sedemikian rupa: sosok saling berhadapan dengan memegang pistol. Begitu juga Made Arya Palguna, I Nyoman Sudarna Putra, I Gusti Ngurah Udiantara (Tantin), Nyoman Suyasa, I Made Sadnyana, I Wayan Wirawan, dan I Nyoman Triarta sebagai penggagas dan mempopulerkan karya-karya piguratif di Indonesia dengan persepsi barunya.
I Ketut Suwidiarta dengan lukisan sarkasme parodinya yang jenaka. Idabagus Punia Atmaja, I Made Bakti Wiyasa, I Made Widyadiputra, I Gusti Ngurah Udianata (karya patung sebelum periode bambu), Made Arya Dedok, Made Arya Sucitra, dan saya sendiri (I Gede Made Surya Darma) juga ikut terlibat dalam pameran itu.
Pameran Sanggar Dewata Indonesia waktu itu menampilkan keberagaman ekspresi. Setiap angkatan memunculkan kreativitas baru dan gaya berkesenian, dan selalu ingin berbeda dengan para pendahulu. Semangat kebersamaan antara junior dan senior sangat terjaga waktu itu, bergerak bergotong royong dalam mewujudkan pameran. Yang menarik, pameran selalu diselingi acara ngelawar.
Ketua panitia pameran waktu itu adalah Made Arya Parwita. Tema pameran bebas, sehingga masing-masing seniman secara bebas memberi isu-isu penting pada saat itu. Ada yang merespon isu sosial, politik, maupun budaya popular, dan ada yang merespon Bom Bali sebagaimana dilakukan I Wayan Gawiarta. Memang, dalam proses mewujudkan pameran tersebut, masing-masing punya cara untuk mengobati rasa rindu dengan kampung halaman di Bali.
Nama yang memang mencuri perhatian pada pameran itu tentu saja I Wayan Gawiarta dengan karyanya yang berjudul "Bali Black October" yang menggambarkan peristiwa kelam tragedi Bom Bali. Sejumlah media yang menuliskan pemeran 32 tahun Sanggar Dewata Indonesia, banyak yang menggunakan foto karya I Wayan Gawiarta. Karya Wayan Gawiarta itu seakan memberi refleksi sekaligus kebangkitan di tengah suasana sedih dan duka mendalam yang masih membekas setelah terjadinya Bom Bali. [T]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...