Pukul setengah sepuluh. Saya berangkat menuju daerah Padang Galak, Denpasar, tepstnys ke kediaman Ibu Melati Popo. Saya dan Jasmine Okubo yang seorang koreografer perempuan, berjanji untuk wawancara santai di sana.
Dalam perjalanan, saya kembali mengingat sejumlah pementasan Jasmine. Ia memang cukup produktif dalam berkarya, setidaknya 4 tahun terakhir ini. Satu di antaranya ialah "Kukusan Peken" yang sempat saya tonton di salah satu galeri di Denpasar tahun 2017. Dalam repertoar tubuh "Kukusan Peken", ia hendak menjelaskan tentang lakon seorang ibu di dapur dan di pasar. Itu merupakan ruang privat sekaligus publik yang penuh dengan tanda, metafor, serta kaitannya terhadap keadaan sosial ekonomi orang Bali.
“Waduh, saya ketemu wong cerdas ini, engken carane metakon ne,” ujar saya dalam hati sebelum sampai di tujuan.
Tiba di tujuan, ketika saya menghampirinya, Jasmine Okubo sedang duduk menghadap laptop memakai baju kaos putih, bawahannya kain batik warna biru-putih, dirangkai sedemikian rupa menjadi semacam kulot yang estetik. Terang saja, selain menari, ia juga memiliki "Kita Poleng Fashion Bali", lini khusus "Kita Poleng" untuk menjual hal-hal yang berkaitan dengan gaya busana.
“Tunggu sebentar ya, Jong, aku lagi sedikit saja,” ujarnya sambil melirikkan matanya ke layar laptop.
Selang sedemikian waktu, kami berdua mencari tempat tenang untuk berbincang santai, karena kebetulan hari itu di rumah Bu Melati sedang diadakan pengambilan gambar terkait konten "Ibudaya Festival". Kami menuju pos jaga di depan pintu masuk rumah, ada dua kursi, satu meja, serta sejumlah pohon tumbuh rapi di sekitarnya.
Jasmine Okubo
Ziarah Tubuh Keluarga Traveler
Jasmine Okubo ialah perempuan asal Jepang, yang mengkultuskan profesinya sebagai koreografer di Bali. Ia mengisahkan bahwa ia lahir di Turki karena kedua orang tuanya gemar bepergian, dari satu negara ke negara lain. Sejak kecil ia mengikuti perjalanan orang tuanya mulai Asia, Eropa hingga Africa. Pada setiap pemberhentian ia selalu senang jika menonton pertunjukan karena setiap tempat memiliki kebudayaannya masing-masing, dan menjadi hal yang menarik baginya dapat menikmati perbedaan tersebut.
Hingga suatu ketika ia mengunjungi Bali di usia 3 tahun, saat itu ia menonton salah satu pertunjukan Calonarang di daerah Ubud. Selesai menonton ia mengatakan kepada ibunya ingin menjadi penari Bali. Okubo kecil sangat terpesona dengan liku tubuh, kostum, gamelan serta atmosfer yang dihasilkan dari pertunjukan tersebut.
“Jadi aku terus merengek minta ke Bali, untuk belajar tari Bali, kemudian aku diajak untuk melihat tari-tari dari beberapa daerah lain karena aku masih kecil mungkin suka sesaat, tapi aku tetap ingin menari tari Bali,” ujarnya sembari ketawa
Alhasil keluarganya mengabulkan permintaan Jasmine Okubo, mereka pindah ke Bali, menuruti keinginan Jasmine belajar tari Bali. Selama di Bali ia belajar di sejumlah sanggar hingga pada tahun 2003 ia menempuh studi Jurusan Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Baginya tari Bali itu sangat detail, dari komposisi gerak, lirikan mata, goyang kepala, hingga pernak-pernik yang melingkupinya, semua memiliki makna tertentu. Penggalian makna inilah yang mempengaruhi Jasmine dalam menggarap pertunjukannya, isunya selalu berkaitan tentang kebudayaan orang Bali dalam menjalani hidup sehari-hari.
“Mbak Jasmine, kebudayaan Jepang yang sangat meditatif dan gerak tarinya dominan pelan kan sangat berbeda dengan tari Bali yang dinamis, kenapa justru memilih tari Bali sebagai dasar tubuhmu?” tanya saya ingin tahu
Ia menjelaskan secara rinci sebenarnya laku orang Jepang dengan orang Bali ada kemiripan, terutama berkaitan dengan pemujaan leluhur dan keyakinan adanya alam lain. Pengaruh kegiatan traveler orang tuanya yang serba cepat, melompat dari ruang budaya satu ke lainnya, riuh perjalanan, pikuk pengembaraan menyebabkan Jasmine sedikit berjarak terhadap Jepang yang gerak tarinya meditatif dan pelan.
Ketegangan tubuhnya ia rasakan, misalnya saat di Turki ia dicap orang Jepang, sementara di Jepang ia tidak dianggap seperti orang Jepang, sementara di Bali ia dianggap asing. Sehingga untuk mengisi kekosongan itu ia harus memilih satu metode tubuh dalam penciptaannya. Ialah tari Bali.
“Aku waktu di Jepang, tidak memilih belajar tari Jepang, malah aku belajar Taiko, seni memukul drum. Pada dasarnya aku memang suka yang energik seperti tari Bali,” terangnya.
Jasmine Okubo di Wihara Banjar, Buleleng
Lebih jauh ia menguraikan bahwa identitas diri yang tegang, serta wajah yang oriental sempat menjadi hambatan dalam belajar tari Bali, dirinya selalu mendapat peran untuk menari kontemporer bukan tari tradisi Bali.
“Dulu saya sering diajak almarhum Nyoman Sura untuk menari kontemporer ke sana ke mari, dari sana saya belajar banyak, bahwa taksu itu dapat ditempa melalui penghayatan yang sungguh,” kenang Jasmine.
Merangkai Kehidupan di Bukit Ser
Kendati tidak mendapatkan kesempatan untuk menari tradisi dalam ajang tertentu, justru Jasmine menjadikannya peluang sebagai dasar penciptaannya. Ia yang dibekali pisau bedah ilmu tari dengan tekun mendedah laku orang Bali dalam berkebudayaan. Kemudian mentranformasikannya ke penghayatan gerak tari Bali, lalu mengkonstruksinya menjadi pertunjukan kontemporer. Hal ini bisa dikatakan memberi marwah baru terhadap karya-karyanya. Sebut saja nomor pementasannya selain "Kukusan Peken", ada "Kukusan Paon", "Wong Peken", "Wong Gamang" dan lain sebagainya.
Dalam "Ibudaya Festival 2021", Jasmine menjabarkan ulang arti pohon kelapa bagi orang Bali. Ia mengamati bagian-bagian pohon kelapa selalu menjadi komponen dalam setiap sendi kegiatan.
Janur muda dirangkai menjadi alas canang, daun yang tua dirangkai menjadi klangsah untuk kegiatan upacara, diulat menjadi kulit tipat, dituas menjadi hiasan untuk dekorasi, dirangkai menjadi kisa -- tempat untuk membawa ayam jago. Kemudian janur kering (danyuh) dan pelepahnya digunakan sebagai kayu bakar.
Bagian batangnya untuk sarana pembuatan garam di beberapa daerah pesisir Bali, seperti Amed – Karangasen dan Les – Buleleng, juga yang lebih berkembang untuk barang kerajinan dan furniture.
Daging buahnya bahan dasar lengis tanusan, serundeng (saur), juga untuk membuat serapah, lawar klungah, dan jukut serombotan, airnya dipergunakan sebagai netralisir racun, batok kelapa untuk mangkok atau peralatan dapur, kulit yang kering diakai untuk upacara pernikahan dalam prosesi tanjung sambuk, atau untuk memanggang babi guling. Dan akarnya diracik untuk obat-obatan tradisional.
Jasmine Okubo di Bukit Ser, Gerokgak, Buleleng
Bagi Jasmine pohon kelapa itu lambang dari kehidupan. sangat relevan untuk dibawa ke Bukit Ser sebagai tempat yang memiliki energi postitif dan rujukan wisata spiritual dari rangkaian "Ibudaya Festival".
Kawasan Bukit Ser atau Tanjung Ser yang terletak di Dusun Yeh Panes, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak – Buleleng, merupakan pelabuhan kuno pada masa prasejarah, para peneliti arkeologi yang sempat melakukan ekskavasi pada situs ini menemukan pecahan gerabah, keramik, cangkang kerang, tembikar serta benda-benda yang berasal dari luar pulau Bali. Temuan tersebut membuktikan bahwa adanya suatu pemukiman atau desa yang dibangun cukup lama, lebih jauh terjadinya akulturasi budaya yang terjalin hingga menghasilkan suatu kebudayaan di tempat tersebut.
Bahkan jauh sebelum temuan-temuan itu, masyarakat yang bermukim di sekitar Bukit Ser menemukan dua buah Arca, yakni Arca Dewi dan Arca Nandi yang diduga berasal dari masa prasejarah terutama masa Hindu-Budha, temuan kedua arca ini diyakini adanya kegiatan atau aktivitas megalitik oleh penghuni lewat pemujaan batu-batu.
Seperti semangat "Ibudaya Festival - Mula Ka Mula", Bukit Ser semacam situs untuk mengunjungi asal muasal yang kini tiada, hanya gersang, panas, debu, serta bukit-bukit bisu yang menjadi saksi yang diam. Cara menghayatinya melalui energi positif serta mensyukuri pemandangan yang eksotik, seolah membayangkan bagaimana leluhur terdahulu menjalani hidupnya di Tanjung Ser.
Dalam bingkai premis di atas Jasmine meraba kembali denyut nadi kehidupan, merangkai sejarah panjang melalui repertoar gubahannya.
“Waktu itu kami dan tim datang sore hari, lalu hujan, kami menunggu hujan reda. Saat reda aku melihat awan masih mendung, matahari senja berwarna orange kekuningan menyusup diantaranya, dan tanah masih sedikit basah seolah menghalau gersang. Aku kayak di alam lain, itu yang bikin aku merinding dan segera menangkap momen itu dalam tubuhku,” pungkasnya. [T]
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...