Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
“Itu adalah hari pertama Ana Maria menyadari arti kehadiran penjajahan Portugis di tanah leluhurnya”
Kalimat pembuka yang dipilih oleh Maria Matildis Banda berhasil menyentak kesadaran dan menyeret memori ingatan saya pada saat Indonesia dipaksa menelan pil pahit penjajahan kolonialisme. Sekiranya, itulah yang saya rasakan. Novel setebal v + 64 halaman, dengan dimensi 12 x 19 cm ini berhasil mengkoyak-koyak emosi saya.
Membaca Doben merupakan upaya pembaca menelusuri rasa sakit, terinjak, hingga kehilangan segala hal dari jarak yang begitu dekat. Doben sendiri merupakan novel yang direkomendasikan oleh salah satu sahabat saya di komunitas Narmada Bali. Salah satu novel yang habis dalam sekali duduk, namun mengungkap banyak persoalan di dalamnya.
Setidak-tidaknya terdapat 13 tokoh di dalamnya, dan berkonsentrasi pada dinamika kehidupan keluarga Martinyo dan Ana Maria. Mereka memiliki 3 orang anak—Antonio, Arnaldo, dan Susana. Penulis nampak mengambil seting tempat di Timor Portuguesa (Timor Leste sekarang), spesifiknya adalah Desa Lauhata Bazartete, Kecamatan Liquica, Kabupaten Dili. Sudut pandang orang ketiga menjadi pilihan utama penulis dalam proses kreatifnya. Saya rasa sudut pandang orang ketiga memang pilihan tepat, mengingat sudut pandang cerita yang disajikan begitu kaya, dan itu disampaikan melalui para tokoh-tokohnya.
Novel ini menggunakan alur maju mundur. Hal tersebut bisa dilihat dari satu narasi di halaman 5 yang berbunyi “Gumpalan awan menari-nari bersamanya, menggantung di atas desa yang sudah bergitu lama menyimpan duka Ana.”
Kalau dilihat dari kalimat di atas, bisa kita lihat bahwa penulis menggunakan pendekatan lewat indra penglihatan dan menjadikan alam sebagai media transisi waktu menuju masa lalu. Tidak hanya di bagian itu, beberapa kali penulis juga menggunakan pendekatan yang sama dalam melakukan transisi waktu, seperti di halaman 13 yang berbunyi “Tiba di sana dia duduk, sendirian di pondok di tengah kebun. Dalam kesunyian kebun dia dapat merasakan kembali hari-hari penuh tawa bersama aman, inan, kakak, dan adiknya.”
Hasrat Memiliki, Mendapat Penghargaan, dan Aktualisasi Diri
Penulis dalam ceritanya, secara terang menyampaikan konflik cerita melalui para tokohnya. Hasrat memiliki seseorang, harta, jabatan, hingga keinginan diakui oleh masyarakat menjadi titik-titik yang berhasil menghidupkan jalan cerita dan menimbulkan begitu banyak emosi dari para pembacanya. Dalam teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, dijelaskan lima hierarki kebutuhan yakni, kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Berangkat dari hal tersebut, berbagai kebutuhan tersebut menjadi sumber konflik dalam novel ini.
Seperti yang disajikan penulis pada halaman 6 “Pada mulanya hanya kepada Imelda dia pergi berkunjung dan membawa jagung dan kopi. Lama-kelamaan dia tidak hanya berkunjung tetapi juga berdagang. Imelda membantu menjual jagung dan kopi ke biara atau membawanya ke Atambua.” Kalimat tersebut menjadi titik awal konflik di mana Martinyo menjadi kambing hitam atas aktivitasnya yang sering melewati perbatasan—artinya kebutuhan fisiologis yang meliputi pangan, sandang, papan menjadi titik awal konflik cerita.
Selanjutnya, bisa kita lihat pada halaman 16 “Letnan Rudolf datang dari Dili. Hari itu pengakuan Martinyo harus ditandatangani untuk dikirim ke Portugal. Keberhasilannya membongkar kasus pembangkangan rakyat di Provinsi Seberang Lautan, apalagi berhasil menangkap tokoh di baliknya, akan memuluskan jalannya ke jenjang kepangkatan yang lebih tinggi. Dia dapat segera pulang ke Lisboa, tanah Eropa yang dapat menyuguhkan segala kenikmatan dunia ini dengan lebih mudah. Tidak terbelenggu di Timor Leste.”
Paragraf tersebut bisa kita terjemahkan bahwa seorang Letnan Rudolf mengejar rasa aman dan nyaman dengan kembali ke tanah kelahirannya, mengingat kondisi politik di Timor Leste yang terus bergejolak. Tidak hanya itu, ia juga mengejar penghargaan untuk dirinya—kenaikan pangkat adalah sebuah penghargaan yang ia kejar dengan mengorbankan Martinyo sebagai kambing hitam. Dalam paragraf tersebut pun bisa kita cerna bahwa di masa penjajahan, tidak ada ruang dan waktu yang aman untuk pihak terjajah.
Teori hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow juga bisa kita simak di halaman 19 “Satu hal lagi. Dulu, berkali-kali kau minta kepada Aman untuk merestui keputusanmu untuk berhenti kerja disini. Akan tetapi, Aman keras kepala, selalu ingin melihat kau kerja jadi pegawai pemerintahan, mengangkat derajat keluarga kita, disegani, dan ditakuti.”
Apa yang disampaikan Martinyo pada Arnaldo, anaknya di dalam ruang penyekapan mengindikasikan bahwa keinginan orang tua untuk disegani oleh masyarakat sekitar yang bisa diwujudkan oleh anaknya—kebutuhan sosial pun menjadi awal mula konflik, setidaknya konflik yang berkecamuk dalam diri Arnaldo yang sesungguhnya enggan untuk bekerja di ruang lingkup pemerintahan.
Tidak Selamanya Rumah Adalah Tempat Paling Aman
Berbagai konflik yang dihadirkan oleh tokoh-tokoh sentral dalam novel Doben ini sekiranya berhasil menyuguhkan satu pandangan baru bahwa rumah yang notabene adalah tempat yang seharusnya aman dan nyaman untuk pulang, nyatanya di beberapa kasus berlaku sebaliknya. Pengkhianatan untuk memuluskan hasrat maupun ego individu akhirnya memecah keutuhan keluarga.
Besarnya hasrat Antonio memiliki seorang Putri Penguasa Timor menggiringnya untuk bekerja sama dengan Letnan Rudolf. Kegagalannya menyelamatkan Aman, dan kenekatannya menjual adiknya sendiri adalah bentuk ambisinya untuk memiliki Putri Penguasa Timor tersebut. Drama pun terjadi, berbohong pada Ana Maria (ibunya) juga ia lakukan yang pada akhirnya menyebabkan kondisi rumah tidak lagi nyaman layaknya masa silam, yang sempat disuguhkan oleh penulis pada halaman 13.
Tidak hanya pengkhianatan. Pengorbanan juga sarat ditampilkan dalam novel ini. Martino, Arnaldo, dan Susana adalah tokoh-tokoh yang mengambil peran tersebut. Pengorbanan yang diperuntukkan untuk mewujudkan rasa aman keluarganya yang sedang berada di bawah ancaman penjajah. Khusus untuk Doben, seekor kuda yang begitu setia dengan majikannya, telah membuka mata kita bahwa sejatinya rasa kemanusiaan tidak hanya dimiliki oleh manusia, tetapi juga seekor kuda. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...