“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Gamelan merupakan salah satu di antara begitu banyaknya kesenian adiluhung. Instrumen musik ini semakin digemari oleh masyarakt Bali, Jawa bahkan di luar negeri. Meskipun semakin digemari, namun dalam proses pembuatan gamelan memerlukan waktu yang sangat lama. Proses pembuatan gamelan ternyata tidak semudah yang dibayangkan, karena harus melewati berbagai tahapan yang rumit. Berbeda dengan alat musik lain yang bisa dikerjakan dengan mesin atau robot, sampai saat ini gamelan hanya bisa dikerjakan secara manual oleh tangan-tangan terampil dan terlatih.
Secara umum alat musik gamelan terdiri dari 24 jenis yang hampir semuanya harus dikerjakan secara manual. Semua itu karena dalam penyetelan tangga nada masih menggunakan alat-alat tradisional. Semua alat musik gamelan yang berasal dari logam harus terlebih dahulu dipanaskan untuk kemudian dibentuk. Setelah terbentuk baru dimulai untuk membuat dengan tangga nada yang dimaksud, Proses pengerjaan alat musik warisan budaya ini tidaklah mudah. Untuk membuat satu set gamelan setidaknya membutuhkan waktu antara dua hingga tiga bulan. Bertambahnya waktu pengerjaan biasanya lebih dalam proses finishing seperti tambahan ukiran atau kehalusan.
Dalam proses pembuatan gamelan, setidaknya terdapat lima tahap yang harus dilalui. Kelima tahap tersebut antara lain, tahap melebur campuran atau yang disebut dengan membesot, mencetak atau menyinggi, menempa, dan melakukan pemeriksaan terakhir atau yang biasa disebut dengan proses membabar. Setelah membabar, ada satu proses penting lagi yang harus dilakukan untuk menghasilkan satu set gamelan yang sempurna, yaitu proses menyesuaikan tangga nada (tuning).
Pembuatan seperangkat gamelan merupakan suatu pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan ketrampilan yang khusus dan dimiliki oleh seorang pande gamelan, dan dalam prosesnya mempergunakan cara-cara dan alat-alat yang bersifat tradisional. Dalam pekerjaan gamelan, teknologi modern hanya mampu mempengeruhi sebagian kecil dari pekerjaan membuat gamelan. Misalkan pada tahap finishing yang mempergunakan gerinda dan tahap tuning yang mempergunakan aplikasi tuning up.
Berikut ini adalah pembuatan gamelan secara manual dengan tangan manusia.


Pada gambar 1 di atas, cetakan gamelan berbentuk bilah sebelum dimasukkan bahan baku berupa bubur besi. Gambar 2. Kowi dipanaskan untuk proses peleburan bahan baku pembuatan gamelan. Proses tersebut masih dilakukan secara tradisional hingga kini. Dalam proses tersebut, peleburan timah dengan tembaga sehingga menjadi bentuk bilah, harus menunggu pengeringan dan waktu yang lumayan lama. Belum lagi masalah percampuran bahan yang tidak stabil dapat berpengaruh pada proses pengerjaannya.


Dalam proses peleburan pada gambar 3, untuk menghasilkan panas yang maksimal dibutuhkan alat pemanas khusus. Gambar 4 adalah gamelan berbentuk bilah yang baru saja dicetak, belum memasuki tahap menempa. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, setelah dicetak, gamelan dibentuk dengan berbagai cara, salah satunya dengan digerinda.

Dalam pembuatan gamelan, kemajuan teknologi yang baru dipakai dalam proses tersebut hanya sebatas pada alat Gerinda. Itupun dalam proses finishing akhirnya saja, namun dalam proses pembuatannya semua masih menggunakan tata pembuatan gamelan secara tradisional. Sebagai tantangan atas kemajuan teknologi yang semakin canggih, maka diperlukan sebuah alat khusus yang mampu memudahkan manusia untuk mempercepat produksi gamelan sehingga dalam pembuatan gamelan tidak harus menunggu waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Sejauh ini perkembangan teknologi baru sudah mulai diterapkan oleh Aaron Taylor Kuffner untuk menciptakan gamelan elektronik diberi nama Gamelatron. Alat musik yang diciptakannya sudah dikenal luas dan sempat dipamerkan pada Baazar Art Jakarta di Pacific Place, 27-30 Juli 2017 lalu.


Gamelatron adalah sebuah terobosan baru dari seni musik gamelan yang menggabungkan unsur robotika di dalamnya. Pertunjukan yang diberikan Gamelatron terasa sangat intens dan mendalam melalui alunan suara yang dihasilkan. Alat musik seperti gong dan bonang disatukan dengan pemukul mekanik dan diatur agar dapat bergerak otomatis sesuai perhitungan. Bentuknya seperti patung bergerak sambil menghasilkan harmonisasi suara yang mampu memukau banyak orang.
Aaron Taylor Kuffner memiliki misi tersendiri untuk proyek Gamelatron ini. Karya seni ini dimaksudkan untuk melestarikan warisan musik tradisional dari gamelan melalui inovasi. Menggabungkan unsur modern dan kuno, Gamelatron hadir sebagai penanda kesiapan musik tradisional menyambut era globalisasi dan modernisasi. Melalui Gamelatron, Aaron melahirkan sebuah seni yang dapat menenangkan jiwa melalui nilai artistik yang kreatif yang dibungkus dalam kemasan yang modern.
Gamelatron merupakan salah satu karya buatan Aaron Taylor Kuffner yang bekerjasama dengan Eric Singer pada 2008. Aaron sebelumnya tertarik untuk mempelajari seni musik gamelan. Ia melakukan riset selama beberapa tahun tinggal di pulau Jawa dan Bali. Aaron mencari cara membuat instrumen hingga mengatur nada setiap alat musik. Pada September 2008, satu set perangkat Gamelatron pun selesai di buat di New York dan sudah mendapat penghargaan Artist in Residency dalam League of Electronic Musical Urban Robots. Aaron Taylor Kuffner adalah seorang seniman konseptual asal Amerika yang bertempat tinggal di New York.
Karya yang dihasilkannya memiliki makna khusus yang memberikan unsur keindahan dan keagungan seni. Aaron mengembangkan Gamelatron selama 9 tahun terakhir dan sudah membuat lebih dari 40 alat musik dalam berbagai ukuran dan fungsi. Karya seni ini sudah dipamerkan dan dapat dinikmati seperti pada museum dan rumah singgah. Rangkaian Gamelatron juga dipasang pada ruang publik dan institusi pendidikan serta pusat kebudayaan di berbagai negara.
Teknologi yang diciptakan tersebut memberikan kemajuan dan inovasi dalam kasanah musik tradisional di Indonsia. Namun, dalam proses produksi gamelan Bali maupun Jawa saat ini masih menggunakan alat manual seperti yang diungkapkan di atas. Tantantangannya kedepan, adalah penemuan sebuah alat baru yang mampu mempercepat produksi instrumen bilah, pencon, hingga gong yang mempermudah manusia sehingga dapat digunakan dalam proses tersebut.
Alatnya bisa saja seperti Mesin Cetak Gamelan yang bisa memproduksi gamelan secara global. Hanya saja dalam tahap akhir tetap menggunakan alat tuning baik dari aplikasi smartphone (Carltone) untuk menentukan kwalitas suara gamelan.
Dengan adanya mesin cetak gamelan, nantinya akan dapat mengirit biaya pengerjaan sebuah gamelan, mengurangi tenaga manusia dalam proses pengerjaannya, serta memperlancar sekaligus mempercepat produksi gamelan secara menyeluruh. [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...