‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Bila tak punya karang sawah, tanami karang awak. Karang sawah selain secara harfiah berarti tanah sawah, juga berarti segala milik yang ada di luar diri, seperti: uang, rumah, pakaian, makanan. Sedangkan karang sawah, berarti diri. Diri adalah tubuh beserta segala lapisannya, yakni fisik, pikiran, kecerdasan, kesadaran. Jadi, IPM Sidemen bermaksud mengatakan bahwa hal-hal bendawi yang tidak dimiliki, bisa “disiasati” dengan diri. Tetapi latihan fisik, olah pikir, olah rasa yang dilakukan terus menerus saja tidak cukup dan sangat romantik. Agar kemampuan-kemampuan itu berguna, orang butuh ruang yang tepat. Sehingga kemampuan-kemampuan itu benar-benar dapat berguna dan dibutuhkan oleh lingkungan atau dalam bahasa IPM Sidemen “guna dusun ne kanggo ring desa-desa”. Dengan kata lain, bila kemampuan itu dianggap tidak dibutuhkan, guna jadi tidak berguna.
Andai kata kemampuan-kemampuan itu dibutuhkan, butuh satu lagi penunjang, yakni hubungan, link! Dalam banyak kasus di sekitar kita, kita membutuhkan penunjang yang satu ini. Kebiasaan, usaha, kerja keras, semua itu tumpul di hadapan link. Seperti panah-panah sakti Arjuna di hadapan Nilacandra. Atau senjata-senjata Purusadha di hadapan Sutasoma. Semua kesaktian-kesaktian itu tumpul dan menjadi bunga-bunga yang harum. Kalau pun tidak berubah menjadi bunga, paling tidak senjata-senjata itu menjadi puisi. Di hadapan link, tidak ada jalan lain bagi aktor selain menerima dan tunduk.
Bourdieu menganggap aktor sosial memiliki modal yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan [habitus]. Meski habitus memang tidak menentukan dalam praktik sosial, tapi punya andil dalam memengaruhinya. Karang awak pada kenyataannya sanggup memengaruhi karang sawah. Begitu pula sebaliknya. Pengaruh ini tidak pernah berjalan satu arah, tetapi bolak-balik. Oleh sebab itu, link adalah bentuk karang sawah lainnya yang mempengaruhi karang awak. Meskipun link ini terkesan diabaikan dalam teori, sunguh sangat berbeda dalam praktiknya. Bahkan link bisa menjadi konci rahasya untuk membuka pintu-pintu yang tertutup rapat. Seperti mantra Abracadabra!
Kita sesungguhnya tidak perlu lagi mendaftar contoh-contoh di mana link adalah koentji. Kita bisa dengan mudah menemukan pemanfaatannya di berbagai bidang, entah di bidang politik, ekonomi, seni, bahkan agama sekali pun. Anak sekolah, pekerjaan, jabatan, itu semua juga didasari oleh link dalam batas-batas tertentu. Bahkan dalam sastra, link juga akan sangat membantu. Sastra memang dianggap lahir dari keluhuran budi, dan dengan begitu sastra dianggap sangat jauh dari hal-hal berbau anyir kalau tidak boleh disebut busuk.
Dalam tradisi, sastra bahkan diyakini dengan sangat, bisa menyucikan batin karena ia lahir dari kesucian. Sastra adalah dunia ideal di mana hal-hal lain selain kesucian, tidak akan punya tempat. Karena itu kita sulit menemukan sebuah cerita sastra yang berakhir sad ending. Bahkan dalam cerita pertempuran Dharma dan Adharma yang diwakili oleh Barong dan Rangda sekalipun, tidak jelas siapa yang dimenangkan dan siapa yang dikalahkan.
Sebenarnya, orang juga harus menerima, pembersihan dengan cara sastra juga membutuhkan link. Sebelum seseorang bisa membaca isinya dan meneguk sari patinya yang konon serupa amerta itu, terlebih dahulu orang mesti mampu mengakses naskahnya. Nyatanya, naskah-teks tertentu yang tidak umum di perpustakaan-perpustakaan hanya bisa dibuka lewat mantra khusus link abracadabra. Karena itu, karang awak yang konon mesti ditanami bija-bija sastra, membutuhkan penunjang yang teramat penting ini. Sehingga bija itu bisa tumbuh, mengakar sampai di sanubari dan membuat otak lebih bercahaya.
Link bisa didapat dengan beberapa macam cara. Cara paling natural adalah memanfaatkan anugerah kelahiran. Pemanfaatan ini sudah pernah terjadi di masa lampau, terutama pada masa kerajaan. Kita tahu betul kalau pelanjut kekuasaan bisa dilakukan atas dasar keturunan. Misalnya dua anak Airlangga yang sebenarnya ingin diberikan kekuasaan di Jawa dan Bali. Konsolidasi politik ini dilakukan oleh Mpu Baradah dengan menemui Mpu Kuturan. Tafsir atas pertemuan dua Mpu itu, bisa dibaca dalam tulisan Soewitosantoso. Melalui catatan teks Calon Arang, kita diberitahu bahwa kelahiran adalah anugerah yang bisa dimanfaatkan sebagai link. Dan tentu saja, pola ini masih berlaku sampai hari ini.
Cara lain untuk mendapat link adalah dengan memperluas pergaulan. Pergaulan bisa didapat dengan menyamakan frekwensi. Struktur mental atau kognitif, sangat berperan dalam hal ini. Struktur itulah yang nanti menjadi bekal aktor sosial untuk merasakan, memahami, menyadari dan menilai dunia sosial. Artinya, aktor sosial dapat memperluas pergaulan dengan memperbanyak bekal kognitifnya. Di masa depan, bekal kognitif yang diasah terus menerus akan memberikan pengaruh pada dunia sosial, tempat di mana sang aktor tinggal dengan sendirinya.
Sebuah Anime berjudul Tensei Shitara Suraimu Datta Ken – disingkat TenSura – menunjukkan bahwa bekal ingatan kognitif yang dibawa oleh tokoh utamanya yakni Satoru Mikami membawa keuntungan bagi dirinya. Satoru Mikami adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan yang meninggal karena ditikam, dan masuk ke dalam dunia Isekai. Di dunia baru itu, dia bergaul dengan karakter-karakter hebat, termasuk seekor naga bernama Veldora. Karena dia bergaul dengan Veldora, Satoru yang sudah bereinkarnasi menjadi slime, juga mendapatkan nama yakni Rimuru. Setelahnya, dia bergaul lagi dengan karakter-karakter hebat lainnya seperti Diablo dan para Demon Lord. Pergaulan itu, memungkinkan dia mendapat link dan menjadi salah satu karakter yang over power [OP].
Link dengan demikian memang bisa didapat karena nature dan nurture. Karang awak dan karang sawah, mula-mula adalah nature yang bisa dijadikan modal awal untuk meraih tujuan. Tapi modal itu saja belum cukup, karena butuh usaha atau nurture untuk mengolah kedua karang itu menjadi modal yang lebih kuat. Untuk membikin modal yang kuat, aktor sosial mesti memiliki kekuatan untuk menahan rasa sakit. Sayangnya, itu belum cukup. Rasa sakit memang mengajarkan aktor untuk belajar bertahan dan bahkan membentuk koloni atas dasar sependeritaan. Ada banyak ajaran untuk mengembangkan kemampuan bertahan dari rasa sakit. Tapi tantangan sebenarnya bukanlah dari rasa sakit, justru dari rasa bahagia. Kebahagiaan selalu membuat aktor-aktor tidak mawas diri dan lupa memasang kuda-kuda. Perasaan bahagia yang membuncah lebih sulit ditahan dari pada rasa sakit. Maka aktor sosial juga mesti memiliki kekuatan untuk menahan diri dari rasa bahagia.
Bila karang sawah tidak ada, karang awak yang ditanami pun sebenarnya belum cukup sebagai bekal hidup. Ada faktor lain seperti misalnya link yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Setelah link didapat, tahap selanjutnya adalah menahan luka dan suka. Bukankah, siapa yang mampu menahan luka, mestinya ia juga berlaku sama pada suka? [T]
___
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...