Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Pembelajaran Tatap Muka Terbatas yang biasa disebut PTM Terbatas pada Sekolah di Kabupaten Gianyar pernah terjadi di Semester 2 Tahun Ajaran 2020/2021 seijin Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar. Namun semenjak PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang terus bergulir dari waktu ke waktu dari mulai ditetapkannya PTM Terbatas berhenti dilaksanakan. Sehingga Pembelajaran yang diberlakukan adalah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan moda daring.
PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat Jawa – Bali yang mulai ditetapkan dari tanggal 3 Juli hingga 20 Juli 2021 khusus untuk wilayah di Pulau Jawa dan Bali menyebabkan semua sektor tidak berjalan sebagaimana biasanya termasuk Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan.
Kemudian dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, ekonomi dan dinamika sosial, Presiden telah memutuskan untuk melanjutkan penerapan PPKM Level 4 dari tanggal 26 Juli hingga 2 Agustus 2021 yang artinya walaupun ada penyesuaian namun sekolah juga tak kunjung dibuka sampai pada akhirnya PPKM terus mengalami waktu perpanjangan dimulai dari tanggal 3 hingga 9 Agustus 2021.
PPKM tidak berhenti sampai di situ. Pemerintah memperpanjang PPM per level Jawa-Bali hingga 13 September 2021 sehingga PTM Terbatas yang dinanti peserta didik masih menjadi bahan pertimbangan. Apalagi di awal tahun ajaran 2021/2022 Guru masih memikirkan cara pembelajaran yang mengedepankan kenyamanan siswa untuk belajar. Karena menurut pengalaman yang telah terjadi banyak orang tua siswa masih belum siap dengan pembelajaran daring dikarenakan pembelajaran daring menurutnya memberatkan. Banyak hal yang perlu dipersiapkan seperti gawai yang digunakan siswa untuk belajar, data seluler, serta ketersediaan jaringan. Hal ini menjadi catatan yang perlu dievaluasi.
Pembelajaran daring yang kurang diminati siswa dan orang tua sesuai dari pendapat pribadi adalah pembelajaran tatap muka secara virtual (Zoom atau Google Meet) karena orang tua siswa tidak dapat mendampingi anak didik secara penuh di rumah karena mereka sebagian besar harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa pandemi. Selain itu pertemuan virtual dianggapnya tidak hemat kuota dan memberatkan biaya pendidikan. Dari hasil wawancara, orang tua siswa juga menyampaikan aplikasi yang dianggapnya sulit untuk dioperasikan tidak cocok diterapkan di kelas karena dapat menghambat proses asesmen.
Metode yang digunakan lebih baik menggunakan metode yang fleksible sehingga tidak memberatkan guru, orang tua dan juga siswa. Metode yang dimaksud adalah dengan cara memberikan waktu yang leluasa untuk siswa belajar dan melakukan asesmen sehingga siswa dapat melakukannya kapan saja tidak terikat di waktu pagi saja. Waktu pembelajaran diberlakukan hari senin sampai dengan sabtu, dikecualikan hari minggu dan tanggal merah serta hari libur nasional.
Pembelajaran menggunakan media Whatsapp Group sehingga siswa dapat mengakses kapan saja sumber belajar yang ingin dipelajari dengan waktu pengerjaan tugas yang fleksible tak terbatas pada waktu yang singkat. Sehingga siswa dan orang tua siswa dapat menyesuaikan dengan kesibukannya masing-masing.
Sistematika yang digunakan adalah guru memberikan/mengirimkan sumber belajar kepada siswa melalui Whatsapp Group kemudian siswa mempelajarinya. Pembelajaran dilanjutkan dengan memberikan latihan soal atau tugas yang perlu dikerjakan siswa agar siswa dapat mengelaborasi kemampuan yang dimilikinya. Pembelajaran yang dilakukan merunut pada diferensiasi pembelajaran dimana produk atau cara belajar yang mereka gunakan menjadi pembelajaran yang unik. Pembelajaran yang dimaksud keluarannya menghasilkan projek yang tak sama antara siswa satu dengan yang lainnya.
Hal ini menjadikan siswa memiliki kemampuan berkreasi dan menemukan cara belajarnya sendiri. Adapun Sumber Belajar yang digunakan oleh guru dalam menanamkan konsep ke peserta didik adalah YouTube yang dibuat oleh guru bersangkutan disesuaikan dengan tema atau materi yang ingin dibelajarkan. Selain Media YouTube, siswa juga menggunakan Media Podcast yaitu rekaman suara yang dapat diputar siswa kapan saja. Adakalanya siswa jenuh sehingga pembelajaran yang dilakukan adalah pembelajaran berkreasi seperti contohnya kegiatan menggambar atau mengarang cerita. Siswa juga memanfaatkan buku digital dan buku fisik yang dibagikan oleh guru ke siswa untuk dipelajari. Sehingga materi tidak terfokus pada materi online saja.
Guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan tetap menekankan emosi dan psikologi anak di masa pandemi. Sehingga materi yang diberikan guru lebih kepada materi yang tidak memberatkan siswa. Sehingga kurikulum yang lebih cocok digunakan adalah kurikulum darurat sesuai Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Hal ini dimaksud pembelajaran lebih diutamakan pada kebutuhan peserta didik.
Mendikbud, Nadiem Makariem menjelaskan Kurikulum pada satuan pendidikan dalam kondisi khusus memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa diantaranya 1) tetap mengacu pada Kurikulum Nasional; 2) menggunakan kurikulum darurat; atau 3) melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri.
Dengan berbagai fasilitas teknologi yang memadai belakangan ini ternyata ada konsep yang tertinggal dalam pola pembelajaran moda daring pada masa Pandemi Covid yang berjalan hampir mendekati dua tahun berawal dari tanggal 17 Maret 2020 siswa melakukan hari pertamanya belajar dari rumah.
Konsep Gerakan Literasi Sekolah yang didengungkan oleh pemerintah di tahun 2018 melalui penerbitan Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) untuk saat ini terasa tersendat, sekalipun anak-anak melek teknologi dan platform digital ramah anak telah dibuat.
Hal ini bukan tidak beralasan. Hari pertama siswa belajar tatap muka siswa terlihat bersemangat. Bahkan anak-anak datang lebih pagi untuk sampai di sekolah. Mereka seakan merindukan kehidupan sekolah mereka ketika berinteraksi bersama teman-teman mereka. Tak hanya itu, siswa juga begitu antusias mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah.
Gianyar merupakan kabupaten pertama di Bali yang menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas dimulai pada tanggal 20 September 2021 dengan sistem sesi. Jumlah siswa dalam satu kelas dibagi dua menjadi kelas pagi dan siang. Kelas pagi memulai pembelajarannya di pukul 07.30 sampai dengan pukul 09.30 dan kelas siang memulai pembelajaran pada pukul 10.00 hingga pukul 12.00 tanpa ada jeda istirahat. Sehingga apabila dikalkulasi siswa memperoleh hak belajarnya selama dua jam per tatap muka.
Ada sesuatu yang unik ketika siswa mengangkat tangannya berharap ditunjuk oleh gurunya. Ketika disuruh untuk menuliskan salah satu bunyi Pancasila, siswa merasa bingung. Ada huruf-huruf yang mereka lupa untuk dituliskan di papan tulis. Bahkan ejaannya masih kurang sempurna. Di lain hal ketika siswa diintruksikan untuk membaca wacana, anak-anak terlihat belum fasih membaca seakan mereka baru saja mengenal huruf.
Dari pemandangan tersebut terlihat bahwa pembelajaran daring yang telah terjadi belum mampu memberikan tagihan yang memuaskan pada pendidikan. Ini menandakan peran guru tidak dapat terganti oleh canggihnya teknologi. Tak hanya sampai di situ, orang tua yang dalam konteks ini sebagai ‘guru rupaka’ patut pula memandang hal ini sebagai hal yang serius sehingga anak-anak tak lagi melupakan konsep belajar yang sesungguhnya.
Kembalikan konsep Gerakan Literasi Sekolah dengan Penumbuhan budaya literasi dan minat baca di sekolah, salah satunya melalui kegiatan 15 menit membaca, kunjungan wajib ke perpustakaan, pembelajaran berbasis literasi yang disesuaikan dengan kondisi di lingkungan siswa. Hal lain yang perlu dilakukan dapat dengan cara memaksimalkan kembali pojok baca yang terbengkalai, memulai kegiatan membaca dari buku yang mereka paling sukai seperti buku cerita bergambar yang penuh warna sehingga harapannya siswa kembali tumbuh kebiasaan membaca dan menulisnya. [T]
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...