Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Banjar Desaanyar, Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, kini punya identitas pada ranah seni tari. Identitas itu adalah Tari Rejang Shanti.
Tari ini diciptakan oleh dosen ISI Denpasar, Ni Wayan Suartini, S.Sn., M.Sn, pada tahun 2020. Nah, melalui Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh para Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, tari itu dielaborasi atau disesuaikan kembali dengan potensi seni yang ada di banjar Desaanyar. Sehingga tari itu menjadi Tari Rejang Shanti sebagai pengiring upacara pada Pura di banjar itu.
PKM ISI Denpasar ini dilaksanakan, salah satunya memang untuk memberikan nafas bagi kesenian-kesenian yang ada di masyarakat. Entah itu melestarikan kesenian yang hampir punah, mewujudkan yang baru dan megelaborasi tari yang sudah ada, sehingga mampu menjadi identitas sebuah desa sebagai pendukungnya.
Suartini selaku Ketua Tim PKM serta I Ketut Sariada dan I Gede Mawan sebagai anggota yang dibantu dua mahasiswa Jurusan Tari mampu mewujudkan sebuah tarian upacara piodalan di desa tersebut. Hal itu diwujudkan, setelah prejuru desa setempat membutuhkan dan bisa memiliki sebuah tari dan tabuh ritual untuk pengiring piodalan di pura di desanya.
Dengan permasalahan itu, Tim yang dipimpinnya ini memberi pelatihan tari maupun pelatih tabuh Rejang Shanti kepada masyarakat di Banjar Desaanyar. “Kami bersyukur, Tari Rejang Shanti itu telah terwujud, semoga dapat menjadi solusi dari permasalahan yang dialami oleh masyarakat Banjar Desaanyar,” kata Suartini.
Ketika ditampilkan pada Rahihna Tumpek Landep, Sabtu 11 September 2021, bertempat di pura di banjar itu, Tari Rejang Shanti memiliki gerak yang sangat khas. Meski bentuknya sangat sederhana, tetapi mampu memberikan spirit dari masyarakat Banjar Desaanyar sebagai pendukungnya. Penarinya adalah remaja atau pemudi dan PKK.
Musik iringan yang menggunakan Gamelan Semarandana memberikan nuansa klasik yang kental. Keunikannya, terletak pada gerak tarinya yang terinspirasi dari gerak papendetan yang ada. “PKM ini untuk memberikan pelatihan Tari Rejang Shanti dalam mengiringi upacara piodalan di Banjar Desaanyar. Sebelumnya, belum ada tari ritual upacara piodalan, seperti Tari Rejang di pura banjar tersebut,” ungkap Suartini.
Untuk mewujudkan tari itu, Tim PKM ini telah melakukan pertemuan dengan prajuru desa setempat, sehingga meutuskan untuk melakukan pelatihan tari dan tabuh Rejang Shanti di Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita Banjar Desaanyar. Metode pelaksanaannya dengan ceramah, demonstrasi, dan pendampingan dalam pelatihan. “Kami memberikan pelatihan serta memaparkan tentang wawasan, filosofi, serta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Tari Rejang Shanti, sehingga dapat mengetahui makna dari tarian tersebut. Dengan begitu hasil dari pelatihan tari dan tabuh Rejang Shanti ini akan lebih mudah mengekspresikan serta dapat dilestarikan,” paparnya.
Amu, demikian sapaan wanita asal Kuta ini, disamping untuk memupuk rasa kebersamaan dan menumbuhkan jiwa peduli terhadap kesenian tradisi, Tari Rejang Shanti ini untuk menguatkan seni di masyarakat yang berkaitan dengan seni ritual sebagai pengiring upacara piodalan. Pemahaman dan penguasaan tentang bentuk, filosofi dan makna akan mampu membawa masyarakat menjadi penari yang metaksu (memiliki kekuatan dalam) sebagai salah satu kekuatan tari Bali.
“Kegiatan ini juga untuk mendekatkan lembaga Institut Seni Indonesia Denpasar dengan masyarakat khususnya Banjar Desaanyar, dan mengimplementasikan hasil penciptaan dan kepakaran yang dimiliki dosen ISI Denpasar,” bebernya.

Tari Rejang Shanti ini merupakan tari persembahan, rasa puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa atas turunnya parawidyadari ke dunia untuk menyaksikan upacara piodalan, sehingga masyarakat menjadi damai di hati damai didunia. Manfaat dari pelatihan tari dan tabuh Rejang Shanti bisa dijadikan sebagai identitas bagi masyarakat Banjar Desaanyar, disamping dapat memperkaya kasanah berkesenian yang dimiliki di banjar ini. “Kegiatan pelatihan Tari Rejang Shanti diawali dengan pelatihan tari dengan memberikan teknik dasar tari,” akunya.
Selanjutnya proses pelatihan yang dilakukan bagian perbagian mulai dari pangawit, pangawak, pangecet dan pakaad. Kemudian menggabungkan seluruh bagian menjadi satu yang dilakukan secara berulang-ulang, sehingga para peserta dapat menguasai secara baik dan benar. Begitu juga dengan penabuhnya melakukan pelatihan dari bagian pangawit, pangawak, pangecet, dan pakaad. Lalu, digabungkan antara tari dengan iringannya, sehingga penguasaan Tari Rejang Shanti menjadi satu kesatuan dengan musik pengiringnya.
Pelatihan ini memerlukan waktu enam bulan, mulai dari observasi, pelatihan dan diakhiri dengan pementasan disertai dengan perekaman. Pementasan dan perekaman merupakan evaluasiter akhir dari semua materi yang telah diberikan pada waktu pelatihan dengan menggunakan tata rias dan kostum Tari Rejang Shanti diiringi gambelan Semarandana.
“Hasil dari pelatihan tari dan tabuh ini adalah pembuatan video. Hasil dari pementasan ini, kami berharap masyarakat Banjar Desaanyar dapat mempergunakan secara terus menerus sebagai pengiring upacara piodalan di pura,” tutup senman tari yang biasa pentas di tingkat lokal, nasional, dan internasional. [T][*/Rls]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...