Mungkin Saja Penyu Akan Menyelamatkanmu — Cerita dari Pantai Samas
“Lalu apa yang saya dapat setelah melepas tukik ke laut?” ___ Suatu hari di perjalanan pulang dari selatan menuju utara, dari pantai Samas, Yogyakarta, menuju Kalasan, perta...
April 2012, Payung Teduh yang beranggotakan Is pada gitar dan vokal, Ivan pada guitarlele dan terompet, Cito pada drum dan Comi pada contra-bass merilis album studio keduanya bertajuk "Dunia Batas", sebagai lanjutan dari album pertamanya yang dirilis pada tahun 2010.
Sejalan dengan nama bandnya, Payung Teduh (dalam album ini) menyuguhkan musik yang benar-benar adem, lirik-liriknya yang begitu romantik berhasil membuat saya terkagum-kagum dibuatnya serta aksen dari guitarlele dan terompetnya Ivan yang nyaris membuat saya benar-benar berara di dunia lain— magis.
Lagu pertama yang saya kenal pada album ini tak lain tak bukan berjudul "Untuk Perempuan yang sedang dalam Pelukan", dari judulnya saja sudah begitu puitis! Yang kadang-kadang membawa pikiran ini kembali ke cinta di masa putih abu dahulu, sangat nostalgis.
"hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau, sedang cantik-cantiknya"
Mari kita sejenak mengapresiasi betapa eloknya larik ini, pasti para perempuan pasti akan sangat terpukau jika lelaki mengungkap ini; bahkan bintang-bintangpun sembunyi malu karena ia merasa kalah cantik oleh salah satu penghuni bumi yang jauh di sana.
Dengan petikan yang bagai angin sepoi di sore hari, berhasil membuat saya jatuh cinta dengan Payung Teduh, menuju perjalanan lain menelusuri seluruh lagu di album ini.
Tema tentang kehidupan keseharian, percintaan, alam hingga kematian tergambar di album ini. Jikalau kalian sedang kasmaran, album ini mestinya wajib ada di daftar putar ulang kalian.
Selanjutnya ada 'Berdua Saja', lagu yang terkesan 'sepi' ini membuat saya sebagai pendengarnya terhipnotis selama empat menit. Dibuka dengan melodi yang adem, lagu yang dibalut dengan kata-kata yang sederhana tapi 'menusuk' ini berhasil membuat saya ingin cepat-cepat menyatakan cinta kepada seseorang— sebelum semua berujung tragis seperti 'Resah'
"Malam jadi saksinya Kita berdua di antara kata Yang tak terucap
Mungkinkah kita ada kesempatan Ucapkan janji Takkan berpisah selamanya?"
Tak hanya tentang cinta, Payung Teduh secara mengejutkan juga memasukan lagu tentang kematian yang tragis di dalam album ini. Diberi judul 'Resah', lagu ini diawali dengan humming 'parara', jujur lagu ini yang membuat saya merinding, apalagi saat menonton konsernya secara langsung, memberikan pebgalaman yang sangat menakjubkan dalam hidup saya.
"Aku ingin berdua denganmu Di antara daun gugur Aku ingin berdua denganmu Tapi aku hanya melihat keresahanmu"
Lagu berikut ini menurut saya merupakan lagu yang sangat adem, nuansanya seperti sedang tidur terlentang dengan tangan terlipat di belakang kepala, di dataran tinggi daerah Bandung Utara, dengan sedikit teh tawar hangat menemani. Judulnya adalah 'Rahasia' yang juga menjadi lagu terpanjang dalam album ini.
"Untuk itu semua aku mencarimu Berikan tanganmu jabat jemariku Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu"
Tak hanya lagu-lagu yang membuat pendengarnya kenikmatan hingga terkantuk-kantuk, Dunia Batas ini juga menyajikan lagu-lagu yang asik untuk menemani pinggul yang sedikit ingin bergoyang, seperti 'Angin Pujaan Hujan' dan 'Menuju Senja' yang keduanya dibalut irama keroncong dengan guitarlele dan terompetnya.
Kemudian yang terakhir ada 'Di Ujung Malam' dan 'Biarlkan' yang kumplit membuat Album ini sebagai album folk favorit penulis. Nuansa magis ditawarkan melalui musik hingga liriknya, seperti benar-benar berada di Dunia Batas— di alam imaji para personil Payung Teduh ini.
Sebagaimana interpretasi, album ini menurut saya adalah fragmen-framen di bentangan memori luas; tentang tempat, tentang sosok, tentang pengalaman, tentang segala sesuatu yang pernah menancap di dalam kepala ini, yang mungkin tidak pernah saya lupakan karena ia melekat pada nada dan alunan gitar di album Dunia Batas, terima kasih Payung Teduh.
“Tak ada sore dan udara menjadi segar
Tak ada gelap lalu mata enggan menatap
Tak ada bintang mati butiran pasir terbang ke langit
Tak ada fajar hanya remang malam
Semua tlah hilang terserah matahari”
- Payung Teduh - Rahasia
“Lalu apa yang saya dapat setelah melepas tukik ke laut?” ___ Suatu hari di perjalanan pulang dari selatan menuju utara, dari pantai Samas, Yogyakarta, menuju Kalasan, perta...
SEPOTONG SENJA DI RUMAH ITU Sepotong senja dari tubuhmu Memanggil-manggil di ambang riuh Aku tertatih-tatih oleh rindu Melarung kenangan Sekian lama aku te...
Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berkerja sama dengan Bentara Budaya Bali mengetengahkan Pentas Cantrik Maestro 2019....
Siapa yang tidak kenal Lembar Kerja Siswa atau jamak disingkat LKS? Rasanya setiap siswa yang tengah menjalani pendidikan atau pernah melewati pendidikan formal di Indonesia akan...
Ini pertanyaan sejak lama, sejak lagu Pop Bali atau Lagu Daerah Bali dilombakan lalu diparadekan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Kenapa lagu-lagu pop Bali ala PKB yang selalu men...
Kali ini kita akan membahas suatu hal yang ringan-ringan saja. Karenan saking ringannya, mungkin saja tiba-tiba ia menjadi cukup penting. Kok bisa begitu? Ya, karena setiap hal se...
Di kampusku, mahasiswa calon sarjana yang menginjak semester 4 harus mengambil mata kuliah tambahan di hari libur semesternya. Mata kuliah itu namanya KKN. Kepanjangannya Kuliah K...
Inspirasi tulisan ini sebenarnya sudah muncul sejak 2011 lalu, saat saya berencana melanjutkan studi master di UGM. Keterlambatan mengirim lamaran membuat saya harus menunggu pend...
Hari menjelang sore, matahari tepat berada setara dengan mata saat memandang lurus. Saya sedang duduk di pinggir pantai, suara deburan ombak saling kejar-kejaran. Angin sepoi-sepo...
Berbincang tentang desa bali aga, di Bali memang banyak desa yang disebut sebagai kawasan Bali Aga. Di Kabupaten Buleleng ada wilayah bali aga, yakni wilayah SCTPB (Sidatapa...