Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial
SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh pemuda miskin (juga) di zaman Dinasti Kina. Pria muda...
April 2012, Payung Teduh yang beranggotakan Is pada gitar dan vokal, Ivan pada guitarlele dan terompet, Cito pada drum dan Comi pada contra-bass merilis album studio keduanya bertajuk "Dunia Batas", sebagai lanjutan dari album pertamanya yang dirilis pada tahun 2010.
Sejalan dengan nama bandnya, Payung Teduh (dalam album ini) menyuguhkan musik yang benar-benar adem, lirik-liriknya yang begitu romantik berhasil membuat saya terkagum-kagum dibuatnya serta aksen dari guitarlele dan terompetnya Ivan yang nyaris membuat saya benar-benar berara di dunia lain— magis.
Lagu pertama yang saya kenal pada album ini tak lain tak bukan berjudul "Untuk Perempuan yang sedang dalam Pelukan", dari judulnya saja sudah begitu puitis! Yang kadang-kadang membawa pikiran ini kembali ke cinta di masa putih abu dahulu, sangat nostalgis.
"hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau, sedang cantik-cantiknya"
Mari kita sejenak mengapresiasi betapa eloknya larik ini, pasti para perempuan pasti akan sangat terpukau jika lelaki mengungkap ini; bahkan bintang-bintangpun sembunyi malu karena ia merasa kalah cantik oleh salah satu penghuni bumi yang jauh di sana.
Dengan petikan yang bagai angin sepoi di sore hari, berhasil membuat saya jatuh cinta dengan Payung Teduh, menuju perjalanan lain menelusuri seluruh lagu di album ini.
Tema tentang kehidupan keseharian, percintaan, alam hingga kematian tergambar di album ini. Jikalau kalian sedang kasmaran, album ini mestinya wajib ada di daftar putar ulang kalian.
Selanjutnya ada 'Berdua Saja', lagu yang terkesan 'sepi' ini membuat saya sebagai pendengarnya terhipnotis selama empat menit. Dibuka dengan melodi yang adem, lagu yang dibalut dengan kata-kata yang sederhana tapi 'menusuk' ini berhasil membuat saya ingin cepat-cepat menyatakan cinta kepada seseorang— sebelum semua berujung tragis seperti 'Resah'
"Malam jadi saksinya Kita berdua di antara kata Yang tak terucap
Mungkinkah kita ada kesempatan Ucapkan janji Takkan berpisah selamanya?"
Tak hanya tentang cinta, Payung Teduh secara mengejutkan juga memasukan lagu tentang kematian yang tragis di dalam album ini. Diberi judul 'Resah', lagu ini diawali dengan humming 'parara', jujur lagu ini yang membuat saya merinding, apalagi saat menonton konsernya secara langsung, memberikan pebgalaman yang sangat menakjubkan dalam hidup saya.
"Aku ingin berdua denganmu Di antara daun gugur Aku ingin berdua denganmu Tapi aku hanya melihat keresahanmu"
Lagu berikut ini menurut saya merupakan lagu yang sangat adem, nuansanya seperti sedang tidur terlentang dengan tangan terlipat di belakang kepala, di dataran tinggi daerah Bandung Utara, dengan sedikit teh tawar hangat menemani. Judulnya adalah 'Rahasia' yang juga menjadi lagu terpanjang dalam album ini.
"Untuk itu semua aku mencarimu Berikan tanganmu jabat jemariku Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu"
Tak hanya lagu-lagu yang membuat pendengarnya kenikmatan hingga terkantuk-kantuk, Dunia Batas ini juga menyajikan lagu-lagu yang asik untuk menemani pinggul yang sedikit ingin bergoyang, seperti 'Angin Pujaan Hujan' dan 'Menuju Senja' yang keduanya dibalut irama keroncong dengan guitarlele dan terompetnya.
Kemudian yang terakhir ada 'Di Ujung Malam' dan 'Biarlkan' yang kumplit membuat Album ini sebagai album folk favorit penulis. Nuansa magis ditawarkan melalui musik hingga liriknya, seperti benar-benar berada di Dunia Batas— di alam imaji para personil Payung Teduh ini.
Sebagaimana interpretasi, album ini menurut saya adalah fragmen-framen di bentangan memori luas; tentang tempat, tentang sosok, tentang pengalaman, tentang segala sesuatu yang pernah menancap di dalam kepala ini, yang mungkin tidak pernah saya lupakan karena ia melekat pada nada dan alunan gitar di album Dunia Batas, terima kasih Payung Teduh.
“Tak ada sore dan udara menjadi segar
Tak ada gelap lalu mata enggan menatap
Tak ada bintang mati butiran pasir terbang ke langit
Tak ada fajar hanya remang malam
Semua tlah hilang terserah matahari”
- Payung Teduh - Rahasia
SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh pemuda miskin (juga) di zaman Dinasti Kina. Pria muda...
“When you believe in money and begin to think that nothing can be done without it, you lose your belief in God, in fellow human beings, and in yourself.” The Gospel of Mahamaya –...
WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan mengurangi biaya politik...
"Kamu nggak lupa jas hujan kan?" tanyaku. Dengan gaya khasnya yang tergesa-gesa, Satria mengambil dua jas hujan, warna biru untuknya, yang warna pink untukku. Di seberang, namp...
Hal-Hal Kecil yang Menyebut Namamu aku mencintaimuseperti hujan mencintai jalanantanpa ingin memiliki,cukup jatuh, pulang, dan menghilang di gelas kopi yang kau tinggalkanna...
SATU bulan lalu saya menulis naskah buku bergenre self-empowerment untuk sebuah penerbit alternatif di Yogyakarta. Awalnya saya hanya berniat mengirimkan naskah kumpulan esai dala...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 13 Januari 2026 Salah satu ajaran leluhur Bali yang paling penting adalah ajaran "Sekala dan Niskala". Bukan "Niskala dan Sekala". Sekala dulu,...
SEPULUH penulis terpilih dari berbagai wilayah di Indonesia diumumkan lolos untuk mengikuti program Emerging Writers Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 di Ubud, Bali,...
NAMANYA bukan hanya dikenal di lingkungan RT atau kelurahan saja. Masyarakat satu kabupaten, bahkan satu provinsi mengenal namanya. Kalau pun belum pernah berjumpa langsung, palin...
Ya, “Greenfields” karya The Brothers Four, seperti padang rumput hijau yang dicium matahari, membentang jauh ke dalam jiwa. Lagu ini hadir laksana lukisan lembut yang menarik kita...