Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Kisah-kisah di sebuah desa tani atau desa agraris, nyata atau imajiner, selalu menarik untuk dibaca dan didengar. Tokoh-tokohnya seakan datang dari masa lalu, meski misalnya ia hidup di zaman modern ini. Tokoh-tokoh yang diciptakan seperti fosil hidup, atau seperti mumi petani yang hidup kembali di tengah kebun dan sawah.
Latar ceritanya juga seperti itu. Alam, tumbuhan, gunung, rumah di tengah sawah, parit, dan pohon besar, seakan-akan hanya ada di masa lalu, padahal di sejumlah desa agraris di Tabanan, terutama di lereng-lereng Gunung Batukaru, semua benda itu masih utuh hingga kini. Entahlah nanti-nanti.
Cerita-cerita dari desa agraris semacam itulah yang ada dalam buku kumpulan cerpen berbahasa Bali yang berjudul “Punyan Kayu Ane Masaput Poleng di Tegal Pekak Dompu” karya I Gusti Bagus Weda Sanjaya.
Buku ini adalah pemenang dari Lomba Gerip Maurip 2021 yang digelar Penerbit Pustaka Ekspresi, Bali. Terdapat 13 cerpen yang beberapa di antaranya telah dibuat tahun 2010-an.
“Seluruh cerpen itu berlatar Desa Kawiswara, sebuah desa kecil di kaki Gunung Batukaru. Merupakan penggambaran imajiner desa saya sendiri di lereng selatan Gunung Batukaru di Tabanan,” kata Weda Sanjaya tentang buku cerpennya itu.
Weda Sanjaya, atau biasa ditulis dengan nama IGB Weda Sanjaya, memang berasal dari desa yang masih asri di Tabanan. Di desa itu sawah masih memanjang dan melebar seakan-akan tembus di Gunung Batukaru. Kehidupan warga di desa itu tetap memiliki tipikal kehidupan masyarakat agraris, meski sebagian warga sudah merantau ke kota, tidak bekerja lagi jadi petani, dan hanya sesekali pulang kampung.
“Sebagian besar ide cerita adalah kejadian-kejadian di desa,” lanjut Weda Sanjaya.
Weda Sanjaya pun sebenarnya tak bisa lagi dikatakan sebagai lelaki desa. Ia menjadi guru di SMAN Bali Mandara, Singaraja, dan tinggal di Singaraja. Pergaulannya sangat luas, meski tipikal sebagai warga desa tak bisa ia tinggalkan. Desa sepertinya sangat melekat dalam dirinya, sehingga cerita-cerita yang diciptakan pun tak bisa lepas dari tema desa. Apalagi dibuat dalam bahasa Bali, sungguh, si pembaca seperti sedang berada di sebuah pondok di tengah sawah dengan angin gunung yang merayap di pipi.
Cerpen yang judulnya digunakan sebagai judul buku, yakni “Punyan Kayu Masaput Poleng di Tegal Pekak Dompu” sangat mewakili apa yang hendak disampaikan Weda Sanjaya. Punyan kayu (pohon besar), saput poleng (kain belang hitam-putih), tegalan (kebun), dan nama tokoh Pekak Dompu, dipastikan menyeret pembaca ke sebuah desa masa lalu, meski belum membaca cerpen itu.
Nah, imaji-imaji tentang masa lalu itulah yang kemudian dibenturkan dengan kondisi zaman masa kini, di mana investasi adalah segalanya. Punyan kayu digesek mesin senso dan rebah, saput poleng bisa digantikan spanduk promosi vila, dan kebun berubah petak-petak rumah.
Kata Weda, khusus cerpen Pekak Dompu itu ditulis dalam rangka lomba cerpen Bulan Bahasa Bali 2020. Karena temanya "Ngertiang Natah miwah Tanah Bali", ia mencoba mengangkat isu alih fungsi lahan di Bali. “Semakin banyak berdiri perumahan-perumahan, dan bagaimana gejolak masyarakat Bali di desa menghadapi masuknya investor?” kata Weda.
Cerpen lain juga ada yang bicara soal fenomena yang tak lekang dari zaman dulu hingga zaman kini, yakni perselingkuhan. Misalnya dalam cerpen “Memen Tiange Demen Memitra” (Ibu Saya Suka Selingkuh).
“Saya paling suka cerpen itu,” kata Weda Sanjaya.
Cerpen itu ditulis, kata Weda, karena ia ingin mengantarkan pesan bahwa dalam kasus perselingkuhan, tidak selalu lelaki adalah pelaku dan wanita adalah korban.
Cerpen itu bercerita tentang tokoh anak lelaki yang dari kecil telah mengetahui ibunya sering memitra alias selingkuh. Selingkuhannya dari berbagai profesi, dari tukang sapu di SD, supir bemo, teman kerja buruh bangunan, hingga sosok-sosok dari profesi lain.
Tapi setelah lama akhirnya tak pernah ada info tentang selingkuhan ibunya dan ibunya mulai mendalami kegiatan-kegiatan kerohanian. Namun suatu ketika saat ulang tahun ibunya yang ke-60, dia mendapati ibunya punya selingkuhan lagi.
Akhirnya diberanikan dirinya untuk menanyai ibunya, namun ia tak menemukan alasan yang tepat kenapa ibunya selingkuh. Lelaki itu berbicara pada ayahnya, ternyata ayahnya telah mengetahui sejak lama perselingkuhan itu, dan memilih untuk diam karena mencintai ibunya.
Lelaki itu menjadi galau, tak mungkin bercerita aib ibunya kepada istri dan anaknya. Karena tidak dapat menahan sendiri, akhirnya dia bercerita pada Mang Yulia, selingkuhannya.
Itu akhir cerpen yang benar-benar tak terduga.
Menurut Weda Sanjaya, setelah selesai menulis, ada keraguan untuk menerbitkannya karena takut kelemahan pembaca adalah menganggap cerita sebagai curhatan pengalaman dan kemudian menganggap itu adalah kejadian nyata di keluarga. “Tapi karena sangat senang dengan alur ceritanya, saya bulatkan tekad untuk menerbitkannya,” tuturnya.
Weda Sanjaya menulis sastra pertama kali tahun 2009, saat mendapat kuliah dari Wayan Artika. Sampai semester 6 kuliah di jurusan Bahasa Bali ia belum memiliki pandangan pada bahasa dan sastra Bali. Untuk itulah, akhirnya ia mulai menulis puisi Bali dan dimuat di Bali Post tahun 2009.
Cerpen bahasa Bali pertama kali dimuat 2010. Kemudian 2011 mulai vakum menulis, dan 2016 kembali menulis karena ada media Suara Saking Bali asuhan Putu Supartika.
“Sebagian besar cerpen saya mengangkat tema sosial, sebagai media kritik terhadap kejadian-kejadian di masyarakat,” kata Weda Sanjaya.
Terus berkarya, Gus! [T]
Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...