Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia
FENOMENA menarik sedang terjadi di awal masa pemerintahan baru menuju 2029. Nama Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang baru beberapa bulan menjabat, mendadak mencuri sorotan...
Kegiatan berkesenian tak pernah padam, meski terganjal situasi yang tak menentu akibat pandemi Covid-19. Lihat saja. Perupa Ketut Sugantika Lekung menggelar pameran tunggal secara virtual. Kali ini, Lekung lebih merespon physiological.
Pameran digelar 8 - 19 -Agustus 2021 dan bisa dilihat di laman facebook Sugantika Lekung setiap hari. Author pameran Luh Budiaprilliana, M.Sn., dengan opened by Yoka Sara (art & architechture).

Penulis pameran Luh Budiaprilliana, staf Dosen ISI Denpasar, menyebutkan Lekung sebagai salah satu saksi dan pelakon yang melebur pada tradisi, menyatu melalui budaya lisan, budaya tindakan, bahkan hingga tinggalan-tinggalan kesenian yang berdampingan dalam hidupnya.
Bukan sekadar lagi di panggung untuk bercerita dengan banyak mendefinisi. Sedikit cerita yang dilisankan, namun banyak yang menjadi bentukan dari cerminan diri lewat perjalanan kehidupan itu sendiri.
“Apa yang disampaikan terkesan HANYA ITU/THAT’S IT tanpa persoalan apa-apa yang pada masa kini sering kita sebut UDAH, GITU AJA seakan begitu ringan, remeh, sepele dan tidak banyak ambil pusing namun justru sebuah kalimat jitu dengan simpulan maksud bahwa telah melampaui berbagai seluk beluk cerita dan remah-remahnya,“ ujar Luh Budiaprilliana.
Tidak repot menampilkan objek-objek yang cerewet, kata Luh Budiaprilliana, seperti sedang membuat pernyataan besar “UDAH, GITU AJA”. Sekilas tidak bicara banyak justru bermakna besar seperti ukuran objek yang dibuat memenuhi ruang karya. Banyak cerita yang bebas juga untuk diterka oleh audience, pun ruang luas untuk mengenang masing- masing cerita baik bagi audience maupun si seniman itu sendiri.

Pameran ini mempertegas bahwa “UDAH, GITU AJA” yang dinyatakan sesungguhnya hanya cara Lekung menyampaikan capaian eksplorasinya secara sederhana tanpa banyak kompromi.
Ketut Sugantiuka Lekung menjelaskan satu pukulan pertanda bahwa lewat kesederhanaan visualisasi karya yang minimalis, kesan THAT’S IT pada pameran ini mengandung kompleksitas tentang perjalanan hidup yang dilakoni. “Sederhananya dalam era kini pun, apa yang melebur lewat pengalaman hidup bukan lagi perkara untuk sibuk hanya sekedar dibahas dan dikupas lewat pisau-pisau ilmiah mumpuni,“ kata Lekung.
Sementara Yoka Sara penggiat Seni dan Arsitektur melihat kehadiran penjelajahan Lekung terkesan selalu “Woowww”. Kali ini di luar dari biasa, dimana pada satu titik tertentu dia berani untuk berhenti dan mengambil sari dari penjelajahannya yang tanpa batas, kemudian menyederhanakannya dari semua chaos dalam pikirannya, rasanya seperti pembebasan dari segala pengekangan yang dia abaikan, kemudian disimpulkan secara positif dan playfull, seolah setiap masalah itu bukan masalah.
“Tapi tentunya masing-masing dari kita pastinya akan memperoleh pengalaman dan perspektif yang berbeda bila kita bisa luangkan sejenak waktu kita untuk berada di hadapan karya-karya ini, dimana kita dibebaskan untuk jujur dan seluasnya menafsirkan, “ ujarnya.

FENOMENA menarik sedang terjadi di awal masa pemerintahan baru menuju 2029. Nama Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang baru beberapa bulan menjabat, mendadak mencuri sorotan...
PERNAHKAH Anda mendengar ungkapan “sing ngerambang bangken dongkang”? Secara harfiah berarti “tidak peduli pada bangkai kodok” ─ sebuah metafora yang menggambarkan sikap masa bodo...
(Di tengah panggung digital tempat kita berlomba menampilkan “diri” yang paling otentik, sebuah era baru telah tiba. Kecerdasan Buatan kini berevolusi dari sekadar alat menjadi ag...
JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa berdenyut setiap saat. Namun siapa sang...
KITA sekarang ini hidup di zaman, di mana semuanya harus serba cepat. Internet cepat, makanan cepat, cinta cepat, bahkan karier juga cepat. Dulu orang bercita-cita punya pek...
GERAKAN Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Komisariat FMIPA Universitas Negeri Medan sukses menyelenggarakan kegiatan PA Padang tahun 2025 dengan penuh semangat dan sukacita. Meng...
INSTITUT Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang akan menggelar Gala Teater 2025 pada 10–12 Oktober 2025 di Gedung Program Studi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni In...
WILLIAM James, filsuf sekaligus psikolog terkemuka Amerika, pada tahun 1902 menerbitkan karya monumentalnya The Varieties of Religious Experience. Buku ini lahir dari rangkaian ku...
Efiseinsi anggaran yang digagas pemerintah pusat dirasakan imbasnya oleh banyak instansi, baik pemerintah maupun swasta. Semua kini serba efisien, serba berhemat. Kinerja pegawai...
Bali adalah kisah yang tak pernah usai ditulis. Dari tradisi sampai modern, dari ujung puncak Gunung Agung sampai pantai Kuta, apa yang dikenal sebagai “Nyegara Gunung”. Di satu...