Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri
Sebuah Kejutan dari Harvard Ketika hasil Global Flourishing Study (GFS) dirilis oleh Harvard University pada 2025, dunia dikejutkan oleh satu temuan: Indonesia menempati posisi...
Kegiatan berkesenian tak pernah padam, meski terganjal situasi yang tak menentu akibat pandemi Covid-19. Lihat saja. Perupa Ketut Sugantika Lekung menggelar pameran tunggal secara virtual. Kali ini, Lekung lebih merespon physiological.
Pameran digelar 8 - 19 -Agustus 2021 dan bisa dilihat di laman facebook Sugantika Lekung setiap hari. Author pameran Luh Budiaprilliana, M.Sn., dengan opened by Yoka Sara (art & architechture).

Penulis pameran Luh Budiaprilliana, staf Dosen ISI Denpasar, menyebutkan Lekung sebagai salah satu saksi dan pelakon yang melebur pada tradisi, menyatu melalui budaya lisan, budaya tindakan, bahkan hingga tinggalan-tinggalan kesenian yang berdampingan dalam hidupnya.
Bukan sekadar lagi di panggung untuk bercerita dengan banyak mendefinisi. Sedikit cerita yang dilisankan, namun banyak yang menjadi bentukan dari cerminan diri lewat perjalanan kehidupan itu sendiri.
“Apa yang disampaikan terkesan HANYA ITU/THAT’S IT tanpa persoalan apa-apa yang pada masa kini sering kita sebut UDAH, GITU AJA seakan begitu ringan, remeh, sepele dan tidak banyak ambil pusing namun justru sebuah kalimat jitu dengan simpulan maksud bahwa telah melampaui berbagai seluk beluk cerita dan remah-remahnya,“ ujar Luh Budiaprilliana.
Tidak repot menampilkan objek-objek yang cerewet, kata Luh Budiaprilliana, seperti sedang membuat pernyataan besar “UDAH, GITU AJA”. Sekilas tidak bicara banyak justru bermakna besar seperti ukuran objek yang dibuat memenuhi ruang karya. Banyak cerita yang bebas juga untuk diterka oleh audience, pun ruang luas untuk mengenang masing- masing cerita baik bagi audience maupun si seniman itu sendiri.

Pameran ini mempertegas bahwa “UDAH, GITU AJA” yang dinyatakan sesungguhnya hanya cara Lekung menyampaikan capaian eksplorasinya secara sederhana tanpa banyak kompromi.
Ketut Sugantiuka Lekung menjelaskan satu pukulan pertanda bahwa lewat kesederhanaan visualisasi karya yang minimalis, kesan THAT’S IT pada pameran ini mengandung kompleksitas tentang perjalanan hidup yang dilakoni. “Sederhananya dalam era kini pun, apa yang melebur lewat pengalaman hidup bukan lagi perkara untuk sibuk hanya sekedar dibahas dan dikupas lewat pisau-pisau ilmiah mumpuni,“ kata Lekung.
Sementara Yoka Sara penggiat Seni dan Arsitektur melihat kehadiran penjelajahan Lekung terkesan selalu “Woowww”. Kali ini di luar dari biasa, dimana pada satu titik tertentu dia berani untuk berhenti dan mengambil sari dari penjelajahannya yang tanpa batas, kemudian menyederhanakannya dari semua chaos dalam pikirannya, rasanya seperti pembebasan dari segala pengekangan yang dia abaikan, kemudian disimpulkan secara positif dan playfull, seolah setiap masalah itu bukan masalah.
“Tapi tentunya masing-masing dari kita pastinya akan memperoleh pengalaman dan perspektif yang berbeda bila kita bisa luangkan sejenak waktu kita untuk berada di hadapan karya-karya ini, dimana kita dibebaskan untuk jujur dan seluasnya menafsirkan, “ ujarnya.

Sebuah Kejutan dari Harvard Ketika hasil Global Flourishing Study (GFS) dirilis oleh Harvard University pada 2025, dunia dikejutkan oleh satu temuan: Indonesia menempati posisi...
SUATU malam pada acara arisan di tingkat RT (Rukun Tetangga), seorang tokoh masyarakat memberikan sambutan berupa wejangan atau nasihat kepada para warga. Ia mengingatkan agar war...
SABTU menjelang siang, 18 Oktober 2025, hiruk-pikuk Denpasar berjalan seperti biasa—jalanan yang padat dan udara yang panas. Di lantai 2 Graha Yowana Suci, beberapa orang tampak b...
INI bisa disebut festival unik. Pengunjung ikut diskusi dengan ceria sekaligus memenuhi keingintahuan tentang kondisi ayam petelur yang diternakkan dalam kandang baterai. Tidak se...
DI tengah riuh rendah modernitas Denpasar Timur, denyut sejarah masih terasa kuat dari Pabrik Besi Pande Jegog di Jalan Trenggana, Penatih. Bukan sekadar pabrik, tempat ini adalah...
— Catatan Sugi Lanus, 19 Oktober 2025 Saya sangat menyesal tidak pernah berjumpa denganmu, Timothy. Kenapa? Karena saya adalah kamu ketika seusiamu. Saya membaca Karl Marx....
SATU tahun 365 hari, selama 364 hari ia adalah gadis biasa-biasa saja, sangat biasa bahkan. Lalu satu hari, di hari paling akhir di setiap tahun, ia menjadi tidak biasa-biasa saja...
Aku Sebilah Pelor Wahai raja dirajaKukatakan apa adanyaTidak kukurangi, tak dilebih-lebihkan Bahwa sebilah pelorAmbisiku ingin sekelas penyair tulenBermartabat pelakon sandi...
DALAM sejarah ilmu pengetahuan, ada tokoh-tokoh yang dikenang bukan semata karena penemuan besarnya, melainkan karena kejujuran intelektual dan keberanian moralnya. Salah satu di...
Hari itu—16 Oktober 2025, di saat saya masih meratapi kegagalan Timnas masuk piala dunia, tiba-tiba handphone saya berdering tak karuan. Muncul banyak kabar, dari rekan maupun dar...