Kampusku Sarang Hantu [38]: Sesumbar Tak Percaya Hal Gaib
SETIAP masyarakat memiliki mitos dan cerita mistis. Setiap daerah juga memiliki cerita tentang tempat-tempat yang angker, keramat, gaib, dan mistis. Namun tidak semua orang percay...
Kegiatan berkesenian tak pernah padam, meski terganjal situasi yang tak menentu akibat pandemi Covid-19. Lihat saja. Perupa Ketut Sugantika Lekung menggelar pameran tunggal secara virtual. Kali ini, Lekung lebih merespon physiological.
Pameran digelar 8 - 19 -Agustus 2021 dan bisa dilihat di laman facebook Sugantika Lekung setiap hari. Author pameran Luh Budiaprilliana, M.Sn., dengan opened by Yoka Sara (art & architechture).

Penulis pameran Luh Budiaprilliana, staf Dosen ISI Denpasar, menyebutkan Lekung sebagai salah satu saksi dan pelakon yang melebur pada tradisi, menyatu melalui budaya lisan, budaya tindakan, bahkan hingga tinggalan-tinggalan kesenian yang berdampingan dalam hidupnya.
Bukan sekadar lagi di panggung untuk bercerita dengan banyak mendefinisi. Sedikit cerita yang dilisankan, namun banyak yang menjadi bentukan dari cerminan diri lewat perjalanan kehidupan itu sendiri.
“Apa yang disampaikan terkesan HANYA ITU/THAT’S IT tanpa persoalan apa-apa yang pada masa kini sering kita sebut UDAH, GITU AJA seakan begitu ringan, remeh, sepele dan tidak banyak ambil pusing namun justru sebuah kalimat jitu dengan simpulan maksud bahwa telah melampaui berbagai seluk beluk cerita dan remah-remahnya,“ ujar Luh Budiaprilliana.
Tidak repot menampilkan objek-objek yang cerewet, kata Luh Budiaprilliana, seperti sedang membuat pernyataan besar “UDAH, GITU AJA”. Sekilas tidak bicara banyak justru bermakna besar seperti ukuran objek yang dibuat memenuhi ruang karya. Banyak cerita yang bebas juga untuk diterka oleh audience, pun ruang luas untuk mengenang masing- masing cerita baik bagi audience maupun si seniman itu sendiri.

Pameran ini mempertegas bahwa “UDAH, GITU AJA” yang dinyatakan sesungguhnya hanya cara Lekung menyampaikan capaian eksplorasinya secara sederhana tanpa banyak kompromi.
Ketut Sugantiuka Lekung menjelaskan satu pukulan pertanda bahwa lewat kesederhanaan visualisasi karya yang minimalis, kesan THAT’S IT pada pameran ini mengandung kompleksitas tentang perjalanan hidup yang dilakoni. “Sederhananya dalam era kini pun, apa yang melebur lewat pengalaman hidup bukan lagi perkara untuk sibuk hanya sekedar dibahas dan dikupas lewat pisau-pisau ilmiah mumpuni,“ kata Lekung.
Sementara Yoka Sara penggiat Seni dan Arsitektur melihat kehadiran penjelajahan Lekung terkesan selalu “Woowww”. Kali ini di luar dari biasa, dimana pada satu titik tertentu dia berani untuk berhenti dan mengambil sari dari penjelajahannya yang tanpa batas, kemudian menyederhanakannya dari semua chaos dalam pikirannya, rasanya seperti pembebasan dari segala pengekangan yang dia abaikan, kemudian disimpulkan secara positif dan playfull, seolah setiap masalah itu bukan masalah.
“Tapi tentunya masing-masing dari kita pastinya akan memperoleh pengalaman dan perspektif yang berbeda bila kita bisa luangkan sejenak waktu kita untuk berada di hadapan karya-karya ini, dimana kita dibebaskan untuk jujur dan seluasnya menafsirkan, “ ujarnya.

SETIAP masyarakat memiliki mitos dan cerita mistis. Setiap daerah juga memiliki cerita tentang tempat-tempat yang angker, keramat, gaib, dan mistis. Namun tidak semua orang percay...
PENJURIAN Lomba Baca Puisi Pelajar Tingkat Nasional dalam rangka Festival Nasional Seni Pelajar Jembrana (FNSPJ) IX/2025 untuk semua tingkatan dilaksanakan pada 16-18 Oktober lalu...
Ni Luh Putu Linda Jessica Maharani, dengan percaya diri naik ke atas panggung. Di atas panggung, ia menarik napas sebentar, lalu bersuara. Suaranya lembut, intonasinya tertata....
SUASANA Sasana Budaya Singaraja di Kabupaten Buleleng sore itu terasa begitu hidup. Puluhan mahasiswa, dan dosen, tampak larut dalam dialog hangat seputar dunia tari. Mereka hadir...
Utsawa Dharma Gita (UDG) XXXII Tahun 2025 resmi ditutup oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Gede Arya Sugiartha, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Ra...
WAKTU begitu cepat menunjukkan pukul tiga sore kala itu. Suasana di Sasana Budaya, 25 Oktober 2025, terasa sedikit tegang dan serius di awal. Mahasiswa dari Universitas PGRI Mahad...
“Healing dulu deh!” Kalimat yang rasanya sudah cukup sering terdengar di kalangan anak muda. Entah diucapkan setelah seminggu penuh kerja, setelah nugas yang bikin pusing, atau ke...
SIANG itu, 25 Oktober 2025, langit di atas Gedung Sasana Budaya, Singaraja, di Kabupaten Buleleng, diselimuti mendung. Seolah alam ikut merayakan kedalaman seni Bali Utara. Cua...
SEJUMLAH seniman di Desa Demulih, Bangli, punya tekad kuat menghidupkan seni pertunjukan wayang wong di desa itu. Tekad mereka menular mulai dari anak-anak SD hingga seniman-senim...
Di Balik Dinding Tua Oxford Di sebuah ruangan tenang di Clarendon Laboratory, Oxford University, berdiri sebuah kotak kaca sederhana. Di dalamnya, dua tabung logam tegak ber...