Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
“Selamat malam cinta. Ke mana saja kau selama ini?” Perempuan yang baru saja memasuki mahligai cintanya mempertanyakan cintanya. Ia merasa kurang percaya diri karena baru seumur jagung pernikahannya sudah ada tanda-tanda merah. Ia tak menduga beragam kehidupan ternyata baru dimulai. Padahal, sudah sedari dulu saling menegenal. Ternyata yang dikenalinya cuma kulit luarnya saja. “Ke mana cinta selama ini?” Ia menanyai dirinya sendiri.
Ia rebahkan tubuhnya pada balai-balai kehidupan. Hatinya gelisah sudah beberapa hari ini suaminya jarang di rumah. Semestinya saat ini masih berbau bulan madu. Tapi justru menjadi bulan tanpa madu. Tanpa rasa manis. “Ah, kau lelaki yang hanya pintar bersilat lidah. Rugi aku terlalu percaya pada kata-katamu. Kata-kata hanya sebuah permainan saja. Kau dengan sesuka hatimu memperlakukan diriku seperti ini. Kau hadirkan dalam keluarga besarmu, tapi kau buat aku kesepian. Dasar lelaki!”
“Ke mana kata-kata manis yang kau lontarkan dulu? Ke mana? Apa kau sudah lupa dengan kata-kata manis itu? Lupa memang membuat pikiran mengubah jalannya. Aku tahu itu. Tapi, aku sekarang ini meminta janji. Tolong ditepati.”
Putu Ari menahan beban yang teramat berat. Napasnya ditariknya berulang-ulang seperti ada gumpalan yang menyekat dadanya. Ia tahan dengan beberapa kali tarikan napas. “Apa sebenarnya yang kau cari dalam hidup ini? Kalau memang mau mempermainkan cintaku, akan kulawan. Aku bukan perempuan yang bisa ditaklukkan dengan ketidakjujuran. Untuk apa hidup bersama? Kalau di dalamnya bersemayan beragam kebohongan. Laki-laki macam apa kau ini.” Ia membanting foto pernikahannya “Praaaaaaaaaang!”
Mertuanya kaget. Ia ketuk pintu kamarnya. “Ada apa Tu?”
“Tanyakan pada anakmu! Putu sudah muak melihat sikapnya. Ternyata anak Bapa seperti ini.”
Laki-laki sepuh itu mendekatinya, “Sabar! Sabar! Sabaaaaaaaar Tu.”
“Pa, tiang sudah teramat sabar dengan anak Bapa. Tapi, apa tiang terus begini. Ini baru awal pernikahan saja sudah begini, apalagi nanti. Semestinya awal dimulai dengan rasa manis, tapi nyatanya? Awal sudah pahit dan memuakkan. Dasar laki-laki mau menang sendiri. Memang dia saja yang bisa berlaku seperti itu. Tiang pulang, Pa. Bosan saya di sini. Untuk apa menunggu laki-laki semacam ini.”
Putu Ari mengambil pakaiannya dan memasukkan ke dalam kopernya. Ia lemparkan gaun pengantin yang dipakainya beberapa bulan lalu. “Ini Pa. Ambil sana. Berikan anakmu.percuma memakai gaun semewah itu. Hati anakmu tak menghargainya.”
“Apa tidak bisa bisa besok Putu ke rumah orang tuamu?”
“Tidak untuk apa menunggu lama lagi. Coba Bapa pikrkan, siapa yang tiang tunggu di sini?”
Ia hidupkan sepeda motornya. Sepeda motor pemberian orang tuanya. Ia mainkan bunyinya hingga tetangga sebelahnya menggerutu. “Ada apa sebenarnya ini? Baru menikah saja sudah mengganggu tetangga. Ah dasar payah, anak-anak sekarang memang cepat naik darah. Sudahlah untuk apa memikirkan orang lain terlalu banyak. Toh, aku juga punya tangung jawab.”
Putu Ari mempercepat sepeda motornya. Ia langsung menuju rumah ayahnya. “Tu, kok malam-malam ke rumah ada apa? Ini tidak baik? Suamimu di mana?”
“Pa, ini lebih baik dibandingkan tiang tetap bersama Beli Gede. Ia telah mempermainkan hidup tiang, Pa. Sudah tiga hari ini, tak pulang-pulang. Coba Bapa pikir, memang pernikahan itu hanya pajangan saja? Siapa yang tidak marah, entah apa yang dialakukan dengan siapa ia pergi tak pernah jelas? Lebih baik, tiang kembali lagi ke rumah Bapa. Maaf, anak Bapa tak berbuat seperti yang Bapa harapkan.”
Ayahnya menatap mata anaknya. Ia terlalu yakin akan dengan pilihan anaknya. Bahkan sudah beberapa tahun saling mengenal. Tapi, nyatanya tak ada apa-apanya. Ia teringat sempat berpesan pada anak dan menantunya. “Menikah itu menyatukan dua hati. Menikah bukan tempat bermain-main, apalagi bermain api. Bisa-bisa terbakar karena api yang kau buat sendiri. Seorang suami bukan hanya kepala rumah tangga, ia juga menyangga kehidupan istrinya. Jadilah suami yang menyadari bahwa istri itu adalah bagian dari hidupmu. Jadilah suami yang membangun kehidupan keluarga.”
“Terima kasih, Pa. Putu belum sempat memberikan apapun? Lantas sekarang sudah meninggalkan Bapa. Maafkan Putu, Pa.
“Hanya satu yang bapa harapkan peganglah kesetiaan berumah tangga itu. Bangunlah rumah tanggamu dengan cinta. Rawat dan sirami dia dengan kejujuran. Menyatukan dua hati perlu proses. Akan ada riak-riak gelombang, hadapi dengan ketulusan.”
“Sudahlah Pa. Putu tahu, Bapa teringat dengan petuah-petuah Bapa. Biarkan saja. Ini semua bukan karena Putu. Biar orang lain memberi lebel Putu ini janda muda. Tidak masalah. Biar bayi dalam perut ini tanpa ayah, tidak apa-apa. Putu ingin hidup nyaman. Menikah itu ternyata menyakitkan buatku. Jika Putu tahu akan begini, tak akan kubiarkan semua ini terjadi. Putu memang salah memilih pendamping hidup, Pa. Mulut manis bisa membutakan hati.”
“Tidur saja dulu, besok, Bapa tanyakan apa maksudnya memperlakukan Putu seperti ini?”
“Ndak usah ke sana Pa. Biarkan saja. Jangan Bapa menyentuh rumah itu lagi. Putu sudah muak.”
“Baiklah kalau begitu. Silakan ke kamarmu. Kamarmu tak ada yang berubah.”
Iseng tangannya membuka album lamanya. Ia ambil foto itu. Ia robek-robek hingga tak berwujud lagi. “Ini sudah kuhancurkan kenangan itu. Pergi kau dari hatiku. Biar aku menghadapi hidupku.”
Malam itu, Putu Ari tak bisa tidur nyenyak. Panas hatinya berbaur dengan panas malam itu. Kantuk tak mau mendekati matanya. Bayangan wajah ibunya hadir di hatinya. “Ibu, jika saja Putu mengikuti kata-kata Ibu, pasti tak akan begini jadinya. Ternyata hati nurani Ibu benar, Beli Gede laki-laki yang tak bisa dipercaya. Maafkan Putu, Ibu.”
“Sudahlah Tu, itu memang jalanmu. Ikuti saja. Ibu hanya bisa melihatmu dari sini. Tak usah bersedih. Jagalah dirimu karena godaan dan gunjingan pasti akan datang karena Putu sebagai janda muda. Tapi itu lebih baik dibandingkan Putu menderita selama hidup Putu.”
“Terima kasih, Bu.”
Mentari membangunkannya. Sinarnya merambat di sela-sela taman rumahnya. Putu Ari mendekati ayahnya, “Maaf Pa. Putu seperti ini. Malu Putu sama Bapa.”
“Ndak usah malu. Ikuti saja alur hidup ini. Tapi, biasanya kalau dulu ada kopi di sini?”
Putu Ari cepat-cepat menyuguhkan kopi buat ayahnya. Ia merasakan kembali aroma kasih sayang ayahnya. “Ini, Pa, sudah sesuai dengan pesanan Bapa. Hehehehe.”
"Terima kasih. Coba ke depan Tu seperti ada yang datang.”
Putu Ari ke depan melihat gerbangnya. Ia kaget. Dua orang polisi ke rumahnya menanyakan dirinya. “Benar ini Bu Putu Ari?”
“Benar Pak. Ada apa?”
“Ini ada ada surat dari suami ibu.”
“Suami saya, Pak. Saya sudah tak punya suami. Ia sudah mati di hati saya.”
“Saya hanya mau menyampaikan bahwa suami ibu ada di kantor polisi sedari malam kemarin. Ibu disuruh menjenguknya.” [T]
___
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...