17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Pandemi yang mulai terjadi di awal tahun 2020 diharapkan akan cepat selesai. Walaupun demikian, pandemi masih berjalan hingga tahun 2021 dengan kemunculan berbagai varian baru; terlihat beberapa kali lonjakan angka kesakitan dan kematian; kabar meninggal yang awalnya bersumber dari orang yang tidak dikenal makin mendekat ke orang – orang yang dikenal, dan bahkan, keluarga sendiri.
Cuaca tidak selamanya cerah. Sesekali angin kencang datang. Bahkan, badai pun kadang datang. Angin kencang dan badai juga merupakan entitas yang tidak kekal dan akan pergi. Suatu saat, cuaca akan cerah kembali. Tetapi, bagaimana jika orang-orang yang berharap badai pergi juga ikut berlalu bersama badai? Bagaimana jika orang-orang tidak sempat melihat cuaca yang akhirnya cerah kembali? Misalkan saja, pada akhirnya, pandemi menyebabkan orang-orang terdekat meninggal dan membuat luka mental yang mendalam terhadap orang-orang yang ditinggalkan. Atau, bisa jadi, kitalah yang akhirnya berlalu dan hilang bersama pandemi.
Kedukaan akibat orang-orang terdekat yang pergi bersama pandemi nyatanya memang meninggalkan luka yang mendalam. Secara normal, rasa kehilangan tersebut akan sembuh kurang dari enam bulan: berganti dengan keiklasan. Tetapi, pada beberapa orang, luka tidak hilang dan berubah bentuk menjadi gangguan kejiwaan yang lama, bahkan permanen. Kedukaan akan semakin kuat saat hubungan dengan orang yang meninggal semakin dekat. Sadar atau tidak, kelekatan dengan suatu hal akan membuat luka yang mendalam saat objek kelekatan tersebut pergi. Semakin melekat akan membuat seseorang semakin berduka.
Proses dari kehilangan adalah hal yang wajar terjadi dan terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan hal tersebut. Dua di antaranya akan dijabarkan pada tulisan berikut ini: teori Catherine Sander dan Kubler – Ross.
Sander menyatakan bahwa proses kehilangan terdiri dari beberapa tahap: “shock”, di mana seseorang merasa tidak percaya, bingung, gelisah, dan secara psikologis mengambil jarak terhadap kenyataan yang ada; lalu mulai menyadari kondisi kehilangan, di mana konflik emosional yang berbentuk rasa marah, bersalah, ataupun menyalahkan segala hal di luar dirinya terjadi; kemudian menarik diri dari lingkungan, merasa lelah, dan adanya kesedihan yang besar–fase ini mirip dengan depresi; beranjak ke masa penyembuhan, di mana seseorang mulai mengambil kendali terhadap respons dirinya dalam menanggapi kenyataan; dan terakhir, terlahir kembali menjadi “manusia baru” yang sudah dapat membangun kesadaran diri dalam menerima realita sebagaimana adanya.
Mirip dengan pernyataan dari Sander, Kubler – Ross menyebutkan bahwa proses penerimaan akan sebuah kehilangan bermula dari penyangkalan terhadap realita; dilanjutkan dengan rasa marah yang muncul akibat kenyataan yang tidak sesuai harapan; beranjak ke berbagai percobaan untuk menawar realita yang menggelinding apa adanya; kemudian terjadi depresi akibat menyadari bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah realita; dan terakhir, menerima dengan iklas atas segala realita yang nyatanya tidak bisa diubah. Secara normal, semua proses tersebut akan berjalan sampai ke tahap akhir: penerimaan. Walaupun demikian, tidak jarang pertumbuhan menuju penerimaan tersebut maju – mundur–bahkan stagnan–sehingga hasil akhir yang sempurna terasa jauh panggang dari api.
Lalu, apakah yang dapat dilakukan agar proses penerimaan akan sebuah kehilangan dapat berakhir dengan baik dan sempurna?
Tidak ada jawaban absolut untuk pertanyaan tersebut. Hal tersebut karena manusia memiliki keunikannya yang sangat khas sehingga tidak ada satu pun metodologi yang dapat dipakai secara absolut pada semua manusia. Walaupun demikian, terdapat beberapa cara yang mungkin bisa dicoba: memandang dari sisi orang yang meninggalkan dan memaklumi bahwa tidak ada yang kekal.
Meninggal adalah hal yang pasti; yang tidak pasti adalah waktu untuk meninggal. Jika bukan kerabat terdekat yang lebih dahulu meninggal, bisa saja, kitalah yang meninggal terlebih dahulu. Semua hanya masalah waktu dan orang terdekat yang ditinggalkan -- siapapun itu -- pasti akan merasa sedih. Kemudian, bagaimana jika kita berada pada posisi orang yang meninggal. Saat itu terjadi, tentu saja posisi kesedihan akibat ditinggalkan akan digantikan oleh kerabat dekat yang masih hidup. Kemudian, jika kita benar-benar menyayangi kerabat terdekat tersebut, apakah kita rela jika orang terdekat tersebut yang pada akhirnya menggantikan diri kita untuk bersedih? Sebenarnya, posisi bersedih karena ditinggalkan -- dari sisi ini -- sejatinya merupakan posisi berkorban. Dari sisi ini pula, tanggungan beban kesedihan yang menimpa bukanlah tanpa alasan. Orang yang ditinggalkan -- dan akhirnya merasa sedih -- sebenarnya memang mampu untuk menanggung beban kesedihan tersebut.
Cara lain yang dapat digunakan adalah mulai beranjak dari kesadaran bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Sama seperti badai, segala hal yang pernah dilahirkan pada akhirnya akan mati. Semua hanya masalah waktu. Waktu juga tidak akan menunggu manusia untuk siap menerima kondisi yang menghampirinya. Realita pada dasarnya muncul apa adanya dan intervensi manusia hanya sebatas memperkecil ataupun memperbesar kemungkinan dan bukan mengubah hasil akhir secara total.
Berhubungan dengan sifat alami dari realita, terdapat tiga jenis hak manusia atas pengendalian terhadap sebuah kondisi: tidak dapat dikendalikan sama sekali; dikendalikan sebagian dengan cara memodulasi realita di saat ini; ataupun dikendalikan sepenuhnya oleh manusia. Contoh dari hal yang tidak dapat dikendalikan sama sekali adalah kematian. Sedangkan hal yang sebagian dapat dikendalikan adalah kesehatan. Saat upaya untuk mengendalikan sebagian hal yang dapat dikendalikan -- seperti kesehatan -- sudah mencapai titik jenuh, maka kondisi di mana kendali sama sekali tidak dapat dilakukan -- seperti kematian -- akan terjadi. Terlepas dari realita tersebut, manusia tetap memiliki kendali penuh yang terakhir: mengendalikan respons diri terhadap realita yang hadir apa adanya. Mengetahui bahwa sumber kedukaan berawal dari kelekatan terhadap sesuatu yang tidak kekal adalah kunci awal dari pengendalian respons tersebut. Faktanya, tidak ada satu hal pun yang kekal di dunia ini. Mengetahui bahwa kelekatan terhadap segala hal–yang pada dasarnya tidak ada satu pun hal di dunia ini yang kekal -- merupakan sumber masalah dapat menjadi langkah selanjutnya dalam mengubah respons terhadap realita.
Mengetahui saja sebenarnya tidak cukup. Sejak kecil, sejatinya manusia sudah diperkenalkan dengan ketidakkekalan oleh orang tua. Lahir, besar, tua, kemudian mati adalah contoh hal sederhana yang diajarkan sejak kecil. Walaupun demikian, kebanyakan manusia hanya akan memaklumi saat ketidakkekalan terjadi pada orang lain dan tidak rela saat perubahan menghampiri dirinya sendiri. Oleh karena itu, perlu pemahaman yang berujung pada keiklasan untuk menjadikan ketidakkekalan sebagai bagian dari diri sendiri. Saat keiklasan muncul, respons yang baik terhadap realita akan hadir dan membawa manusia ke proses akhir dari kehilangan: penerimaan yang paripurna. [T]
BACA JUGA:

MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...