Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
Cuaca sedang panas-panasnya. Saya berjalan menyusuri sebuah gang di sebelah timur Kantor Perbekel Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng. Angin sepoi-sepoi meredakan panas, membuat tubuh tak terasa lelah.
Apalagi, angin sepoi itu mendesir perlahan, menerbangkan aroma khas yang jarang tercium di tempat lain. Itu aroma yang berasal dari pemanggangan sudang lepet. Aroma itu masuk ke sela-sela hidung, baunya menuntun derap langkah kaki saya menuju rumah sederhana di pemukiman padat penduduk di Banjar Beji, Desa Sangsit.
Semakin berjalan, aroma semakin kuat, terlihat juga dari kejauhan asap membumbung tinggi. Akhirnya kaki sampai di halaman rumah Made Suarti. Saya datang memang untuk memesan sudang lepet sebagai cadangan lauk di masa pandemi.
Made Suarti, sosok perempuan paruh baya yang sangat tangguh dan ramah. Di tengah kesibukannya menjadi ibu rumah tangga dengan delapan anak, tak menyurutkan semangatnya dalam mengembangkan usaha sudang lepet yang sudah dirintisnya dari tahun 2001.
Sudah lepet adalah ikan asin khas Buleleng. Cara membuatnya pun cukup unik, dan harus dilakukan dengan ketekunan dan kesabaran.
Saya perhatikan, Made Suarti terlihat bergulat dengan pekerjaannya, dengan keramahannya dia meminta saya untuk duduk dan menunggu sejenak. Saya duduk dan memperhatikan bagaimana ibu itu bekerja. Saya seperti menonton sebuah teater kehidupan. Kehidupan yang sederhana dan kuat.
Dalam kesehariannya bekerja, Suarti dibantu oleh anak-anaknya. Mereka menyelesaikan tahapan demi tahapan pekerjaan. Ia bekerja selama 5 jam. Dari jam 12 siang sampai jam 5 sore.
Tok, tok, tok! Itu suara yang keluar dari logam yang menyerupai golok digunakannya untuk memipihkan sudang yang baru selesai disangrai di bara, di tungku pemanggangan kecil.
“Tahapan untuk membuat sudang lepet memerlukan waktu lumayan lama,” kata Made Suarti.
Prosesnya dimulai dari pembersihan, lalu perendaman, itu biasanya memakan waktu dari 30 menit hingga 3 jam. Tergantung juga jenis ikan yang digunakan. Setelah pembersihan dan perendaman, ikan itu akan disangrai, untuk selanjutnya dipipihkan dengan alat pemipih yang dari logam yang seperti golok itu. Setelah semua sudah beres, pekerjaan dilanjutkan dengan pemanggangan, hingga akhirnya pengemasan.


Berapa keping sudang yang Made Suarti bisa selesaikan dalam sehari? “Awai paling ngidaang meragatang 35 bungkus,” katanya. Dalam sehari dia hanya bisa menyelesaikan 35 bungkus.
Setiap bungkus dia biasanya menjual dengan harga Rp.10.000. Dan itu bukan penghasilan tetap, karena usahanya ini terkadang mengalami pasang surut, tergantung tersedianya bahan.
Bahan baku ikan untuk sudang lepet itu aslinya datang dari daerah Madura, tepatnya di Pulau Sepeken. Biasanya dia mendapatkan bahan baku langsung dari Pelabuhan Dermaga Sangsit. Di dermaga itu umumnya berlabuh perahu-perahu besar yang membawa barang-barang dari pulau seberang. Made Suarti tidak hanya memproduksi sudang, dia juga memproduksi kerupuk kulit ikan dan abon sudang.
Dalam pemasarannya dia dibantu oleh anak laki-lakinya, Ketut Sudiarsana. Lelaki ini sedang mengenyam pendidikan S1 di Universitas Mahasaraswati, Denpasar dan mengambil jurusan management. Saat ini dia hanya mengikuti pelajaran via daring, oleh sebab itu seperti sebelumnya dia kembali turut serta membantu menjualkan produk sudang yang dihasilkan oleh ibunya.
“Mumpung saya sekolah management, jadi saya manfaatkan kesempatan ini untuk langsung kuliah kerja nyata dengan membantu memasarkan produk sudang dari rumah ke rumah,” kata Sudiarsana.

Sudiarsana mengatakan, pemasaran sudang ibunya sudah merambah sampai ke Jakarta. Hanya saja karena pandemi, permintaan semakin menurun, dan saat ini dia hanya fokus menggarap pasar lokal dengan langsung menjajakan ke rumah-rumah masyarakat serta melalui sosial medianya.
Saya menyimak apa yang disampaikan, dan sejenak berpikir tentang konsep Kampus Merdeka, kebijakan yang lahir dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan tujuan untuk mendorong atau menstimulasi mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki dunia kerja nantinya, tak terkecuali mahasiswa ilmu ekonomi yang menjadi fokus pendidikan Ketut Sudiarsana saat ini.
Apalagi, menurut Sudiarsana, omzet saat ini yang dia terima setiap harinya mencapai sekitar Rp. 300.000. Sebagian keuntungan dia gunakan untuk menutupi kebutuhan quota internet bulanan yang mencapai 350.000 setiap bulannya.
Kebijakan perkuliahan daring, kata dia, mau tidak mau, kuota harus diisi terus. Kalau tidak, dia akan ketinggalan mata kuliah. Situasi yang suka tidak suka harus dihadapi, mengingat kegiatan belajar mengajar secara tatap muka belum bisa terlaksana.
Setelah bercerita cukup lama, akhirnya Made Suarti datang memberikan beberapa paket sudang yang saya pesan, dan akhirnya saya memutuskan untuk pamit pulang. Di rumah, sudang lepet yang pipih itu saya santap bersama istri. Ehmm, gurih! [T]
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....