Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Masyarakat kita bisa jadi sudah capai dan bosan ketika membicarakan pandemi Covid-19 yang terjadi sejak 1,5 tahun lalu. Namun, masih banyak debat dan perang komentar di media sosial yang tidak menambah baik situasi tetapi kadang justru memicu kekisruhan yang lebih buruk.
Mengutip keterangan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia di laman resminya, hasil swaperiksa mengatakan bahwa 67% penduduk Indonesia saat pendemi mengalami gejala kecemasan. Angka yang kurang lebih serupa juga didapatkan untuk gejala depresi.
Saya tidak sedang membahas apa yang menyebabkan hal itu, tetapi hal-hal yang memperburuk dan berhubungan dengan ini adalah apa yang kita namai filter mental, yaitu cara berpikir yang memfilter informasi yang kita baca, hanya yang sesuai dengan keinginan dan perasaan kita.
Misalnya, bagi orang-orang yang membutuhkan ketenangan, maka dia hanya memfilter pendapat-pendapat atau pandangan-pandangan yang mengatakan Covid-19 sesungguhnya tidak ada, tidak berbahaya dan kita justru harus berjuang menuntut kepada pemerintah bahwa saat ini harus sudah berlaku normal.
Bagi sebagian orang yang lain, justru memfilter mentalnya terutama yang sedang cemas, makin menguatkan dirinya bahwa situasi sekarang ini sangat parah, luar biasa, dan kita memang harus melakukan tindakan-tindakan ekstrim dalam kehidupan kita. Bahwa kita sama sekali tak perlu keluar rumah, bahwa sebentar lagi kita akan mati dan sebagainya. Tentu hal-hal itu juga tidak baik. Jadi kita memfilter informasi yang kita baca dan kita percayai hanyalah yang sesuai dengan perasaan kita.
Maka, saya tidak heran saat melihat banyak komentar-komentar orang yang keliru, misalnya menanggapi perihal PPKM yang sejak diadakan angka positif Covid-19 meningkat. Padahal, jika kita tahu dan cermati, informasi yang benar, justru PPKM diberlakukan karena angka postif Covid-19 meningkat dan dampak dari pendisipinan serrta pengetatan ini baru terasa ketika dua minggu sejak diberlakukan.
Kemudian ada lagi pendapat, perihal Singapura sudah memperlakukan Covid-19 sebagai flu biasa, tanpa kemudian memandang bahwa indikator kesehatan di sana berbeda. Dan itu pun mereka belum melakukan hal itu, baru hanya wacana, dan kita ingin Indonesia melakukan hal serupa.
Contoh lain, ketika menonton Piala Eropa bagaimana suporter di sana sudah tanpa masker, sudah berkerumun dan sebagainya tanpa kemudian mencari latar belakang bagaimana keadaan di sana yang bahkan setelah Piala Eropa pun justru terjadi peningkatan Covid-19. Jadi, otak kita memang penuh misteri dia hanya seringkali mencari hal-hal yang senada dengan apa yang dia inginkan.
Itulah mengapa banyak orang saat membaca artikel atau berita terpaku hanya pada judul artikel tapi tanpa mau membaca isinya. Kalau pun membaca isinya hanya sebagian-sebagian yang sesuai dengan apa yang dia pikirkan.
Lalu apa bahayanya filter mental ini? Sama, jadi ketika kita memfilter hanya berita-berita yang buruk yang terjadi sesuai dengan apa yang kita pikirkan, maka kita akan menjadi cemas berlebihan. Sebaliknya, jika kita memfilter berita-berita yang ekstrim baik, yang membuat kita abai, itu juga membuat resiko yang lebih besar mengalami depresi. Mengapa demikian? Karena itu adalah mekanisme untuk menghilangkan kecemasan dan membuat kewaspadaan kita menurun.
Saya sering menangani klien yang seperti ini, datang berkonsultasi dan mengalami gejala depresi. Setelah diperiksa, ternyata keluarga dekatnya terinfeksi Covid-19, kritis, bahkan ada yang meninggal. Setelah melihat hal tersebut, barulah kita tersadar: ternyata hal itu di luar pemikiran kita sebelumnya, dan gejala depresi terjadi ketika harapan tidak sesuai kenyataan.
Jadi, ada baiknya kita memahami apakah kita saat ini sedang mengalami filter mental? Jika ya, ada baiknya kita menjernihkan pandangan dan pemikiran kita, membaca artikel atau berita dan sumber informasi seutuhnya, mencari di mana sumbernya, dan mempertimbangkannya baik-baik.
Memang sulit untuk berpikir dan berada di tengah-tengah; waspada tanpa terlalu cemas, tetap optimis tanpa perlu terlalu cuek. Hal-hal tersebut bisa kita latih. Kita saat ini berada di masa yang sulit, bahkan lebih sulit jika dibandingkan setahun lalu. Kita perlu ketika kita merasa usaha kita sudah maksimal dalam diri kita, akhirnya sebagai manusia biasa yang bisa kita lakukan adalah pasrah.
Sering saya berkelakar bahkan membuat puisi tentang hal itu; andaikan alam ini punya akun media sosial mungkin saja dia bisa stalking akun kita dan mungkin saja dia bisa memilih; memberikan kekuatan bagi orang-orang yang selama ini berjuang; memberikan peringatan bagi orang-orang yang selama ini abai; memberikan pertanda bagi orang-orang yang selama ini tidak percaya dan memberikan kekuatan dan harapan bagi orang-orang yang selama ini taat.
Saya percaya, alam bekerja dengan sendirinya, kita hanya perlu berusaha dalam hal-hal yang ada dalam kendali kita Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan mantap jiwa. [T]
____
BACA JUMANJI LAIN DARI DOKTER RAI
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...